iden

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK – Universitas Muria Kudus (UMK) menjalin kerjasama dengan Central Bicol State University of Agriculture (CBSUA), Philipina. Kerjasama yng dijalin menyangkut banyak bidang, seperti pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Rektor UMK dr. Suparnyo mengatakan, kerjasama yang dilakukan merupakan salah satu upaya inetrnasionalisasi UMK. ”Ini untuk mencapai visi kita menajdi universitas unggul, berbasis kearifan lokal, dan berdaya saing global,” katanya kemarin.

Dengan kerjasama yangs udah disepakati, beberapa kegiatan yang dilaksanakan antara lain pertukaran dosen (lecturer exchange), pertukaran mahasiswa (student exchange), dan penelitian bersama (joint research). Selain itu ada juga seminar bersama (joint seminar), membuat jurnal bersama (joint publication), dan lain sebagainya.

Pihak CBSUA juga sangat mendukung kerjasama tersebut, karena bisa bermanfaat untuk peningkatan universitas masing-masing. Karena banyak kegiatan yang akan dilaksanakan untuk  menindaklanjuti kerjasama yang sudah disepakati.

Sementara itu, Ketua LPPM Dr Mamik Indaryani menjelaskan, usai penandatanganan langsung diadakan seminar degan presenter dari UMK dan CBSUA. Program yang dikerjasamakan tak hanya penelitian dan publikasi bersama. Ada juga program bahasa (cultural). ”Budaya dan Bahasa Indonesia dengan Philipina memiliki banyak kesamaan, karena masih satu rumpun,” ungkapnya.

Banyak aktivitas bersama yang nantinya dilaksanakan. Misalnya, hasil penelitian yang di seminarkan, launching buku yang ditulis bersama, dan support pada pogram yang diselenggarakan oleh LPPM.

Dalam kegiatan tersebut juga diikuti Rektor UMK Dr H. Suparnyo S.H.,M.S., Wakil Rektor (WR) 4 Dr Subarkah, SH., M, Hum.,  Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Dr Mamik Indaryani,  Kepala Kantor Urusan Internasional (KUI) Mutohhar, S.Pd. M.Pd, dan Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Dr. Slamet Utomo, M. Pd, serta Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Etni Marliana, S.E., MGES.(Linfokom-Humas)

 

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

 UMK – Kelompok Kajian Teater Tigakoma Universitas Muria Kudus (UMK) menggelar workshop dan pementasan di Omah Kendeng, Desa/Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati. Acara bertajuk Menempa Diri, Berkreasi, dan Merawat Bumi itu dilaksanakan selama tiga hari, mulai Jumat-Minggu (25-27/10/2019).

Muhammad Rifky, selaku ketua panitia menjelaskan bahwa kegiatan itu sebagai pembekalan sekaligus peresmian anggota baru teater Tigakoma angkatan 2019. Dipilihnya lokasi Omah Kendeng lantaran memiliki karakteristik lingkungan yang khas.

Yakni masyarakat adat Sedulur Sikep, maupun kekayaan alamnya berupa pegunungan karst. “Dalam sentuhan awal ini, semua warga (anggota) Tigakoma diharapkan dapat lebih menggali kepribadian yang pandai bersosialisasi dan lebih sadar akan lingkungan,” ujarnya.

Total peserta workshop tahun ini kurang lebih sebanyak 50 orang. Mereka terdiri dari mahasiswa-mahasiswi berbagai program studi di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muria Kudus (FKIP-UMK). Dalam workhsop mereka diberi sejumlah materi dan pengetahuan ihwal seni peran serta pemanggungan.

 “Sebelum puncak acara workshop di Omah Kendeng, kami juga membekali peserta dengan materi pra-workshop di kampus selama beberapa pekan sebelumnya,” terangnya.

Ketua Teater Tigakoma, Afif Khoiruddin menambahkan, materi yang disampaikan narasumber kepada peserta di antaranya yakni penulisan naskah, penyutradaraan, keaktoran, tata musik, tata artistik, tata rias, manajemen pementasan, olah tubuh, dan olah rasa.

Hal itu sebagai bekal agar mahasiswa mampu mengembangkan minat dan bakatnya untuk menciptakan karya yang layak dan bisa dinikmati masyarakat. “Dalam proses itu mereka akan mempelajari bagaimana mengolah dan mengembangkan diri lewat teater,” urainya.

Menurut Afif, melalui kegiatan workshop teater secara tidak langsung juga belajar mengaplikasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pertama, pendidikan dan pengajaran melalui materi yang disampaikan. Kedua, penelitian dan pengembangan.

Sebab, untuk menciptakan karya wajib mempunyai kepekaan dan observasi mendalam mengenai kondisi lingkungan sekitar. “Terakhir, pengabdian kepada masyarakat. Karena kegiatan yang puncaknya pentas teater tidak kami lakukan di dalam kampus, tapi langsung di tengah-tengah masyarakat,” jelasnya.(Linfokom-Humas)

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK – Universitas Muria Kudus (UMK) mengirim satu dosen dan dua mahasiswa ke dua universitas di Vietnam. Satu dosen mengikuti program visiting lecturer dan  dua mahasiswa mengikuti program magang di KBRI Hanoi.

