iden

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK – Sebanyak 25 kasus pada 12 desa terkait dana desa di Jawa Tengah pada periode Juni 2017 sampai Oktober 2018 diperiksa lebih khusus oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Provinsi Jawa Tengah. Padahal dana desa jika digunakan dengan baik akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Temuan tersebut dipaparkan dalam Seminar Regional dengan teman ‘Peran Auditor dalam Mewujudkan Akuntabilitas Dana Desa’. Kegiatan yang dilaksanakan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Akuntansi Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Muria Kudus mengundang dua narasumber dari BPK dan Kemenkeu.

Permasalahan pengeloaan keuangan desa memang terjadi dan sampai ditemukan sebanyak 25 kasus pada 12 desa pada periode Juni 2017 sampai Oktober 2018. ”Ada empat persoalan yang melatarbelakangi terjadinya permasahan pengelolaan keuangan desa,” kata Narasumber dari BPK Perwakilan Jawa Tengah Sutardi saat seminar di ruang seminar lantai 4 gedung rektorat kemarin (15/12/2018).

Pertama karena penyalahgunaan wewenang kepala desa, kedua penggelapan dana, ketiga karena surat pertanggungjawaban (SPJ) fiktif dan keempat karena kualitas dan kuantitas pekerjaan fisik yang tidak sesuai aturan. Persoalan akhirnya berpotensi merugikan keuangan negara.

Artinya, secara tidak langsung sudah dilakukan penanganan oleh aparat penegak hukum (APH) karena berpotensi adanya korupsi. BPK sendiri melakukan penghitungan kerugian negara berdasarkan informasi atau permintaan dari APH. ”Karena sesuai dengan aturan yang ada, yang sah melakukan penghitungan kerugian negara adalah BPK,” terangnya.

Untuk menghitungnya, tentunya sangat terkait dengan ilmu akuntansi yang saat ini ditekuni mahasiswa. Karena memang menghitung data berupa anggaran, tentunya ditambah dengan pemahaman regulasinya.

Dalam seminar tersebut, Sutardi juga menanyakan kepada perserta seminar apakah ada yang tinggal di Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus atau tidak. Usut punya usut, ternyata BPK tengah melakukan proses pemeriksaan investigatif di dua desa di Kecamatan Dawe. ”Itulah ngerinya kalau melakukan pemeriksaan kerugian negara, namun harus dilakukan agar dana desa tidak disalahgunakan,” ujarnya.

Dirinya berharap, mahasiswa dan semua masyarakat juga turut serta dalam melakukan pengawasan. Karena setiap desa sudah diwajibkan untuk mengumumkan dana desa menggunakan baliho agar semua orang tahu.

Sementara itu, narasumber dari Kanwil DJTb Jawa Tengah Nur Azizah mengatakan, dana desa memiliki peran penting dalam pembangunan desa. Dirinya beberapa waktu lalu mengunungi dua desa di Kudus untuk mengetahui pelaksanaan dana desa.

Dua desa yang dikunjungi yakni Desa Megawon dan Desa Gulang. Desa Megawon mendapatkan alokasi dana desa sebanyak 840 juta. Selain untuk perbaikan sarana dan prasaranan desa, juga digunakan untuk pengembangan masyarakat agar sejahtera. ”Desa Megawon memiliki dua keunikan, sentra pembuatan sarang burung dan produksi makanan khas berupa getuk gulung,” imbuhnya.

Dana desa bisa digunakan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memaksimalkan kemampuannya. Sehingga bisa digunakan untuk pelatihan atau lainnya untuk pemberdayaan masyarakat, tentunya sepanjang memenuhi aturan.

Di Desa Gulang yang mendapatkan dana desa 960 juta sama, dana desa digunakan untuk optimalisasi tanah bengkok yang selama ini kurang menghasilkan. Salahs atunya disewakan untuk sentra pembuatan batu bata dan pembuatan tambak karena tanah bengkok banyak berupa rawa yang akhirnya tidak produktif.

Artinya, peran dana desa sangat penting untuk kemajuan desa, sehingga kepala desa harus mampu memaksimalkan dana desa yang ada. Tentunya dengan membuat program yang berorientasi kepada kesejahteraan masyarakat.(linfokom)

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK – Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Prodi PBSI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muria Kudus (UMK) Eko Widianto, M.Pd mengajar mahasiswa Hanoi University, Vietnam. Selain itu juga mengajar masyarakat umum Vietnam di pusat pameran kebudayaan di Kedutaan Besar Indonesia di Vietnam.

Eko Widianto mengatakan, dirinya mengajar Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) dan mengenalkan budaya di Hanoi University. ”Saya mengajar sekitar empat bulan, berakhir 10 desember 2018 ini,” katanya kemarin.

