iden

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK - Tiga mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) lolos program mahasiswa magang bersertifikat (PMMB) di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Kereta Api Indonesia (KAI). Magang ini berbeda dengan program magang lainnya, mahasiswa nantinya akan mendapatkan sertifikat industri dan mendapatkan uang saku Rp 1.540.000 setiap bulannya.
Rektor UMK Prof. Dr. ir. Darsono, M.Si mengatakan, program magang ini merupakan program yang sangat bagus, cocok dengan merdeka belajar yang sudah dimulai saat ini. Karena kegiatan magang ini akan menambah pengalaman mahasiswa yang mungkin tidak didapat di kampus.
"PMMB merupakan kepedulian PT KAI dalam semangat kebangsaan untuk memajukan pendidikan dan meningkatkan sumber daya manusia (SDM) dengan praktek lapangan," katanya saat sambutan mewakili 16 perguruan tinggi dalam pembukaan batch I PMMB di PT KAI Senin (5/4/2021).
Mahasiswa yang mengikuti program ini tentu akan mendapatkan pengalaman lebih, sehingga mahasiswa memiliki tambahan keterampilan atau soft skill. Karena pengalaman lapangan atau di luar kampus bisa melengkapi pembelajaran yang ada di kampus.
Saat ini, kurikulum merdeka belajar kampus merdeka (MBKM) mulai diterapkan. PMMB sebenarnya bisa menjadi modal bagi perguruan tinggi dalam mengembangkan 'merdeka belajar' sebagai arus utama pendidikan. Semua perguruan tinggi juga sudah mulai melaksanakan dan terus mematangkan kurikulum MBKM.
Dia menambahkan, UMK sendiri merupakan salah satu perguruan tinggi yang mengikuti PMMB, termasuk di PT KAI sejak 2019 lalu. Bahkan pada batch I 2020, mahasiswa paling banyak yang ikut PMMB di PT adalah UMK, ada 12 mahasiswa saat itu. "Bahkan ada yang mendapatkan nilai uji kompetensi terbaik," terangnya.
Untuk itu, pihaknya mengucapkan terimakasih kepada PT KAI. Dirinya me4ngajak kepada seluruh rektor dan peserta PMMB untuk bersama-sama melakukan perbaikan dan berseangat dalam mendukung PMMB kedepannya.
Sementara itu, Kapusdiklat PT KAI Handy Purnama mengatakan, tantangan menarik bagi peserta PMMB adalah menjual gagasan, baik ke staf, atasan dan stakeholder PT KAI. Karena saat ini memang butuh banyak inovasi dalam menjalankan sebua usaha atau bisnis.
Selain itu, peserta PMMB juga harus belajar banyak tentang komunikasi dan organisasi di PT KAI. Komunikasi dan organisasi akan mengasah pengalaman peserta yang mungkin tidak didapatkan di kampus. "Silahkan gunakan PMMB ini seoptimal mungkin," ujarnya.
Dia menambahkan, untuk peserta PMMB di PT KAI, diminta menjadikan PMMB sebagai bekal ke dunia kerja usai lulus nanti. Karena dari magang selama enam bulan ini, mereka akan mendapatkan banyak hal tentang bagaimana sebuah bisnis dijalankan.(Linfokom-Humas)

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Memenuhi janji silaturahmi kepada sahabat, kunjungan ke Kudus menjadi pembuka mata betapa banyak yang belum diketahui tentang tanah air sendiri. Kota Kudus terkenal dengan banyak hal – soto Kudus, jenang Kudus, masjid Menara, industri rokok, dan kota yang melahirkan banyak juara dunia bulutangkis; tapi tidak (belum) dikenal sebagai kota tujuan kegiatan pendidikan.

