iden

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

 UMK – Sebanyak 70 mahasiswa mendapatkan penghargaan dari Rektor Universitas Muria Kudus (UMK). Puluhan mahasiswa tersebut memiliki prestasi tingkat provinsi, nasional maupun internasional dari berbagai bidang, baik bidang olahraga maupun akademis.

 Untuk even internasional yang berhasil mendapatkan penghargaan antara lain, mendapatkan medali silver untuk alat Accident Location Information System (ALIS) dalam even International Science and Invention Fair 2019. Dalam even yang sama juga mendapatkan medali silver untuk temuan Braille Mathematic (BraMa), inovasi untuk mempermudah tuna netra belajar berhitung.

Selain itu ada juga inovasi asuransi bagi petani dengan menggunakan jerami, inovasi itu berhasil mendapatkan medali silver dalam even International Young Scientist Innovation Exhibition (IYSIE). Beberapa prestasi internasional lain juga masih ada.

Sementara juara tingkat nasional juga cukup banyak, mulai dari lomba karya tulis ilmiah, cipta puisi, hingga karya tulis ilmiah mahasasiswa nasional. Untuk bidang olahraga juga cukup banyak, mulai dari kejuaran taekwondo, tarung drajat, anggara, bulu tangkis, hingga tenis meja.

Semua mahasiswa berprestasi tersebut diberikan SK Rektor UMK sebagai wujud penghargaan kepada mahasiswa yang memiliki prestasi dan membawa nama baik UMK. Apalagi inovasi yang diciptakan juga sangat bermanfaat bagi masyarakat.

Rektor UMK Dr. Suparnyo, SH. MS mengatakan, pihaknya mengucapkan terimakasih kepada seluruh mahasiswa atas prestasi yang diraih. Harapannya mahasiswa lain bisa terinspirasi dan juga menorehkan prestasi yang sama.(Linfokom-Humas)

 

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

UMK – Sebanyak 24 mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) dilatih kewirausahaan mulai dari ide hingga realisasi. Sebagian besar peserta berawal sebatas ide, kini sudah ada realisasi dan tinggal dilakukan pengembangan. Pelatihan dan pendampingan tersebut dilakukan oleh tim Program Pengembangan Kewirausahaan (PPK) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMK.

Ketua Tim PPK FKIP UMK Nuraeningsih mengatakan, kegiatan ini rencananya berlangsung selama tiga tahun, karena pendampingan dilakukan terus, tidak hanya satu pelatihan langsung selesai. Sehingga 24 mahasiswa yang ikut dalam PPK bisa berhasil. ”Karena tidak hanya melatih membuat produk saja, tapi juga pelatihan manajemen hingga pemasarannya,” katanya kemarin.

Mahasiswa tersebut dibimbing oleh dosen secara langsung, sehingga evaluasi terus dilakukan agar produk yang dibuat mahasiswa bisa terserap pasar dengan baik. Sehingga awal sampai akhir dilakukan pantauan.

Untuk tahun pertama, pihaknya fokus kepada realisasi usaha, beberapa usaha dari 24 mahasiswa tersebut sudah muncul. Seperti produk krakakres, produk makanan rengginang yang dimodifikasi rasa. Lalu ada usaha KOPPI (kopi Para Pencari Inspirasi), hingga jamur tiram.

Selain itu ada juga produk fashion seperti Awe hijab, ada juga yang bergerak dalam bidang tanaman DB Flora dan juga usaha jasa berupa bimbingan belajar, seperti bimbel An-Nahl. ”Kami ingin, ketika mereka lulus tidak mencari kerja, tapi membuat lapangan kerja,” terangnya.

Pihaknya juga menyiapkan aplikasi ‘Teman Belajar’ untuk membedakan dengan bimbel yang lain, apalagi saat ini belajar bisa menggunakan smartphone. Sehingga apliaksi tersebut dibuat agar lebih menarik dan bimbel memiliki pembeda dengan bimbel yang lain.

