iden

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK - Produsen sepatu Adidas, PT Hwaseung Indonesia (HWI) bakal melakukan rekrutmen atau manajemen trainee bekerjasama dengan Pusat Karir dan Pelacakan Alumni (PKPA) Universitas Muria Kudus (UMK). Kegiatan ini sudah berjalan untuk ketiga kalinya, karena lulusan UMK yang masuk ke PT HWI dianggap cukup baik, sehingga kerjasama terus berlanjut.
Ketua PKPA UMK Farid Nor Romadlon, M. Pd mengatakan, kerjasama yang dilakukan antara PKPA UMK dan PT HWI sudah berjalan baik. Bahkan rekrutmen yang dilakukan pada 14 Juli 2020 nanti sudah kali ketiga. "PT HWI mengakui kualitas lulusan UMK yang bekerja di PT HWI, kerjasamapun terus berlanjut," katanya kemarin.
Pada Juni 2019 lalu, pihaknya mengadakan rekrutmen bersama PT HWI, ada 40 peserta yang ikut. Setelah dilakukan serangkaian tes, ada 14 orang yang dinyatakan lolos dan bekerja di PT HWI. Saat ini, banyak dari mereka sudah menjadi staf senior karena kinerjanya cukup baik.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa lulusan UMK bisa bersaing di dunia kerja, karena dianggap baik, akhirnya kerjasama terus dilakukan. "Dari PT HWI puas dengan kinerja alumni UMK yang ada di sana," terangnya.
Untuk rekrutmen batch 3 akan dimulai pada 16 Juni 2020. untuk pendaftaran sudah dilakukan beberapa waktu lalu dan terakhir pada 13 Juli 2020. Pihaknya juga sudah memberikan pengumuman tersebut ke sejumlah alumni dan pengumuman dai media sosial.
Ada tiga tahap yang harus dilalui oleh peserta, yakni tes potensi akademik, psikotes dan interview. Dari sana nanti akan disaring, siapa yang lolos dan tidak pada tahap interview. Inetrveiw nantinya akan dilakukan langsung oleh PT HWI.
Manajer HRD Divisi Rekrutmen Anton mengakui jika lulusan UMK yang bekerja di tempatnya cukup baik. Sehingga pihaknya terus menjalin kerjasama ketika memang pihaknya membutuhkan karyawan. "Kinerjanya bagus, kuat dengan tekanan," ujarnya.
Pihaknya tentu berterimakasih dengan UMK atas jalinan kerjasama yang dilakukan selama ini. Sehingga kerjasama yang saling menguntungkan ini bisa berjalan baik kedepannya. "Untuk manajemen trainee kali ini baru dilakukan dengan UMK," imbuhnya.(Humas-Linfokom)

 

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK – Lulusan Program Studi (Prodi) Sistem Informasi Universitas Muria Kudus (UMK) akan mendapatkan dua gelar, S.Kom.,MTA. Microsoft Technology Associate (MTA) merupakan program sertifikasi internasioal. Artinya, lulusan Prodi SI yang mengikuti program tersebut menandakan memilki kemampuan teknologi informasi (IT) sesuai standar internasional.

Direktur Centrol IT Unit Sertifikasi Kompetensi (USK) Prodi SI UMK, Dr. Eko Darmanto mengatakan, program MTA merupakan program sertifikasi dari Microsoft. Jadi, mahasiswa Prodi SI tidak hanya belajar teori, tapi juga praktek.  ”Ini merupakan cara kami dalam menghadapi perkembangan IT di era industri 4.0,” katanya kemarin.

Pihaknyapun sudah mendirikan USK CentrolIT sejak 2019, lembaga tersebut mengelola ujian kompetensi mahasiswa dibidang IT. Program awal yakni program sertifikasi internasional dari microsoft tersebut, MTA.

Mahasiswa bisa mengikuti beberapa skema ujian sesuai keinginannya, ada tiga paket sekama. Yakni Database Fundamentals, Software Development, HTML5 Application Development. ”Jadi ujian sertifikasi MTA diperuntukkan bagi yang memiliki tiga kemampuan tersebut, karena ujiannya banyak diisi dengan pertanyaan praktis,” terangnya.

Mereka yang lulus akan mendapatkan sertifikat resmi dari Microsoft dan titel MTA bisa disematkan di belakang namanya. Sehingga ketika yang lulus ujian adalah mahasiswa Prodi SI UMK, maka akan mendapatkan gelar S.Kom., MTA. Titel yang disematkan berlaku secara internasioal dan seumur hidup, jadi ada keuntungan lebih ketika kuliah di Prodi SI UMK.

