iden

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK - Perajin mainan anak masih menggunakan alat manual saat proses produksi, karena memang mesin khusus tidak ada. Melihat itu, Universitas Muria Kudus (UMK) membuat mesin khusus untuk perajin mainan anak agar bisa memproduksi lebih cepat dan efisien.
Ketua Tim Pengabdian UMK Imaniar Purbasari, M.Pd mengatakan, semula perajin mainan anak di Desa Karanganyar, Kecamatan Welahan, Jepara masih menggunakan alat manual. "Melihat itu, kami langsung berinisiatif untuk membuat masin atau alat yang memudahkan pembuatan mainan, karena di pasaran belum ada," katanya kemarin.
Di desa tersebut paling banyak membuat mainan tarik, trotokan dan kitiran, semuanya mainan tradisional atau jadul. Semuanya dikerjakan secara manual, padahal permintaan mainan tradisional tersebut masih cukup banyak.
Semua mainan rata-rata menggunakan bahan spon, untuk itu pihaknya membuat mesin pemotong spon hidrolis. Pihaknya membuat mesin berdasarkan survei terlebih dahulu, sehingga pembuatan mesin bisa digunakan maksimal, sesuai kebutuhan perajin mainan. "Mesinnya sederhana, bisa gonta-ganti cetakan dan kapasitasnya lebih besar," terangnya.
Untuk operasional mesin cukup mudah, cukup tekan tombol on, maka mesin hidrolis bekerja. Lalu tuas tekan digerakkan, maka silinder hidrolis yang membawa cetakan potong untuk memotong bahan.
Sehingga mesin tersebut memiliki beberapa kelebihan, selain operasional mudah, mesin juga lebih efisien, karena tidak membutuhkan banyak tenaga dan perajin bisa mengoperasikan hanya dengan duduk.
Tak hanya itu, dengan adanya mesin tersebut, produk mainan yang diproduksi bisa konsisten. Karena memiliki cetakan yang sama dan dibuat dengan mesin hidrolis yang memiliki tingkat presisi tinggi. "Tapi ada kekurangannya juga, tapi lebih banyak kelebihannya," ujarnya.
Kekurangan alat antara lain, karena mesin inovasi baru, tentu masih perlu penyempurnaan dan biaya tambahan listrik. Selain itu mesin belum bisa berjalan model auto, karena rangkaian masih sederhana.
Sebelum pembuatan mesin hidrolis, pihaknya juga sudah melakukan pendampingan di perajin mainan tersebut. Baik berupa manajamen usahanya hingga pendampingan berupa pembuatan model atau gambar yang lebih menarik, sesuai dengan kesukaan anak-anak saat ini. "Sebelumnya, gambarnya masih jadul, belum menyesuaikan keadaan terkini," imbuhnya.(Humas-Linfokom)

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK - Rektor Universitas Muria Kudus (UMK) Dr. Suparnyo meminta momentum Dies Natalis Ke-40 UMK dijadikan momentum untuk meningkatkan kualiatas diri, baik dosen maupun tenaga kependidikan. Tujuannya agar pelayanan kepada mahasiswa bisa dilakukan secara maksimal.
Dengan momentum ini, diharapkan semuanya mampu membuladkan tekad untuk menajdi lebih baik. Termasuk bagi dosen diharapkan bisa melanjutkan studi ke jenjang strata 3, sehingga SDM yang ada bisa terus lebih baik. "Ilmu yang didapat tentu akan lebih banyak dan bisa ditransfer ke mahasiswa," katanya saat Acara tasyakuran Dies Natalies Ke-40 UMK beberapa waktu lalu.
Momentum tersebut bisa dijadikan untuk memacu diri, karena usia UMK sudah sampai 40 tahun dan bisa terus eksis. Untuk bisa eksis kedepan tentu perbaikan harus dilakukan, teramsuk dari sisi SDM yang ada di UMK.
Sementara itu, Ketua Pengurus Yayasan Pembina UMK J. Wahyu Wardhana mengatakan, usia 40 merupakan usia yang cukup matang. Sehingga perubahan harus terus dilakukan agar UMK tetap eksis. "Kami berterimakasih atas dukungan masyarakat hingga UMK bisa sampai usia ke-40," terangnya.
Dirinya berharap, semua civitas akademika UMK tetap bersemangat dan berkarya untuk bersama memajukan UMK, termasuk dari pihak yayasan. Karena pihaknya menginginkan hal terbaik, terutama dalam melayani mahasiswa.
Untuk itu, dirinya meminta untuk bekerja cepat dan cerdas serta membenahi diri sehingga UMK bisa tetap eksis dalam dunia pendidikan, baik di Jawa Tengah maupun di skala inetrnasional. "Kita maksimalkan pelayanan kepada mahasiswa untuk generasi yang santun, cerdas dan berjiwa wirausaha," imbuhnya.
Seperti diketahui sebelumnya, sebenarnya Dies Natalis Ke-40 UMK akan digelar besar-besaran. Mulai dari pengajian akbar, lomba sepeda, konser, pemecahan rekor muri dan lainnya. Namun kegiatan tersebut tidak terlaksana karena memang mengumpulkan massa banyak, akibat Covid-19, akhirnya urung dilakukan.
Untuk peringatan Dies Natalis Ke-40 UMK, akhirnya dilakukan secara sederhana, yakni dengan tasyakuran dengan mengundang dosen dan tenaga kependidan yang ada di UMK. Acara dilakukan secara treaming dan semua dosen dan tenaga kependidikan meyaksikan di fakultas, prodi dan unit masing-masing. (Linfokom-Humas)