Dalam penampingan tersebut, pihaknya membimbing 24 mahasiswa berupa manajemen bisnis, inovasi produk, hingga pemasaran. ”manajemen harus baik ketika ingin berkembang, inovasi juga penting agar menarik konsumen, sementara pemasaran menajdi hal penting karena sebagus apapun produk ketika pemasaran tidak tepat, tentu tidak terjual baik,” imbuhnya.

Karena pendampingan cukup lama agar 24 mahasiswa benar-benar merealisasikan idenya, maka dilakukan evaluasi. Evaluasi dilakukan setiap triwulan untuk mengetahui perkembangan usahanya.

Pihaknya melihat beberapa elemen penting, harus dilakukan dengan baik, yakni produk dan jasa yang dihasilkan, pemasaran, inovasi produk dan jasa, permodalan serta tenaga kerja. ”Kami berharap dengan bimbingan yang cukup lama dan inten ini, 24 mahasiswa tersebut bisa berhasil dalam berwirausaha,” imbuhnya.(humas)

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

UMK – Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara mendapatkan pelatihan dari dosen Universitas Muria Kudus (UMK). Kali ini guru PAUD diajari untuk membuat aplikasi eduwisata Kabupaten Jepara, karena eduwisata masuk dalam kurikulum PAUD.

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat UMK Ratri Rahayu mengatakan, kegiatan yang dilakukan memang merespon kemajuan teknologi yang ada. Ada apliaksi yang mudah dibuat dan bisa dimanfaatkan untuk guru PAUD. ”Jadi kami lakukan praktek membuat aplikasi langsung setelah materi diberikan,” katanya kemarin.

Aplikasi tersebut menggunakan appmaker yang bisa diunduh di playstore, pembuatannya aplikasi wisata tersebut sangat mudah. Karena tinggal memasukkan foto, deskripsi tempat wisata ke appmaker. Selanjutnya appmaker secara otomatis membuat aplikasi berdasarkan data yang diinput dan bisa dipakai di android.

Artinya, pembuatan aplikasi tersebut tanpa coding dan berbasis Graphical User Interface (GUI), sehingga guru PAUD sangat mudah membuatnya. Karena tinggal input layaknya saat upload di media sosial. ”Kita carikan pembuat apliaksi yang sangat simple, mudah dipakai,” terangnya.

Guru PAUD hanya perlu menyiapkan materi dalam  bentuk softfile,  kemudian di pindah kedalam software untuk dikonversi menjadi file berekstensi Apk yang bisa diinstall ke smartphone berbasis Android.

Aplikasi yang dibuat berupa eduwisata juga bermanfaat untuk mengenalkan wisata lokal sejak dini. Karena wisata merupakan salah satu komponen penting untuk menggerakkan ekonomi masyarakat, sehingga ketika dikenalkan sejak dini, diharapkan wisata yang ada bisa semakin ramai.

Sehingga selain bermanfaatkan untuk edukasi kepada anak usia dini, juga bermanfaat untuk pengembangan wisata. ”Jadi tujuan kami tak hanya pendidikan saja, tapi ikut partisipasi dalam promosi potensi wisata setempat, mulai dari wisata usaha mikro kecil menengah, wisata budaya, buatan hingga alamnya,” ujarnya.

Pembelajaran eduwisata merupakan salah satu materi dalam kurikulim di PAUD, dimana dalam mendukung kegiatan tersebut guru diajarkan mengembangkan modul dalam bentuk aplikasi andorid. Modul tersebut digunakan guru PAUD sebagai sarana penyampaian materi pada saat anak usia dini melakukan kegiatan eduwisata.

Pelatihan yang dilakukan memang sudah selesai, namun tetap dilakukan pendampingan ketika guru PAUD yang sudah dilatih menemui kendala. Mereka dipersilahkan menanyakan kendala-kendala yang dialami, selanjutnya pihaknya akan memebrikan solusinya.

Salah satu peserta pelatihan, Devi Putri Asih mengakui mendapatkan manfaat dari pelatihan tersebut. Karena dirinya mendapatkan inovasi dalam pengembangan pembelajaran di PAUD. Apalagi bisa mengenalkan potensi wisata kepada anak-anak PAUD.