Dia menambahkan, sertifikasi ini bukan program wajib bagi mahasiswa, diserahkan mahasiswa ingin mengikutinya atau tidak. Namun ketika melihat manfaatnya, tentu akan bermanfaat besar bagi mahasiswa. Apalagi sertifikasi berstandar internasional, namun biayanya sangat terjangkau.

Pada angkatan pertama atau batch-1, program MTA diikui 28 orang, baik dari dalam kampus UMK maupun dari luar. Untuk peserta tidak hanya dari Prodi SI saja, lain prodi juga diperbolehkan. ”Bahkan ada praktisi di Kudus yang telah lama berkecimpung dibidang TI juga ikut,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Prodi SI UMK, Pratomo Setiaji, M.Kom mengatakan, adanya program MTA tersebut, menunjukkan kesiapan Prodi SI dalam menghadapi persaingan global. Hal itu sesuai dengan konsep visi dari UMK, yakni berdaya saing global.

Mahasiswa UMK secara keilmuan di bekali teori dan praktek, untuk mata kuliah kontennya juga di sesuaikan dengan standar internasional, sehingga ujian sertifikasi MTA bisa diikuti mahasiswa.

Dia menambahkan, untuk meningkatkan kompetensi Prodi SI UMK, semua dosennya wajib mengikuti ujian sertifikasi kompetensi. Saat ini sudah ada sembilan dosen yang dinyatakan lulus ujian sertifikasi MTA. ”Empat dosen diantaranya telah mengikuti Training of Trainer (ToT) program sertifikasi MTA ini,” ungkapnya.

Rencananya, untuk meningkatkan jejaring dan kualitas lulusan, kerjasama sertifikasi internasional tidak hanya terpaku pada satu vendor saja yaitu Microsoft. Pihaknya sudah berencana untuk mengandeng vendor lain.

Bahkan juga kerjasama dengan program sertifikasi dibidang manajemen dan tatakelola IT. Sehingga lulusan Prodi SI UMK tidak hanya memiliki kompetensi secara teknis, tapi juga memiliki kompetensi dari segi penerapan IT di lingkungan bisnis.

Dia menambahkan, saat ini telah dibuka program sertifikasi MTA angkatan kedua. Namun akan sedikit berbeda dalam pelaksanaannya karena pandemi Covid-19. Pelaksanaan harus mengikuti protokol kesehatan dan jumlah peserta juga dibatasi,karena harus physical distancing.

Sementara itu, lulusan program sertifikasi MTA Soma Setiawan mengakui mendapat banyak manfaat dariadanya ujian sertifikasi MTA tersebut. Apalagi titelnya resmi dan berstandar internasional.

Direktur salah satu perusahaan IT di Kudus tersebut mengikuti program sertifikasi MTA karena memang adanya tuntutan dalam pekerjaannya. ”Dengan memiliki titel MTA, menandakan kemampuan dibidang IT, apalagi berstandar internasional sehingga lebih menyakinkan calon konsumen ketika bertransaksi,” jelasnya.(Humas-Linfokom)

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK – Universitas Muria Kudus (UMK) tengah mencetak wirausahawan baru melalui Progam  Pengembangan Kewirausahaan (PPK) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Saat ini sudah ada sekiar 84 mahasiswa yang mengikuti tahap awal. Targetnya, muncul pengusaha baru di berbagai bidang dari UMK.

Ketua PPK FKIP UMK Nuraeningsih,M.Pd mengatakan, kegiatan PPK FKIP ini merupakan tahun kedua, tahun pertama sudah memunculkan pengusaha baru. Ada yang bergerak dibidang makanan, minuman, budidaya jamur hingga budidaya tanaman hias. ”Tahun kedua ini kami harap yang berhasil jauh lebih besar,” katanya kemarin.

PPK memang didesain untuk mendampingi mahasiswa yang berminat untuk berwirausaha, baik yang sudah berjalan atau baru sekedar memiliki ide. Bagi yang sudah berjalan tentu akan lebih mudah, sementara yang sebatas ide harus disupport lebih hingga ideanya bisa di realisasikan.

Untuk tahap pertama, pihaknya sudah melakukan pelatihan, karena masih masa pandemi Covid-19, pelatihan dilakukan secara online. Pihaknya menggandeng pihak ketiga yang memang memiliki keahlian dalam bidang marketing. ”Mahasiswa yang ikut untuk PPK tahun kedua ini cukup banyak, ada 84 orang,” terangnya.