Selain mengajar bahasa Indonesia, dia juga mengajar di sebuah pusat pameran kebudayaan yang didesain seperti cafe yang dimiliki KBRI Hanoi, yakni Umah Indo. Khusus di Umah Indo, yang belajar tak hanya mahasiswa, tapi masyarakat umum.

Eko Widianto sendiri merupakan pengajar lepas BIPA Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan (PPSDK) Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemdikbud setelah lolos seleksi pada 2016.  Sehingga bisa bertugas sebagai pengajar Bahasa Indonesia dan budaya di Vietnam. ”Tentu setelah mendapatkan izin dari UMK,” terang pria kelahiran Jepara, 22 Mei 1992 ini.

Sebelum mengajar di Vietnam, Januari sampai dengan Mei 2017, dia ditugaskan mengajar BIPA ke Tunisia, Afrika Utara. Karena dinilai baik, akhirnya kembali ditugaskan mengajar di Hanoi University.

Dia menambahkan, karakteristik orang Vietnam cukup unik, dalam bahasa Vietnam dikenal intonasi. Sehingga mereka selalu belajar Bahasa Indonesia sesuai dengan intonasi yang dilafalkan oleh pengajarnya.

Alhasil, mereka cukup cepat belajar Bahasa Indonesia dengan baik. Selain itu, orang Vietnam memiliki etos belajar yang kuat dan baik. ”Jadi cukup menarik ketika mengajar,” jelas pria yang tinggal di Jl Tubagus Rt 04 Rw 01 Kerso, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara.

Untuk kelas budaya, kegiatannya antara lain nonton film Indonesia, masak perkedel, kolak dan masakan dan minuman lain khas Indonesia. Selain itu juga bermain permainan tradisional Indonesia seperti dakon dan lainnya.

Kegiatan lainnya, melakukan diplomasi program atau promosi program ke beberapa instansi. Lalu mengembangkan bahan ajar BIPA untuk Hanoi University Vietnam.

Selanjutnya, belajar Bahasa Vietnam dan mengikuti beberapa kegiatan yang diselenggarakan oleh Hanoi University dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Sana. ”Kegiatan saya cukup padat dan tentunya menambah pengalaman,” ungkapnya.

Dia menambahkan, sementara untuk UMK dan Hanoi University, banyak peluang kerjasama yang diambil. Mulai  dari pertukaran mahasiswa, pertukaran dosen, Joint seminar, supporting pembukaan jurusan bahasa Indonesia di Hanoi University, supporting Unit BIPA di UMK, dan sebagainya.

Ia berharap Program Pengajaran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing di Vietnam terus berlanjut, makin tahun pemelajar makin banyak. “Selain itu semoga tahun depan BIPA menjadi mata kuliah wajib di Hanoi University, dan semoga tahun-tahun berikutnya Hanoi University Vietnam membuka jurusan bahasa Indonesia, agar bahasa Indonesia makin dikenal di dunia.” Harapnya.  (Ahsin/Linfokom)

 

 

 

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK – Dua Dosen La Trobe University Australia mengajar mahasiswa jurusan pendidikan guru sekolah dasar (PGSD) Universitas Muria Kudus (UMK). Dosen tersebut juga menawarkan mahasiswa PGSD UMK untuk belajar di Universitas La Trobe, tentunya kemampuan Bahasa Inggris sudah mumpuni.

Dua dosen tersebut memberikan kuliah umum kepada ratusan mahasiswa PGSD di ruang seminar lantai V gedung J UMK. Uniknya, dosen asli Australia yang menjadi narasumber juga bisa berbicara Bahasa Indonesia, walaupun tidak terlalu lancar.

Narasumber dari La Trobe University Prof. Ass. Philip D. Trebilcock, Ph.D mengatakan, menjadi guru, terutama guru untuk sekolah dasar memang harus didasari dengan rasa sayang. ”You must love him and believe him,” katanya kemarin (12/12/2018).

Semua siswa memiliki karakter dan kemampuan masing-masing, sebagai guru harus mampu membantu siswa dalam memahami pelajaran yang ada. Sehingga guru jangan sampai putus asa dalam memberikan pelajaran ketika ada murid yang kebetulan sulit memahami pelajaran.

Menurutnya, guru juga harus membayangkan bahwa muridmu adalah anakmu. Sehingga seorang guru harus dituntut untuk kerja keras dan terus belajar, karena untuk menjadi guru yang baik tidaklah instan. ”Guru yang baik harus jujur, good person,” terangnya.

Sebagai guru juga harus memiliki kepercayaan diri yang tinggi, karena akan sangat menunjang dalam mengajar. Jangan sampai guru tidak percaya diri, tentunya untuk menumbuhkan percaya diri harus terus belajar dan menguasai apa yang diajarkan.

Sementara itu, narasumber kelahiran Ambon, Prof. Ass. Marthin G Nanere, Ph.D mengatakan, seseorang yang paling penting dilihat dari attitude atau kelakuan yang baik. ”Guru wajib memiliki attitude yang baik,” imbuhnya.

