iden

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK – Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muria Kudus (UMK) akan melaksanakan uji kemahiran berbahasa Indonesia (UKBI). Kegiatan tersebut bekerjasama dengan Balai Bahasa Jawa Tengah.

Dosen PBSI FKIP UMK Ristiyani, M. Pd mengatakan, banyak manfaat yang didapatkan dari UKBI. Karena beberapa persyaratan juga membutuhkan sertifikat lulus dalam UKBI, seperti ketika ingin menjadi pengajar Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA). ”Saat seleksi pengajar BIPA, butuh UKBI,” katanya kemarin.

Selain itu, dengan adanya UKBI juga sebagai bentuk pengembangan, pembinaan, dan perlindungan Bahasa Indonesia. Sehingga dengan UKBI bisa melihat kemampuan dalam berbahasa dengan baik dan benar.

Selanjutnya, tujuan UKBI sebagai saranan untuk mengukur kemahiran berbahasa Indonesia untuk warga negara Indonesia maupun warga negara asing. Tak hanya itu, UKBI ternyata juga menajdi salah satu syarat dalammengikuti kompetisi pemilihan duta wisata, pemilihan duta bahasa, pemilihan duta mahasiswa dan lainnya.

Sementara untuk mahasiswa, UKBI bisa dijadikan sebagai salahs atu prestasi yang dapat dimuat di surat keteranganpendampig ijazah (SKPI). ”Bisa dikatakan penyelenggaraan UKBI di UMK adalah satu-satunya di pantura timur,” terangnya.

Untuk pesertanya hanya dibatasi 100 orang saja, karena memang butuh proses penilaian. Untuk yang berminat mengikuti UKBI, pihaknya membuka pendaftaran hingga 8 April 2019. ”Silahkan datang ke ruang dosen PBSI di Gedung L1 FKIP UMK jika ingin mendaftar,” imbuhnya.(linfokom)

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK – Mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) Linda Novidana mendapatkan gold award dari Universitas Teknologi Mara, Malaysia. Linda diberikan penghargaan tersebut setelah menemukan alat yang dinamakan Information Accident Vihicle (Inacle) System.

Ide pembuatan Inacle System muncul saat dirinya minum kopi di kota tempat dia melaksanakan praktek kerja lapangan (PKL) di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Malang. Saat itu dirinya bersama teman lain dari salah satu universitas di Kota Malang menikmati kopi usai beraktivitas.

Saat itu, ada sebuah kecelakaan yang berada di dekat lokasi minum kopinya, suaranya terdengar sampai ke tempat mereka duduk. Ternyata yang kecelakaan tidak membawa identitas, tentunya bingung akan menghubungi siapa. ”Dari situ muncul celetukan, ‘kasihan ya orang tuanya jadi ga tahu’,” katanya.

Dari situlah, dirinya memunculkan ide bagaimana jika membuat alat yang bisa dipasang dikendaraan dan akan mengirimkan pesan secara otomatis ke orang tua, rumah sakit atau lainnya ketika terjadi kecelakaan.

Akhirnya berbekal kejadian tersebut, dia bersama lima orang dari salahs atu universitas di Kota Malang membuat alat tersebut. Akhirnya muncul satu kelompok dan ikut dalam sebuah lomba internasional di Universitas Teknologi Maraa, Malaysia. ”kebetulan ada lomba itu, akhirnya kami putuskan ikut sebagai tim,” terangnya.

Untuk membuat alat tersebut sebenarnya cukup mudah, hanya butuhs ekitar satu bulan sampai dia dan tim bisa membuatnya. Karena alat utamanya sudah diproduksi, hanya butuh tiga komponen penting untuk membuat alat tersebut.

Tiga alat utama yakni arduino, arduino adalah sebuah hardware yang memiliki IC program yang telah di tanam boatloader Arduino. IC program ini lah yang akan mengontrol semua aktifitas dalam system control yang di desain. Baik Pembacaan sensor, Input output, komunikasi data antar arduino dengan perangkat lain, mengendalikan motor, stepper, servo dan lain lain.

Selanjutnya ada modul sim yang digunakan untuk mengirimkan pesan ke nomor yang diinput. Pengiriman pesan menggunakan short message servis (SMS) karena lebih cepat tanpa delay. “Karena pesan ini harus tersampaikan cepat, kami pilih SMS, bukan via aplikasi chat yang saat ini banyak digunakan,” ujarnya.

Komponen penting ketiga yakni Global Positioning System (GPS) yang berguna untuk menentukan lokasi. Sehingga pesan yang dikirim tidak hanya nomor kendaraan yang terjadi kecelakaan, melainkan juga lokasi terjadinya kecelakaan. Sehingga akan lebih mudah ketika memang dibutuhkan pertolongan ketika kondisi emergency.

Menurutnya, alat tersebut sebenarnya sangat sederhana, semua komponen sudah ada. Memang yang mahal adalah idenya, sehingga untuk mendapatkan ide butuh kejelian. ”Saya sendiri jurusan Sistem Informasi, dalam tim ada dari jurusan mesin, elektro dan lainnya, sehingga tim ini digabungkan,” imbuhnya.

Untuk pembuatannya, dirinya menghabiskan biaya sekitar Rp. 2.000.000, karena untuk membuat tidak bisa sekali jadi. Karena ada beberpa akendala, terutama aliran daya ke modul sim yang harus tepat, tdiak boleh terlalu besar atau kecil. Akhirnya ditambah penghambat daya agar daya yang amsuk bsia pas dan alat berfungsi.