Pelaksanaan PPK FKIP ini memiliki lima tahap, pertama, tahap persiapan yang terdiri dari sosialisasi & rekruitmen. Lalu tahap awal berupa pelatihan teknis dan manajemen secara online dan membuat business plan.

Selanjutnya tahap pengembangan berupa pendirian awal dan market test, sementara tahap akhir berupa grand opening, promosi dan pameran serta pameran. Untuk tahap pasca berupa pelepasan tenant. ”Estimasi kami, setahun mereka yang mengikuti ini bisaberjalan usahanya,” ujarnya.

Pihaknya optimis jika pelaksanaan PPK FKIP ini bisa berjalan maksimal, apalagi pihaknya juga didukung pendanaannya oleh Kementrian Riset dan Teknologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristekbrin).

 Mahasiswa salah satu peserta PPK FKIP Fatihah Nor Romadlon mengaku sangat terbantu dengan PPK FKIP, karena banyak ilmu yang didapat untuk mengembangkan usahanya. ”Saat berjualan minuman kopi siap minum, dikemas di botol, inginnya kedepan bisa punya kafe,” ungkapnya.

Sejak mengikuti PPK, dirinya langsung merealisasikan ide usaha yang dimiliki. Pelatihan yang diikui juga cukup menarik baginya, karena pelatihan marketing online jelas sangat bermanfaat untuk memperluas atau mengenalkan produk secara luas.(Humas-Linfokom)

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK - Kepala Bagian (Kabag) Tracer Study Pusat Karir dan Pelacakan Aluni (PKPA) Universitas Muria Kudus Muhammad Arifin, M.Kom sebagai narasumber dalam workshop 'Pengisian Laman Tracer Study Bagi Perguruan Tinggi Swasta di Lingkungan LLDIKTI Wilayah VI'. Dalam workshop tesebut dia menegaskan pentingnya tracer study bagi perguruan tinggi.
Mohammad Arifin, M.Pd mengatakan, tracer study (TS) perlu dilakukan oleh perguruan tinggi, karena bisa merekam perjalanan lulusan sejak mereka meninggalkan perguruan tingginya sampai TS dilakukan. "Banyak hal yang bisa dilakukan ketika memang mampu melakukan TS dengan baik," katanya kemarin.
Selain itu, TS juga bisa untuk merencanakan pengembangan kurikulun sesuai dengan umpan balik yang diberikan oleh responden. Lalu untuk merencanakan kegiatan-kegiatan guna persiapan mahasiswa untuk memasuki dunia kerja yang kompetitif.
Paling penting juga adanya TS bisa untuk mengetahui penyerapan, proses dan posisi lulusan dalam dunia kerja sehingga dapat menyiapkan lulusan sesuai dengan kompetensi yang diperlukan di dunia kerja. "Semua itu bertujuan untuk mendapatkan informasi guna pengembangan pendidikan tinggi," terangnya.
Sementara untuk metodologi TS, pertama desain, survei sensus, melibatkan seluruh lulusan PT pada tahun kohort yang diikuti. Untuk subyek, lulusan pada kohort 2 tahun ke belakang (dari tahun dilaksanakannya tracer study, misalnya tracer study 2020 maka populasi dan subyeknya adalah lulusan tahun 2018).
Untuk metode pelacakan, disarankan online karena lebih efektif, efisien, dan praktis. Meskipun demikian, dapat pula dilakukan berbagai cara pengumpulan data (wawancara tatap muka, wawancara telepon, surat pos, surat elektronik). Untuk instrumen, kuesioner standar yaitu Kuesioner Tracer Study.
Persiapan lainnya tentu harus dilakukan dan harus dipahami dengan baik oleh semua perguruan tinggi, terutama yang fokus dalam TS. Sehingga proses TC bisa berjalan maksimal dan mendapatkan ahsil maksimal. "Karena dari data TS tersebut, bisa menajdi pijakan atau landasan banyak hal untuk pengembangan perguruan tinggi," ujarnya.
Setelah workshop yang dilakukan ini, pihaknya tentu berharap semua peserta workshop bisa memahami dengan baik dan bisa menerapkannya. Apalagi yang selama ini memang belum fokus untuk TC di perguruan tingginya.(Humas-Linfokom)

 

Page 9 of 386