Di Australia, attitude menjadi penilain paling penting ketika perusahaan melakukan seleksi karyawan. Ketika ada orang pintar namun attitude tidak baik, perusahaan tidak akan memilihnya.

Namun ketika kecerdasannya biasa dan memiliki kelakukan yang baik, maka perusahaan akan memilihnya. Karena ketika nanti diterima dipastikan akan mempelajari kondisi pekerjaannya, sehinggga bisa menguasai pekerjaannya dengan baik. ”Attitude paling utama, sebagai manusia don’t give up to learn,” jelasnya.

Dirinya juga memberikan tips dalam mengajar, di setiap kelas, dipastikan kemampun siswa berbeda-beda. Setiap mengajar, dirinya selalu menyiapkan pertanyaan yang sulit, sedang dan mudah.

Pertanyaan sulit akan diberikan kepada siswa atau mahasiswa yang pintar, karena mahasiswa pintar kadang bosan karena materi yang diberikan sudah dipahami. Padahal teman lainnya belum memahami karena membutuhkan waktu lebih untuk memahami. ”Itu trik yang saya pakai, karena memang setiap siswa pasti memiliki kemampuan berbeda, kita harus tahu itu,” ungkapnya.

Dirinya juga menawarkan kepada mahasiswa PGSD yang hadir untuk belajar di La Trobe University, tujuannya agar mahasiswa memiliki pengalaman lebih. Pihaknya akan menyiapkan kebutuhan selama belajar di La Trobe University.(linfokom)

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK – Pemasangan alat peraga kampanye (APK) yang dilakukan calon anggota legislatif (caleg) tidak terlalu efektif. Karena dalam kertas suara, caleg DPRD dan DPR RI hanya tertulis nomor dan nama saja. Untuk itu, lebih efektif melakukan kampanye dengan rapat terbatas karena bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat.

Artinya, caleg bisa mendengarkan langsunga spirasi masyarakat dan masyarakat bisa melihat apakah caleg mampu mewakilinya atau tidak. ”Justru pemasangan APK yang sembarangan justru merusak estetika,” kata Komisoner KPU Jawa Tengah Diana Ariyanti saat seminar di ruang seminar lantai IV gedung rektorat Universitas Muria Kudus (UMK) kemarin.

Kegiatan yang bekerjasama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMK tersebut membuka wawasan mahasiswa akan pentingnya memilih. Tentunya mahasiswa harus menajdi pemiluh cerdas dan turut membantu dalam sosialisasi agar masyarakat semakin cerdas, apalagi pemilu 2018 semakin dekat, 17 April 2019.

Untuk memilih, memang tidak hanya berdasarkan APK yang dipasang, namun juga harus kritis untuk melihat latar belakang caleg dan apa yang akan dilakukan ketika menjadi wakil rakyat. ”Termasuk melihat visi misi capres-cawapres menjadi penting,” terangnya.

Untuk mengetahuinya, memang caleg harus turun untuk bertemu amsyarakat melalui rapat terbatas atau lainnya. Justru kampanye dengan rapat etrbatas dirasa lebih efektif dibanding hanya memasang APK yang dari penelitian justru tidak efektif.

Dirinya juga mengingatkan kepada mahasiswa untuk ikut berperan dalam pemilu 2019 mendatang. Bahkan jika memungkinkan bergabung sebagai petugas di tempat pemungutan suara atau kelompok panitia pemungutan suara (KPPS). ”Saat ini usia 17 tahun sudah bisa menjadi KPPS, dulu minimal usia 25 tahun, jadi mahasiswa bisa ikut serta menjadi bagian dari penyelenggara pemilu,” ujarnya.

Dia mengingatkan, bahwa pada 17 April 2019 akan ada lima surat suara yang akan dipilih. Yakni anggota DPRD kabupaten, DPRD provinsi, DPR RI, DPD, dan presiden.

Sementara itu, Wakil Rektor IV UMK Kudus Dr. Subarkah mengatakan, mahasiswa tidak boleh apatis dalam pemilu. Mahasiswa harus menyalurkan suaranya, tentunya sesuai dengan kata hatinya. ”Jangan sampai memilih secara logis, jangan memilih karen logistik (politik uang_red),” jelasnya.

Ketika berpikir semua calon jelek atau tidak cocok, maka pilihlah calon yang terbaik dari yang terburuk. Karena pemilu yang diselenggarakan merupakan salah satu proses demokrasi.

Sistem demokrasi selama ini sudah teruji dan memiliki sejarah panjang, sistem demokrasi juga paling manusiawi dan mengagungkan harkat dan martabat manusia. Selain itu demokrasi juga menjamins ecara konstitusional hak-hak warga negara atas dasar hukum dan demokrasi juga mampu mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan kelanggengan stabilitas politik.(linfokom)

Page 10 of 342