Padahal Universitas Muria Kudus (UMK) sudah berdiri selama 40 tahun. Mungkin ‘kekurang-terkenalan’ UMK diluar wilayah ex Karisidenan Pati (Pati, Jepara, Kudus, Grobogan, Blora, Rembang) serupa dengan ‘kekurang-terkenalan’ Kudus sebagai daerah tempat lahir dan sekaligus menjadi pusat industri elektronik terkemuka ‘asli’ Indonesia sejak 45 tahun lalu: Polytron.

UMK juga ternyata menarik. Selain telah berumur 40 tahun, UMK adalah universitas swasta yang dengan bijak (dan menimbulkan kekaguman) tetap memilih menjadi swasta meski telah ditawari untuk jadi perguruan tinggi negeri. Menariknya juga UMK didirikan secara kolektif oleh beberapa organisasi kemasyarakatan dan perusahaan swasta, sehingga Yayasan dimana UMK bernaung bukan “milik” perorangan atau keluarga.

Memiliki jumlah mahasiswa total sekitar 12 – 13 ribu orang, penerimaan mahasiswa baru sekitar 3000 – 3500 orang, dan jumlah dosen sekitar 300 orang; ‘ukuran’ UMK terasa ideal. Program studinya juga cukup lengkap, berikut beberapa pendidikan pascasarjana. Mahasiswa Magister Manajemennya cukup banyak. Kuliah umum yang diselenggarakan di Auditorium berkapasitas normal lebih dari 100 orang, terasa penuh dihadiri sekitar 50 mahasiswa dengan pengaturan protokol kesehatan ketat.

Motivasi mahasiswa S2 MM diakui sebagian besar adalah untuk kepentingan kenaikan pangkat. Memang ijazah S2 sekarang seolah jadi prasyarat untuk dapat menapak jenjang karier yang lebih tinggi. Mungkin bukan motivasi belajar yang ideal, namun diantara sekian banyak mahasiswa tetap saja ada ‘ingenuity’ yang menarik. Misalnya, seorang mahasiswa yang mengatakan bahwa kebijakan pupuk bersubsidi saat ini ternyata menyulitkan ayahnya yang petani. Mahasiswa itu kemudian menyarankan ayahnya untuk “kembali ke jalan yang benar” mengggunakan ‘tletong’ (kotoran sapi) sebagai pupuk, tentu harus dengan pengaturan (manajemen) operasi dan logistik yang sesuai. Semoga “PT Tletong Muria Jaya” yang diusulkan dapat segera terwujud.

Ada satu yang belum tergali dan belum sempat didiskusikan dari kunjungan ke UMK. UMK menggunakan ‘tag-line’: “indigenous university”. Dengan Rektor UMK yang baru, Prof Darsono, yang dikenal sebagai sahabat yang sering membawa pandangan filosofi Jawa dalam diskusi ekonomi pertanian, tentu ‘tag-line’ itu akan memiliki makna yang lebih dalam, dan akan dapat dilihat semakin nyata dalam kegiatan pendidikan di UMK.

--oo—

Kudus hanya berjarak sekitar 80 km garis lurus dari Blora. Kesempatan sudah sedekat itu sayang jika tidak dimanfaatkan untuk ‘nyadran’. Jadilah ditempuh perjalanan Kudus, Pati, Todanan, Kunduran, dan Ngawen. Perjalanan yang mencerahkan. Jalanan desa yang baik kondisinya, fungsional sebagai urat nadi ekonomi; kehidupan masyarakat yang terlihat optimis dan berkembang; serta berkesempatan melihat lagi pabrik gula yang ketika berdirinya merupakan investasi terbesar di Blora sejak merdeka sekaligus pendirian PG baru pertama di Jawa sejak 50 tahun terakhir.

Tradisi ‘nyadran’ sebenarnya datang dari jaman Hindu-Budha, namun kemudian dirubah oleh Wali Songo sebagai bagian dari dakwah Islam, dan lazimnya dilakukan menjelang bulan Ramadhan. Secara fisik, ‘nyadran’ dilakukan dengan ‘nyekar’ (bersih-bersih dan menabur ‘sekar’/bunga, di makam orang tua dan leluhur), dan ‘selametan’ (bentuknya sering berupa kenduri, ‘makan-makan’).

