iden

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK – Generasi alpha atau generasi yang lahir 2010 sampai 2025 sudah dekat dengan gadget. Artinya dalam proses pembelajaran, terutama Bahasa Inggris, guru harus memiliki cara baru menyesuaikan dengan generasi alpha.

Saat ini usia generasi alpha sekitar sembilan tahun, artinya guru juga harus menyambutnya dengan tepat. Sehingga program studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Muria Kudus (UMK) mengadakan seminar nasional Teaching English to Young Learners in Indonesia (TEYLIN). ”Tema ini baru kali pertama diangkat di Indonesia,” kata Kaprodi PBI UMK Nuraeningsih, S.Pd saat seminar yang dilaksanakan di Hotel Griptha kemarin (20/9/2019).

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari mulai 20 dan 21 September 2019 tersebut diikuti banyak peserta. Termasuk planery speaker juga hadir semua, seperti Dr. Willy A Renandra dari Nanyang Tecnological University dari Singapura, Dr Nooreen Noordin dari Universiti Putra Malaysia dari Malaysia dan Phung Hai Chi dari Hanoi University, Vietnam.

Selain itu ada juga Prof. Junaidi Mistar, Ph.D dari Universitas Islam Malang, Dr. Itje Chodijah , MA yang merupakan konsultasl profesional ELT dan EYL. Sementara dari Universitas Muria Kudus ada Dr. Sri Endang K, M.Pd.

Pada kegiatan tersebut, memang guru harus mulai berinovasi dengan munculnya generasi alpha. Karena metode konvensional bisa tidak efektif, perlu ditambah dengan metode lain menyesuaikan generasi alpha yang merupakan digital natives.

Sementara itu, Plt Bupati Kudus Hartopo yang hadir dalam kegiatan tersebut mengakui pentingnya Bahasa Inggris. Karena dirinya memiliki pengalaman banyak bersentuhan dengan dunia luar. ”Bahasa bisnis dan teknologi ya Bahasa Inggris,” jelasnya.

Dirinya berharap kedepan di Kudus juga bisa muncul kampong Inggris, tujuannya tak lain agar banyak warag Kudus yang menguasainya. Karena diakui atau tidak, Bahasa Inggris akan bermanfaat banyak di era globalisasi seperti saat ini.

Menurutnya, kaum millenial akan sulit bersaing ketika tidak menguasai Bahasa Inggris, apalagi generasi alpha. ”Saya kalo mendengar orang berbicara Bahasa Inggris paham, tapi kalau mau membalas omongan tidak bisa,” imbuhnya.(Linfokom-Humas)

 

 

 

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

UMK – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muria Kudus (UMK) menyelenggarakan kuliah perdana bagi mahasiswa angkatan 2019. Dalam kuliah perdana tersaebut, lebih menkankan kepada pentingnya personal branding bagi kaum millenial.

 Kuliah perdana diisi oleh Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc yang merupakan guru Besar ILMU Perilaku Konsumen, Dekan Fakultas Ekologi IPB. ”Personal branding sangat penting dalam kehidupan sehari-hari,” katanya saat kuliah perdana di auditorium UMK yang dihadiri sekitar 850 mahasiswa, Kamis (19/9/2019).

Personal branding merupakan proses menciptakan ide positif yang kuat , terdefinisi dengan baik, dan tentang seseorang yang akan muncul di benak setiap kali seseorang memikirkan individu tersebut.

Personal branding berguna untuk memperkenalkan diri secara lisan, visual, dan tertulis, untuk membuat aura tentang apa yang harus dilakukan dan untuk menunjukkan kepada orang lain tentang kepercayaan, nilai, dan kemampuan individu. Selain itu juga untuk mengubah atau mengklarifikasi pengaruh.