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK - Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) mengalami penurunan ketika tidak memiliki pengelolaan yang baik, apalagi ditengah pandemi covid -19 seperti saat ini. Untuk mengantisipasi itu, tim dari Universitas Muria Kudus (UMK) memberikan pelatihan dan pendampingan agar UMKM tetap mampu berkembang walaupun dengan tengah pandemi.
Ada tiga hal pokok yang dilakukan dalam pengembangan UMKM, yakni pertama akses permodalan, manajemen dan pengelolaan keuangan. Tiga hal dasar tersebut harus mampu dikuasai pemilik UMKM. "Agar mereka bisa bertahan dan tahan dari guncangan," kata ketua Tim program pengembangan produk unggulan daerah (PPPUD) UMK Budi Gunawa kemarin (17/6).
Pelatihan untuk tatap muka sudah dilakukan di awal Juni dengan Komunitas UMKM Pati, sementara pendampingan lanjutan masih terus dilakukan. Pelaku UMKM bisa melakukan konsultasi agar bisa memehami tentang tiga hal dasar tersebut kepada tim PPPUD UMK.
Tiga hal tersebut menjadi masalah mendasar bagi pengembangan UMKM, untuk akses permodalan, masih banyak pelaku UMKM yang belum tahu bagaimana untuk mengakses modal guna pengembangan usahanya. Pasdahal banyak perbankan yang memiliki program khusus untuk UMKM.
Lalu untuk manajemen, pelaku UMKM masih melakukan secara konvensional. Mereka belum bisa melakukan manajemen dengan baik, belum tahu bagaimana membuat plan-do-cek-action, upgrading sumber daya manusia (SDM), penggunaan teknologi untuk pengembangan usaha hingga perencanaan ekspansi pasar belum dilakukan.
Lalu untuk pengelolaan keuangan, pelaku UMKM masih belum melakukannya dnegan baik, padahal sangat penting. Sehingga uang yang didapat dari penjualan tidak digunakan secara serampangan. "Mereka kami latih membuat neraca laba rugi, utang piutang, order, penjualan hingga pencatatan aset," terangnya.
Bagi pelaku UMKM mungkin terasa ribet, namun hal itu harus dilakukan agar UMKM bisa terus berkembang. Memang harus dilakukan dengan konsisten sehingga UMKM bisa semakin besar. "Kegiatan ini mendapatkan dukungan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Kemenristek Dikti," imbuhnya.(Linfokom - Humas UMK)

 

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK - Universitas Muria Kudus (UMK) masuk dalam peringkat 99 PTN dan PTS se-Indonesia dan delapan PTS se-Jawa Tengah menurut 4 International Colleges and Universities. Sementara menurut WebomatricRanking Web of Universities, UMK masuk peringkat 139 PTN dan PTS Se-Indonesia dan 12 untuk PTS Se-Jawa Tengah.
Hal tersebut disampaikan Rektor UMK Dr. Suparnyo saat acara tasyakuran Dies Natalies Ke-40 di Gedung Rektorat Ruang Seminar Lantai IV Jumat (12/6).
Rektor UMK Dr. Suparnyo mengatakan, capaian tersebut saat usia UMK mencapai 40 tentu harus disyukuri. Karena menandakan kemajuan yang cukup baik bagi UMK. "Kita harus terus bersyukur dengan meningkatkan kinerja kita amsing-masing," katanya.
Untuk dosen harus terus meningkatkan kualitas diri agar bisa mencapai tujuan yang diharapkan. Jangan sampai ada dosen yang tidak meningkatkan diri. Sehingga dalam proses pelaksanaan tri dharma pendidikan bisa maksimal. "Jangan sampai kesejahteraan yang kita terima tidak seimbang dengan kinerja," terangnya.
Sehingga UMK kedepan terus bisa berkembang dan eksis, apalagi dalam kondisi pandemi seperti saat ini membutuhkan kinerja lebih. Sehingga diharapkan masyarakat semakin percaya dengan UMK.
Jika melihat mahasiswa baru, kondisinya terus meningkat, pada 2018 ada 2.700 mahasiswa baru dan pada 2019 ada 3006 mahasiswa baru. Peningkatan tersebut menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat kepada UMK semakin baik. "Semoga kondisi pandemi tidak berpengaruh banyak, harapan kami mahassiwa baru tetap bisa meningkat," imbuhnya.
Dia menambahkan, untuk sebaran mahasiswa di UMK, memang paling banyak ada di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) sebanyak 36 persen. Sementara untuk Fakultas Teknik ada 23 persen dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) sebanyak 25 persen.
Lalu ada Fakultas Hukum sebanyak 8 persen, Fakultas Psikologi sebanyak 5 persen dan Fakultas Pertanian sebanyak 3 persen. "Kami juga terus melakukan upaya agar akreditasi bisa semakin baik, untuk sementara Prodi akreditasi A baru dua, ada dua prodi akrediatsi c karena prodi baru dan lainnya akrediatsi B," jelasnya.(Linfokom-Humas)

 

Page 3 of 378