iden

UMK – Revolusi industri 4.0 harus diikuti dalam dunia pendidikan, revolusi industri 4.0 memanfaatkan perkembangan teknologi, cyber physical system. Untuk itu proses belajar mengajar juga harus berbasis teknologi atau education 4.0.

Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Abdurrahman Faridi, M.Pd saat kuliah umum yang dilaksanakan program studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muria Kudus (UMK) kemarin (15/12/2018).

Saat ini, revolusi industri 4.0 memang baru dinikmati kalangan industriawan, belum sampai ke bidang pendidikan. Namun pendidikan juga harus melakukan adaptasi atas kebutuhan revolusi indutri 4.0. ”Karena harus mengambil kesempatan bagi siswa mempersiapkan pekerjaannya dimasa yang akan datang,” katanya kemarin.

Untuk menghadapi itu, mahasiswa harus memiliki kemampuan berpikir kritis, problem solver, inovatif, komunikatif dan memiliki jiwa kepemimpinan yang baik. Mahasiswa harus mampu memanfaatkan teknologi yang berdampak positif kepada masyarakat. ”Teknologi dan pendidikan harus menyatu, jangan dipisahkan,” terangnya.

Revolusi industri kali ini harus diikuti dengan baik, jangan sampai terlena. Memang bagi yang tidak tahu bahwa revolusi industri 4.0 sudah dimulai akan merasa biasa-biasa saja, ketika sudah tertinggal baru merasakan. Namun sebaliknya, bagi yang tahu justru akan lebih bersemangat dalam mengikuti revolusi industri, sehingga akan beradaptasi dengan baik.

Karena kedepan bukanlah kekurangan karyawan atau pegawai, melainkan kekurangan kekurangan pegawai yang memiliki keahlian yang dibutuhkan. Untuk itu, harus mampu beradaptasi dengan revolusi industri 4.0.

Saat kuliah umum, dia mencontohkan penggunaan handphone. Teknologi yang ada harus dimanfaatkan untuk pendidikan, banyak data yang bisa diambil melalui handphone, namun setiap data yang diambil dari internet tidak semua harus dipercaya. Kecuali dari sumber yang memang dipercaya, jangan sampai justru menajdi korban hoax.

Dia menambahkan, adanya revolusi industri 4.0 merupakan sebuah kesempatan dan sekaligus sebuah tantangan. Semuanya harus beradaptasi dengan adanya revolusi tersebut.(linfokom)

UMK – Teater Aura Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus (UMK) melakukan pementasan teater dengan judul ‘Megatruh’. Partunjukan teater tersebut menyedot banyak pecinta seni, dibuktikan dengan penuhnya auditorum UMK tempat pertunjukan teater dilaksanakan.

Dalam pertunjukan tersebut, cukup menarik karena pemainnya melakukan pertunjukan sangat rapi. Intonasi pemain dalam melafalkan dialog juga cukup keras sehingga penonton bisa memahami jalannya pertunjukan.

Untuk setting panggung juga cukup detail, dengan latar belakang rumah desa semua perabotan ruamh sangat diperhatikan sehingga sangat pas. Dalam pertunjukan tersebut juga menggunakan live music, sehingga suasana lebih hidup.

Sedangkan peserta yang hadir cukup banyak, bahkan bisa dikatakan penuh dengan penonton. Mereka terlihat tidak beranjak dari ruang pertunjukan hingga pementasan tersebut berakhir.

Megatruh sendiri bercerita tentang Nyonya Kertakusuma, dia adalah seorang wanita paruh baya berdarah biru yang dulunya memiliki seorang putra bernama Bagaskara. Kehidupan nyonya Kertakusuma beserta keluarganya mengalami banyak ketimpangan sejak suaminya terjerat berbagai kasus yang membuat hidupnya diakhiri dengan timah panas.

Nyonya Kertakusuma pun mulai merasakan dinamika kehidupan yang mulai tak stabil hingga akhirnya dapat bangkit. Itupun berkat kehadiran Subroto beserta gadisnya Shopia didalam kehidupannya, tetapi pada akhirnya kecemasan yang berlebihan pada nyonya Kertaksuma semakin menjadi sewaktu rahasia yang dia simpan bersama Subroto diketahui anak semata wayangnya.

Masalah pun semakin parah karena ditemukannya jenazah nyonya Kertakusuma dirumah oleh salah satu tetangganya. Kisah ini menjadi semakin misterius karena keterangan tetangganya terhadap jasad tersebut membuat Tim Forensik Kepolisian tercengang, ditambah keterangan kepala kepolisian setempat yang menyebutkan bahwa nyonya Sri Lasmi Kertakusuma mengidap skizofrenia membuat semua orang tidak percaya.(linfokom)

UMK – Artis Ibu Kota Ali Syakieb dan beberapa artis lain melakukan pengambilan gambar atau shooting dui Universitas Muria Kudus (UMK) untuk film dengan judul ‘Biru Langit’. Film tersebut di produseri oleh alumni Jurusan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMK, Farichah Hanim.

Farichah Hanim sendiri merupakan owner dari brand hijab Ar-rafi yang sudah dikenal luas. ”Kebetulan kami juga baru launching production house (PH) AR beberapa waktu lalu,” katanya kemarin (12/1/2018).

Untuk film tersebut, dirinya memang sengaja mengambil icon-icon yang ada di Kabupaten Kudus. Tujuannya agar Kudus juga lebih dikenal di kancah nasional. Apalagi selama ini banyak yang beranggapan bahwa hijab Ar-rafi berasal dari Jakarta, padahal produk asli Kudus.