Selain sebagai sebuah fenomena sosial, termasuk untuk bisa ‘sowan’ ke Bude yang sudah sangat sepuh dan silaturahmi ke saudara-saudara jauh; memang ada ‘kontroversi’ apakah hal ‘nyadran’ itu “dapat dibenarkan”? Namun seseorang bisa ‘terbang lebih tinggi’ – atau justru ‘menyelam lebih dalam’ tentang hakekat maknanya.

Misalnya, berkunjung ke makam mungkin dapat dimaknai untuk kembali mengingatkan bahwa yang hidup akan menghadapi kematian, sehingga harus selalu waspada dan bersiap. Berkunjung ke makam juga untuk selalu mengingatkan “siapa kita”? Mengingatkan bahwa ada tanggung jawab moral menjadi cicit Kyai Zaenal Mukhtar – yang sangat dihormati sehingga makamnya dibangun istimewa karena panjangnya mencapai 3 meter; atau cucu dari Uztad Abdulchamid – yang kabarnya menjadi pendiri dan kepala KUA pertama di daerah itu sekitar 70 tahun lalu. Lalu adab mendoakan orang tua dan tetua juga menjadi kewajiban, dan dapat dilakukan dimana saja, termasuk di depan makam mereka.

Selamatan, kenduri makan-makan, adalah bentuk sederhana kegembiraan menyambut Ramadhan. Ada tiga pesan khotib dari mimbar Jumat minggu ini: bergembira menyambut Ramadhan, mendalami ilmunya agar dapat memanfaatkan waktu selama Ramadhan dengan optimal, dan membulatkan niat agar apa yang diperoleh selama Ramadhan dapat menjadi modal untuk menjadi lebih baik di sebelas bulan setelahnya.

Perjalanan yang ‘biasa’ sebenarnya selalu membawa pengalaman baru. Kita kemudian dapat mengambil hikmah dari pengalaman itu. Dan dengan hikmah ‘sehari-hari’ itulah kiranya dapat kemudian membuat kita menjadi lebih bijak dan ‘tawadhu’. Semoga.--