Peran kepribadian dalam personal branding nampak pada ciri yang berbeda dalam diri seseorang untuk membantu membentuk kepribadian lengkap mereka. Oleh karena itu kepribadian merupakan formulasi pertambahan dari kualitas, kemampuan dan kelemahan diri. ”Kepribadian memainkan peran penting dalam membangun merek pribadi karenak pribadian seorang individu akhirnya menjadi merek dan citra,” terangnya.

Tiga strategi sederhana yang dapat dilakukan oleh generasi millenial diantaranya adalah alasan melakukan suatu aktivitas, memiliki perbedaan dan proposi diri yang unik, dan jejaring sosial.

Adapun tantangan yang dihadapi generasi millennial adalah, volatility, uncertainty, complexity, ambiguity (VUCA). Sementara untuk menangkalnya dengan vision, understanding, clarity, agility. (Linfokom – Humas)

 

 

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK – Universitas Muria Kudus (UMK) melakukan pendampingan di Desa Grawan, Kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang penataan wisata. Bendungan yang ada menajdi modal utama untuk dikelola. Nantinya UMK akan melakukan Pendampingan selama tiga tahun.

Pengabdian masyarakat yang dilakukan UMK didukung penuh Direktorat Jendral Penguatan Riset dan Pengabdian Kepada Masyarakat Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. ”Kami lakukan pendampingan tiga tahun, setiap tahun fokusnya berbeda,” kata sekretaris Tim Pengabdian UMK Edris Zamroni kemarin.

Ide tersebut muncul saat adanya informasi dari mahasiswa yang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desa tersebut pada 2018. Potensi Bendungan Grawan yang menarik untuk dikembangkan untuk wisata. Baik menjadi wisata untuk even ataupun insidental.

Sehingga pihaknya langsung melakukan eksekusi dengan pendampingan guna meningkatkan kelompok sadar wisata desa setempat agar bisa mengelola lebih baik. Karena potensi untuk peningkatan kesejahteraan amsyarakat sekitar dari wisata bendungan cukup besar. ”Tergantung bagaimana kita bisa mengelolanya dengan baik,” terangnya.

Untuk tahun pertama, pihaknya fokus kepada keterampilan kepariwisataan dan pengembangan lokasi. Tahun kedua fokus kepada pengembangan unit usaha lanjutan, dan tahun ketiga fokus kepada pengembangan akses lokasi. ”Kami lakukan bertahap agar lebih fokus, karena kendala pasti akan muncul,” jelasnya.

Tahun pertama, pihaknya fokus pemberian pelatihan kepariwisataan kepada kelompok sadar wisata yang sudah terbentuks ebelumnya. Tujuannya tak lain agar mengetahui dasar-dasar dalam kepariwisataan.

Pelatihan yang dilakukan antara lain pelatihan sebagai pemandu wisata, pelatihan promosi wisata, pelatihan wisata event dan pengelolaan keekonomian objek wisata. ”Ketika sudah terlatih, diharapkan pengelolaan wisata bisa lebih profesional yang tentunya berujung kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat,” imbuhnya.

Selain itu, pihaknya juga menyiapkan pelatihan untuk pembuatan oleh-oleh, mulai dari cinderamata dan makanan. Karena dari oleh-oleh itulah yang menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.

Kepala Desa Grawan, Saji mengatakan, pihaknya mengucapkan terimakasih kepada tim pengabdian masyarakat dari UMK. Dirinya berharap pendampingan dilakukan sampai akhir, yakni sampai benar-benar siap dan mandiri dalam mengelola potensi wisata tersebut.