Tentunya diharapkan, dengan inovasi tersebut lebih memudahkan anak-anak dalam memahami materi eduwisata. ”Kami berharap bisa terus terus dikembangkan, tentunya butuh bantuan dari pihak lain, seperti tim dari UMK, sehingga bisa sharing wawasan,” imbuhnya.

Dalam pelatihan dan pendampingan tersebut, selain dirinya ada dari dosen Teknik Informatika, Alif Catur Murti. Tak hanya itu, pihaknya juga melibatkan mahasiswa, sehingga mereka bisa mendapatkan pengalaman secara langsung.(humas)

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

UMK – Tiga mahasiswa asing asal Vietnam dan Thailand  yang belajar budaya dan Bahasa Indonesia di Universitas Muria Kudus (UMK) belajar membatik. Kali ini mereka membatik dengan tema kemerdekaan.

Tiga mahasiswa tersebut yakni Thi Phuong Mai Nguyen dari Hanoi University, Thi Phuong Nguyen dari University of Social Science and Humanities, dan Sulaiman dari Thailand yang kuliah di salah satu universitas di Jawa Tengah. Selain itu ada juga Hiue Nhat Pham dari Keduataan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Hanoi, Vietnam.

Salah satu mahasiswa asing Thi Phuong Mai Nguyen mengatakan, dirinya belajar budaya dan Bahasa Indonesia lewat program Living In Asia (Lisia) yang dilaksanakan UMK. Beberapa kegiatan sudah dilakukan, sebelum membatik dirinya juga belajar tentang kopi di, mulai dari melihat kebun kopi hingga proses pembuatannya.

Untuk membatik, memang lebih sulit, karena butuh kesabaran, apalagi harus detail sekali, terutama saat menggambar. Apalagi proses awal, yakni menggambar dengan canting, awalnya memang sulit, namun setelah beberapa menit mengetahui teknik dasarnya baru nyaman. ”So difficult, but batik is beautiful, I like batik,” katanya saat membatik di Muria Batik Kudus kemarin.

Owner Muria Batik Kudus Yuli Astuti mengatakan, untuk pelatihan membatik memang diberikan materi dasar, agar mereka mengetahui saja. Kali ini dirinya memberikan gambar yang akan dibatik dengan tema kemerdekaan, bhineka tunggal ika.

Karena beberapa hari lagi akan dilakukan peringatan hari kemerdekaan Indonesia yang ke – 74. ”Kita beri gambar burung garuda, pulau Indonesia hingga bendera Indonesia yang disandingkan bendera Vietnam dan Thailand,” terangnya.

Sementara itu, Kepala kantor urusan Internasional (KUI) UMK Mutohhar mengatakan, kegiatan ini merupakan rangkaian dari acara Living In Asian yang digelar oleh Universitas Muria Kudus (UMK). Salah satunya memang mengenalkan budaya dan potensi lokal yang ada kepada mahasiswa asing.

Kegiatan ini berjalan karena memang sudah ada kerjasama yang dijalin antara UMK, KBRI dan juga universitas di Vietnam. Program kedua kalinya, giliran KBRI yang mengirimkan delegasi mahasiswa untuk belajar budaya Indonesia, khususnya di Kudus.

Untuk membatik memang sudah dikenal lebih luas, terutama di Asia Tenggara, bahkan staf KBRI yang merupakan warga Vietnam juga pernah merasakan proses membatik. Karena pernah ada even membatik di Vietnam. ”banyak yangs udah mengenal batik, tentunya ketika ada pameran batik yang dilaksanakan KBRI, Batik Kudus bisa ikut didalamnya,” jelasnya.

Selain memabtik, mahasiswa asing juga diajak menikmati kopi, mulai melihat kebun hingga proses membuat dan menyeduh kopi. Selain itu juga dikenalkan dengan menara Kudus, apalagi di Vietnam ada bangunan yang mirip dengan Menara Kudus. Selain itu juga akan diajak mengunjungi Karimun Jawa, Jepara. Tujuannya tak lain untuk mengenalkan tempat wisata Karimunjawa yang tak kalah dengan Bali.(humas)

 

Page 3 of 362