Salah satu lokasi shooting yang diambil memang UMK, karena memang membutuhkan lokasi kampus. Dirinya memilih UMK karena juga untuk mengenalkan UMK yang merupakan tempat dirinya kuliah agar lebih dikenal.

Selain itu, juga akan mengambil gambar di Menara Kudus, Gerbang Kudus Kota Kretek (K3) dan juga lokasi produksi hijab Ar-rafi. ”Kami memilih lokasi memang yang menunjukkan ciri-ciri Kudus, agar nantinya bisa lebih dikenal,”terangnya.

Untuk jalan cerita film Biru Langit, dirinya belum berani menceritakan, namun yang jelas film tersebut dibuat sebanyak delapan episode. Ketika nantinya sudah siap rilis, baru kami berikan alur ceritanya seperti apa.

Sementara itu, Rektor UMK Dr. Suparnyo mengatakan, untuk proses shooting tersebut memang sudah ada komunikasi sebelumnya. Pihaknya mempersilahkan untuk proses pengambilan gambar asal ada surat pemberitahuan. ”Apalagi pimpinannya dari alumni UMK sendiri,” imbuhnya.

Walaupun Hanim adalah lulusan FKIP, namun ternyata juga mampu menjadi pengusaha sukses. Karena memang UMK juga menekankan kepada jiwa wirausaha.(Linfokom)

UMK – Inovasi dan pembeda produk menjadi hal penting dalam proses pengembangan usaha mikro kecil menengah (UMKM). Selain itu, untuk pengembangan juga dibutuhkan kerjasama dengan banyak pihak, biasanya kerjasama ada persyaratan terkait pajak atau harus memiliki nomor pokok wajib pajak (NPWP).

Hal tersebut menjadi kesimpulan saat kegiatan seminar dengan tema ‘Strategi UMKM Berbasis Ekonomi Kreatif’. Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Kelompok Kajian Perpajakan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muria Kudus (UMK).

Pelaku UMKM Muria Batik Yuli Astuti mengatakan, dalam proses pengembangan usaha batiknya, memang butuh perjuangan keras. Apalagi pada awal merintis pada 2005, pembatik Kudus sudah tidak ada. ”Saat itu ada pelatihan membatik, namun tindaklanjutnya masih belum ada,” katanya kemarin (10/01/2019).

Akhirnya dia memutuskan untuk belajar ke Solo dan daerah lainnya, dia melakukannya dengan mengendarai motor dari Kudus – Solo. Banyak kenangan saat itu, mulai dari kehujanan hingga ban bocor di tengah hutan Purwodadi.

Namun karena kecintaannya akan batik, kondisi tersebut tak membuatnay patah semangat. ”Saat itu sama sekali tidak ada pikiran proses belajarnya nantinya akan menghasilkan uang, motif ekonomi saat itu tidak ada, hanya cinta batik dan ingin melestarikannya,” terangnya.

Tapi seiring berjalannya waktu, ternyata usaha batiknya mulai brjalan hingga saat ini makin dikenal. Tentunya dengan kerjasama banyak pihak, teramsuk dengan UMK yang pernah memfasilitasi dalam beberapa even.

Terkait dengan pajak, memang semula agak kaget karena pernah didatangi petugas pajak usai muncul pemberitaan tentang dirinya di media massa. ”Ketika ingin berkembang, memang butuh beberapa syarat, salah satunya NPWP,” ujarnya.

Karena kerjasama dengan instansi lain yang memfasilitasi biasanya membutuhkan NPWP. Artinya memang harus menjadi wajib pajak yang selalu melaporkan setiap tahun.

Narasumber dari KPP Pratama Kudus Bekti Wijayanti mengatakan, pajak untuk UMKM mengalami penurunan dari 1 persen menjadi 0,5 persen dari omset. ”Ini merupakan fasilitas yang diberikan UMKM,” jelasnya.

Dengan penurunan tersebut, pihaknya membidik penambahan pembayar pajak daris ektor UMKM. Sehingga walaupun pajaknya turun, namun ketika jumlah pembayar naik tentunya penerimaan pajak dari UMKM juga akan besar.

Dari data yang ada, kontribusi UMKM terhadap penerimaan pajak amsih kecil, baru 2,2 persen. Padahal pelaku usaha dari UMKM sebanyak 92 persen, artinya tenaga kerja juga cukup banyak.

Pajak UMKM 0,5 persen adalah objek PPh PP 23, UMKM yang dikenaik fasilitas pajak 0,5 persen dari omset adalah penghasilan dari usaha yang diterima wajib pajak dengan omset yang tidak melebihi Rp 4,8 miliar dalam satu tahun pajak.

Namun ketika melebihi Rp 4,8 miliar, maka akan dikenai ketentuan umum pajak pengahsilan pasal 17 ayat 1 huruf a bagi wajib pajak orang pribadi dan pasal 17 ayat 2a atau pasal 31E untuk undang pajak pengahsilan bagi wajib pajak badan. ”Kami dari pajak selalu berdoa agar omset pengusaha UMKM meledak,” imbuhnya.

Untuk pengembangan usaha agar naik kelas, biasanya memang membutuhkan NPWP. Karena kerjasama dengan instansi selalu ditayanyakan memiliki NPWP atau tidak.(linfokom)

Page 2 of 338