Karena untuk menjadi kelompok sadar wisata yang baik, dibutuhkan pelatihan saja, namun yang penting pendampingannya. Sehingga pelaksanaan dari pelatihan bisa dilakukan pemantauan, sudah diterapkan dengan baik atau belum.(Linfokom - Humas)

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK – Universitas Muria Kudus (UMK) melakukan inisiasi pembuatan museum kain torso di Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara. Sentra kain troso di desa tersebut sudah dikenal cukup luas, bahkan ada even tahunan yang selalu digelar untuk mengenalkan kain troso.
Ketua Tim Skim Penelitian Terapan Unggulan Perguruan Tinggi (PTUPT) UMK Dr. Mamik Indaryani mengatakan, kegiatan pendampingan di sentra kain troso dilakukan selama tiga tahun. Untuk tahun ini merupakan tahun ketiga yang fokus kepada wisata. ”Karena potensi wisatanya jelas ada, salah satunya dengan adanya museum,” katanya saat kegiatan forum group discussion (FGD) Kajian Pakar Tenun dan Perintisan Museum di Rumah Makan Bale banyu kemarin (16/9/2019).
Untuk tahun pertama pihaknya sudah fokus kepada produksi dan kualitas, sementara untuk tahun ketiga akan fokus kepada promosi. Artinya, pihaknya akan melakukan pendampingan secara penuh dari awal hingga akhir.
Pembuatan museum diperlukan karena bisa menarik wisatawan, selain itu bisa dijadikan pusat edukasi tentang kain troso. ”Kami juga mengundang pakar museum untuk bisa merealisasikannya, karena pengelolaan museum juga harus tepat,” terangnya.
Dirinya memunculkan ide pembuatan museum karena melihat banyaknya motif kain troso atau tenun yang dibuat. Sehingga perlu tempat untuk memamerkan motif-motif tersebut, pihaknya juga sudah korodinasi dengan pihak desa hingga dinas terkait.
Dia menambahkan, ada contoh museum yang sudah jalan, yakni museum batik di Pekalongan. Semula museum tersebut diinisiasi oleh masyarakat dan sudah jalan dan kini diambil pengelolaannya oleh pemerintah.
Pakar Museum dan Batik Zahir Widadi mengatakan, untuk membuat museum harus tepat, antara infrastruktur dan mindset pengusaha tenun harus digarap. Jangan sampai hanya membuat saja namun mindset masyarakatnya tidak berubah, nantinya museum akan mati. ”Saat saya menjadi kepala museum batik, keduanya saya garap bersamaan, jangan membangun museum jika SDM tidak siap,” jelasnya.
Dia mengingatkan, museum bukan berarti hanya kumpulan barang kuno, namun fungsi museum bisa dimaksimalkan sebagai galeri dan showroom, sehingga akan menarik wisatawan untuk membeli. Koleksi tenun masing-masing daerah di Indonesia juga bisa menambah daya Tarik.
Selain itu, dia juga mengingatkan pentingnya proses produksi secara tradisional, jangan sampai mengarah ke modern. Karena akan menghilangkan nilai budaya, ketika menggunakan mesin maka dipastikan hanya motif ekonomis saja, yang penting laku.
Untuk itu, pihaknya berharap agar pembuatan museum nanti dilakukan dengan tepat, jangan sampai salah langkah. Karena sudah banyak museum yang mati karena salah pengelolaan. ”Even tenun yang dilakukan juga harus besar, jangan buat hanya nasional, tapi inetrnasional juga, toh biayanya hampir sama,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Koperasi Kain Troso Sunarto menambahkan, saat ini memang motif ekonomi lebih mendominasi. Karena di di desanya, motif troso dari daerah lain bisa dibuat, sehingga belum memiliki ciri khas. Namun kini sudah memunculkan motif khas troso.
Dalam membuat kain tenun, pihaknya memang tidak melihat dari sisi budaya, memang bisnis oriented. Bahkan meniru motif daerah lain juga bisa. ”Orang troso, bisa meniru segala motif,” imbuhnya.
Pihaknya juga berharap agar UMK bisa mendampingi sampai selesai, karena ketika tidak dilakukan pendampingan tentu akan sulit terealisasi. Karena memang secara SDM masih kurang, butuh penambahan wawasan melalui pendampingan.(Linfokom-Humas)

Page 9 of 370