iden

UMK – Kasus bullying siswa kepada guru yang sempat viral menjadi perhatian khusus HIMA Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muria Kudus (UMK). Butuh pendidikan karakter untuk menyelesaikannya agar tak terjadi kembali, guru harus mampu memahami persoalan tersebut.

Dosen jurusan PGSD FKIP UMK Wafiq Nurul Huda mengatakan, diadakannya seminar nasional dengan tema ‘mencari permata pendidikan karakter yang tersembunyi dalam kurikulum 2013’ memang karena ada kasus bully siswa kepada guru. ”berangkat dari hal itu, pendidikan karakter harus difokuskan,” katanya kemarin.

Sehingga pendidikan karakter yang baik diharapkan tidak ada siswa yang melakukan bully, baik kepada siswa lainnya apalagi kepada guru. Kegiatans eminar tersebutpun diikuti oleh mahasiswa PGSD.

Salah satu narasumber Prof. Endang Danial AR yang merupakan pakar pendidikan kewarganegaraan mengatakan,  karakter anak bisa dipengaruhi dari empat aspek. Pertama aspek sekolah, keluarga, teman bermain dan lingkungan alam dan budaya.

Penguatan karakter adalah pembinaan secara berkelanjutan yang dilakukan sekolah yang sudah dibekali nilai-nilai dasar dari rumahnya sesuai dengan keyakinan dan lingkungan budaya amsing-masing. Sekolah harus menjadi model pusat penguatan karakter anak bermartabat bagi masa depan mereka.

Narasumber lainnya, Dosen PGSD UMK Ika Ari Pratiwi mengatakan, globalisasi membawa masyarakat Indonesia melupakan pendidikan karakter bangsa. Sehingg persoalan tersebut menajdi persoalan serius yang harus segera ditangani.

Pendidikan karakter harus difokuskan karena kegagalan anak disekolah bukan pada kecerdasan otak, melainkan pada karakter. Bahkan keberhasilan sesorang lebih dipengaruhi oleh kecerdasan emosi 80 persen daripada kecerdasan otak sebanyak 20 persen. ”Pendidikan karakter penting dilakukan dalam pembelajaran untuk meningkatkan mutu pendidikan,” terangnya.

Dalam kurikulum 2013, pemerintah sudah memberikan perhatian khusus, sehingg aperlu dimasimalkan. Menurutnya, pendidikan karakter bukan hanya penting, namun mutlak dilakukan oelh setiap bangsa jika ingin menajdi bangsa yang beradab. Karena jika melihat fakta yang ada, negara bisa maju karena memiliki karakter unggul, seperti kejujuran, kerjakeras, tanggungjawab dan lainnya.

Kepala SD 1 Dengkek, Kabupaten Pati Cicilia Tri Suci Rokhani menambahkan, penguatan pendidikan karakter (PPK) hadir untuk menyiapkan generasi emas 2045pendidikan karakter ditempatkan sebagai ruh pendidikan di Indonesia berdampingan dengan intelektualitas.

PPK berperan dalam pembentukan generasi muda yang tangguh, cerdas dan berkarakter. Untuk dimensi pengolahan karakter ada di religiusitas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong dan integritas.(linfokom)

UMK - Temu kangen alumni Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) FKIP UMK angkatan 2006 yang digelar di aula Masjid Darul Ilmi berlangsung seru dan sukses Minggu (2/12/2018). Serunya, reuni rindu ini mampu menghadirkan nostalgia semasa kuliah.

Nostalgia itu seperti saat ratusan hadirin diajak seperti melewati lorong waktu dan tiba pada masa sekitar 10 tahun silam. Memori itu sekejap balik diingatan saat diputar foto-foto jadul saat masih berjas biru tua (jas resmi mahasiswa UMK). Putaran foto berdurasi 12,9 menit mampu menghadirkan sejuta makna bagi tiap lulusan yang hadir.

Itu terlihat dari berbagai respon masing-masing alumni. Ada yang tak kuat menahan tawa saat melihat foto konyolnya diputar. Ada juga yang salting harus terpaksa menutup wajahnya. Terlebih bagi alumni yang hadir dengan didampingi pasangan dan anaknya.

Para alumni juga memanfaatkan kesempatan untuk berfoto-foto kembali untuk mengabadikan momen reunian. Puluhan door prize yang disiapkan panitia pelaksana dibagi bagi para alumni yang hadir.

Makin meriah acara tersebut juga diisi dengan hiburan Band Biarine. Kelompok musik mampu turut membangkitkan kenangan dengan memainkan lagu-lagu 90an ini. Beberapa juga memainkan lagu ciptaan sendiri.

Salah seorang lulusan asal Kota Jepara Mohamad Noval yang berksempatan menyampaikan pesan kesan. Di hadapan para alumni dan dosen berseloroh foto-foto yang muncul itu merupakan ekspresi yang mungkin tidak diketahui teman satu angkatan atau bahkan dosen.

Foto yang ditampilkanpun sangat unik dan beragam, sehingga veido yang berisi foto-foto yang diputar sesekali memunculkan keriuhan dan tawa. Termasuk dari dosen yang hadir.

Kaprogdi PBI Nuraeningsih yang saat itu hadir mengatakan, bangga dengan para para alumni. Tak hanya menempuh karir sebagai guru, dosen, tapi juga berwirausaha, hingga menjadi jurnalis. Diharapkan, meski sudah lulus nilai-nilai kependidikan tetap ada dalam diri tiap alumni.

”Sekarang di jurusan PBI sudah ada perubahan-perubahan. Dulu pada 2006 tidak ada mata kuliah publik speaking kini ada karena melihat kebutuhan era sekarang,” ujar Nurainingsih.

Ketua panitia Agus Sulistiyanto mengatakan, kegiatan tersebut memang cukup mengagumkan, karena hanya dibutuhkan waktu dua minggu untuk persiapan. Namun dengan tim yang solid dan kepedulian semua angkatan 2006, akhirnya kegiatan bisa terlaksana dengan baikw alaupun persiapan hanya dua minggu saja.

Memang tidak semua angkatan 2006 menjadi guru, banyak yang berkarir di bidang lain, bahkan banyak yang berwirausaha. Namun bukan berarti ilmu yang dipelajari tidak bermanfaat ketika tidak menjadi guru. Seperti yang dikatakan Ki Hajar Dewantara, ‘semua orang adalah guru, dan setiap rumah adalah sekolah’.(Linfokom)

Page 8 of 338