Mereka yang pergi ke Vietnam yakni Dosen PBSI UMK, Ristiyani, M.Pd dan dua mahasiswa PBSI, Rika Ayu Wulandari dan Zaen Lailatul Ramadhani.

Ketua Kantor Urusan Internasional (KUI) UMK Mutohhar, M.Pd mengatakan, untuk visiting lecture nantinya akan dilakukan di Hanoi University dan Vietnam National University. Nantinya akan mengajar Bahasa Indonesia di dua universitas tersebut. ”Untuk visitng lecturer hanya dua hari saja,” katanya kemarin.

Dua universitas tersebut merupakan universitas yang memang sudah menjalin kerjasama dengan UMK selama ini. Sehingga banyak program yang bisa dilakukan karena kerjasama yang sudah dimiliki, termasuk program visiting lecturer.

Sedangkan untuk dua mahasiswa akan magang di KBRI Hanoi, mereka juga akan mengajar Bahasa Indonesia. Karena selama ini ada orang Vietnam yang belajar Bahasa Indonesia di KBRI Hanoi, Vietnam. ”Mereka akan mendapatkan pengalaman pembelajaran bahasa Indonesia kepada orang asing,” terangnya.

Karena pembelajaran tersebut memang dibutuhkan Negara-negara lain, terutama yang memiliki kepentingan dengan Indonesia, terutama dalam hal bekerja atau bisnis. Untuk dua mahasiswa nantinya magang selama satu bulan.

Sementara itu, Rektor UMK Dr. Suparnyo mengatakan, pihaknya meminta kesempatan tersebut bisa dimanfaatkan sbeiak mungkin, baik dosen maupun mahasiswa. Karena pengalaman tersebut tidak semua bisa didapatkan, terutama mahasiswa.

Setelah sampai ke Indonesia, pihaknya juga meminta agar bisa ditularkan kepada mahasiswa lain di UMK, tujuannya agar mereka juga tertarik untuk mengikuti program tersebut. ”Jalinan dengan universitas luar negeri dan KBRI juga harus dijaga,” imbuhnya.(Linfokom-Humas)

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK – Penggunaan bahan mentah yang tidak bisa diperbaharui harus mulai dikurangi, salah satunya bisa menggantikannya dengan bahan alternatif, walaupun belum bisa sampai 100 persen. Karena saat ini memang harus fokus kepada rekayasa berkelanjutan atau engineering sustainability.

Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan International Conference on Computer Science and Engineering Technology (ICCSET) 2019 di Hotel Griptha kemarin (29/10/2019). Ada dua narasumber, yakni Profesor Harwin Saptoadi dari Universitas Gadjah Mada dan Profesor Eko Supriyanto dari Universiti Teknologi Malaysia.

Profesor Harwin Saptoadi mengatakan, saat ini, perusahaan besar masih tergantung besar kepada penggunaan batu baran dan minyak untuk menghasilkan energi. Namun kondisi tersebut memang harus dikurangi, walaupun memang tidak bisa menggantikan hingga 100 persen. ”Selain itu butuh pembaharuan mesin dengan teknologi baru untuk efisiensi energi,” katanya.

Dengan upgrading mesin bisa membantu dalam mendapatkan hasil produk secara maksimal. Sehingga walaupun material mentah dan energi yang digunakan, hasilnya justru bisa lebih baik ketika mesin sudah diperbaharui, termasuk dari segi teknologinya.

Itu terlihat dalam produksi semen, ternyata dari tahun ke tahun, penggunaan material mentahnya lebih sedikit, namun produksi semennya lebih banyak.

Dia menambahkan, rekayasa berkelanjutan atau engineering sustainability adalah proses perancangan atau sistem pelaksanaan energy dan sumber daya secara berkelanjutan, yang tidak membahayakan lingkungan dan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.

Untuk saat ini, memang diakui yang bisa melaksanakannya baru industri besar, sementara industri kecil belum bisa melaksanakan rekayasa berkelanjutan. Seperti dari sisi kesehatan dan keselamatan.

Sementara itu, Profesor Eko Supriyanto menambahkan, ada perbedaan dalam traditional engineering dan sustainable engineering. Untuk traditional engineering hanya memeprtimbangkan objeknya, namun  sustainable engineering lebih mempertimbangkan pada sistem dimana objek tersebut digunakan.

Lalu fokus pada penyelesaian persoalan pada saat itu, sementara sustainable engineering fokus dengan berusaha menyelesaikan masalah agar tidak terjadi di masa depan. ”sustainable engineering juga melihat dari sisi global, bukan lokal saja,” jelasnya.

Dirinya memiliki produk untuk mengurangi penggunaan konsumsi listrik, ternyata mampu menghemat penggunaan daya listrik. Ketika bisa menekan biaya listrik, maka pengguna bisa menghemat pengeluaran.

Sehingga, sustainable engineering tidak hanya memikirkan dari segi ekonomi, melainkan juga dari segi sosial dan lingkungan. Untuk itu, pengembangan harus mengarah kepada rekayasa berkelanjutan.(Linfokom-Humas)                                                                                                                                          

Page 7 of 372