Catatan Bayu Krisnamurthi 3 April 2021

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK - Sebanyak 776 mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) diwisuda Sabtu dan Minggu (3 dan 4/ April/2021). Wisuda dilakukan dengan cara drive thru mengingat pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) masih belum selesai.
Rektor UMK Prof. Dr. Ir. Darsono, M.Si mengatakan, wisuda merupakan kebanggaan tersendiri bagi mahasiswa. Karena tidak semua orang bisa merasakan 'kemewahan' bisa mengenyam pendidikan di bangku kuliah. "Hanya 34 persen warga yang bisa menikmati atmosfir perguruan tinggi," katanya saat meberikan sambutan wisuda ke-66 UMK Sabtu (3/4/2021).
Wisuda juga sebagai kebanggan bagi orang tua, saat memasuki bangku kuliah orang tua bahagia dan sekaligus khawatir karena memikirkan biaya kuliahhnya. Namun kini tetesan keringat orang tua menjadi tetesan air mata syukur dan bahagia karena melihat anaknya diwisuda.
Usai lulus, harus terus mengembangkan diri, apalagi saat ini terjadi percepatan kemajuan dan distrupsi. Sehingga harus mampu beradaptasi dan harus memiliki daya juang agar bisa menghidupkan perubahan, tidak sebaliknya, dimatikan oleh perubahan. "Yakinlah saudara mampu melaluinya," tegasnya.
Untuk itu, wisudawan dalam menghadapi percepatan kemajuan tidak hanya mengandalkan literasi lama, membaca, menulis dan matematika, melainkan harus menambah literasi. Yakni literasi data, kemampuan menganalisis dan menggunakan informasi dalam big data di dunia digital.
Selain itu juga butuh literasi teknologi, harus mampu mengetahui aplikasi mesin, aplikasi teknologi, enggineering principal, coding dan lainnya. Wisudawa juga harus menambah literasi manusia, yakni pengetahuian budaya atau humanities, komunikasi dan desain. "Kami mengingatkan, bahwa hard skill dan soft skill harus seiring sejalan," terangnya.
Dia menambahkan, setelah mendapatkan gelar akademik, wisudawan bisa melakukan tindaklanjut, baik dengan mencari kerja, menciptakan pekerjaan hingga melanjutkan studi lanjut. "Kami harap orang tua bisa terus mendampingi, bagi wisudawan teruslah berbakti kepada orang tua," ucapnya.
Sementara itu, Kepala LLDIKTI Wilayah VI Prof. Dr. ir. Muhammad Zaenuri, DEA memberikan apresiasi kepada rektor dan jajarannya yang telah melaksanakan proses pembelajaran hingga tuntas. ada 142 mahasiswa magister dan 634 sarjana yang diwisuda.
Wisuda merupakan acara seremonial yang menjadi pembatas dan menjadi awal untuk menempuh hidup baru. Tentunya wisudawan akan menajlani hidup abru dengan bekal keilmuan yangs udah diperoleh selama belajar di UMK. "Hari ini anda berdiri di pintu masa depan, tunjukkan kompetensi anda," jelasnya.
Dengan wissuda kali ini, tentunya diharapkan UMK terus menjadi perguruan tinggi yang lebih baik. Sehingga akreditasi juga akan lebih tinggi kedepannya. (Linfokom-Humas)

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK – Universitas Selamet Riyadi (Unisri) Surakarta melakukan kunjungan ke Universitas Muria Kudus (UMK). Kedatangan ke UMK karena ingiin studi banding terkait pelacakan alumni dengan unit Pusat Karir dan Pelacakan Alumni (PKPA).

Pilihan kunjungan ke PKPA UMK karena memang dianggap sudah maju, apalagi dosen UMK ada yang menjadi salah satu pengurus nasional terkait pelacakan alumni yang sering menjadi narasumber.

Kepala PKPA UMK Farid Nor Romadlon, M.Pd mengatakan, dalam kegiatan tersebut, pihaknya memaparkan beberapa program yang diselenggarakan oleh PKPA. Mulai dari cara pelacakan alumni hingga pelaksanaan job fair untuk membantu lulusan UMK memperoleh pekerjaan.

Diskusipun berjalan, tanya jawab terus dilakukan sehingga suasananya cukup santai. Apalagi Unisri memang akan mengembangkan lembaga yang mengurusi alumni lebih baik lagi. ”Kami paparkan semua, kami sharing apa yang sudah kami lakukan, kendalanyapun kami sampaikan,” terangnya.

Selain Unisri, beberapa pusat karir dan pelacakan alumni dari universitas lain pernak ke PKPA UMK untuk studi banding. Setidaknya ada tujuh perguruan tinggi yang studi banding ke PKPA UMK.

”Tentu kami berharap kedepan PKPA UMK akan semakin baik dan bermanfaat bagi Lembaga dan masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Rombongan Unisri Safarudin, M.Pd mengatakan, studi banding yang dilakukan kali ini memang untuk mengetahui hal apa yang harus dilakukan untuk mengembangkan pusat karir dan alumni. ”Kami ingin berkembang dan kami harus belajar juga, jadi kami ke UMK,” jelasnya.

PKPA UMK juga sudah dikenal di perguruan tinggi lainnya, apalagi setelah dijelaskan program-program yang dijalankan juga cukup bnagus. Sehingga pihaknya perlu belajar banyak dan akan mengembangkan lembaga kami usai studi banding ini.(Linfokom-Humas)

 

Page 2 of 397