Setelah jadi, dirinya menghitung hanya butuh Rp 266.000 untuk membuat satu alat Inacle System tersebut. Dirinya dan tim pun sudah menawarkan ke beberapa perusahaan, terutama motor untuk menggunakan alat tersebut. ”Sudah kami tawarkan, untuk hak cipta belum diurus,” imbuhnya.

Dengan prestasinya tersebut, dirinya semakin termotivasi untuk mengikuti lomba-lomba yang lain, baik di luar negeri maupun dalam negeri. ”Jika melihat tim lain yang ikut lomba, sebenarnya kemampuan kita itu sama, bahkan bisa dikatakan lebih baik, tergantung kitanya saja mau apa tidak,” ungkapnya.(linfokom)

 

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

UMK – Universitas Muria Kudus (UMK) menambah kerjasama dengan universitas luar negeri, kali ini kerjasama dengan universitas di Korea Selatan, Yakni Daegu Catholic University (DCU). Kerjasama yang dilakukan bertujuan untuk meningkatkan pendidikan.

Rektor DCU Dr. Jung-Woo Kim mengatakan, kerjasama yang dilakukan dengan UMK merupakan kerjasama yang cukup baik. Karena akan bermanfaat bagi pengembangan pendidikan. ”Saya sangat bangga dengan adanya kerjasama ini,” katanya pada 29 Maret 2019.

Dengan kerjasama tersebut, diharapkan mampu untuk meningkatkan kompetensi lulusan. Selain itu juga untuk meningkatkan pendidikan, baik di Korea Selatan maupun di Indonesia. Sehingga memunculkan dampak positif dari kerjasama yang dilakukan.

Rektor UMK Dr. Suparnyo mengatakan, denagn kerjasama yang sudah disetujui tersebut, maka pihaknya akan melakukan tindaklanjut dengan pimpinan di tingkat fakultas yang ada di UMK. Terutama untuk kegiatan magang kerja bagi mahasiswa.

Sehingga mahsiswa, baik mahasiswa UMK maupun DCU bisa memiliki pengalaman di luar negeri. Sehingga bermanfaat bagi mahasiswa ketika lulus nanti.

Sementara itu, Kepala Kantor Urusan Internasional (KUI) UMK Mutohhar, M.Pd mengatakan, pihaknya juga melakukan diskusi dengan Direktur Urusan Porgram Nasional DCU, Song-Doojin terkait kerjasama tersebut. ”Banyak hal yang kita diskusikan,” jelasnya.

Usai kerjasama tersebut pihaknya akan melakukan komunikasi lebih detail terkait tindaklanjut dari kerjasama tersebut. Sehingga diharapkan dalam waktu dekat apa yang menjadi poin-poin kerjasama bisa terealisasi.(linfokom)

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

UMK – Anggapan bahwa perguruan tinggi adalah lanjutan dalam sekolah adalah hal sangat salah. Perguruan tinggi bukanlah lanjutan, melainkan lebih dari itu, yakni fokus kepada pengembangan ilmu.

Profesor Satryo Soemantri Brodjonegoro mengatakan, perguruan tinggi memiliki kebebasan labih dalam pengembangan ilmu. Setiap aktivitasnya selalu dinamis dan dituntut untuk terus melakukan inovasi. ”Jadi perguruan tinggi tempat untuk mengembangkan keilmuan,” katanya.

Ketika perguruan tinggi dianggap sebagai pendidikan lanjutan, seharusnya namanya tidak lagi perguruan tinggi, tapi kelas 13, kelas 14 dan seterusnya. Padahal pembelajaran di perguruan tinggi sangat berbeda.

Di perguruan tinggi memiliki kebebasan untuk melakukan pengembangan keilmuan, sehingga memang dituntut untuk kreatif dan inovatif. Sehingga kuncinya adalah mau terus belajar agar mampu mengembangkan diri.

Untuk melakukan itu, salah satu yang harus dilakukan adalah meningkatkan literasi. Dirinya sering mengawasi perguruan tinggi dan sering bertanya berapa jumlah pengunjung perpustakaannya. ”Kadang kaget ketika saya tanya seperti itu dan memberikan data pengunjungnya juga agak berat, karena mungkin pengunjungnya sedikit,” terangnya.

Bahkan saat dicek, bahkan tidak ada dosen yang berkunjung ke perpustakaan. Untuk itu, dosen harus terus membaca dan menjadi role model bagi mahasiswanya. Dosen yang tidak ke perpustakaan memang kadang disebabkan banyak kegiatan di luar mengajar, seperti mengurus akreditasi dan lainnya.

Dia menambahkan, memang untuk mengurusi akreditas dan lain-lain membutuhkan banyak waktu, sehingga berpengaruh ke lainnya. Dirinyapun sebenarnya tidak terlalu setuju dengan akreditasi, baginya akreditasi itu tidak wajib. ”Saya setuju akreditasi berdasarkan learning proses, tidak fisik,” imbuhnya.

Karena perguruan tinggi di Indonesia berbeda-beda, apalagi di luar Jawa atau Indonesia timur. Baginya, akreditasi yang baik berdasarkan learning proses, ketika proses sudah benar, maka layak mendapatkan akreditasi.(linfokom)

 

Page 3 of 349