iden

UMK – Dua mahasiswa asal Vietnam akan belajar di Universitas Muria Kudus (UMK). Kedatangan dua mahasiswa vietnam tersebut setelah kunjungan kerjasama UMK ke duta besar RI di Vietnam dan dua universitas.

Dalam kunjungan tersebut dilakukan kerjasama, termasuk dengan duta besar RI di Vietnam. Kepakatan tersebut ditandatangani Wakil Rektor I Dr. Murtono dengan Duber RI Ibnu Hadi.

Kepala Kantor Urusan Internasional (KUI) UMK Kudus Mutohhar, M.Pd mengatakan, kunjungan ke Vietnam juga untuk kerjasama dengan Hanoi University dan FPT University. ”Duber RI juga sangat mengapresiasi UMK yang sudah melakukan kerjasama dengan perguruan tinggi di Vietnam,” katanya kemarin.

Untuk kerjasama dengan Dubes RI di Vietnam, kerjasama lebih kepada pengenalan budaya Indonesia, khususnya Kudus kepada mahasiswa Vietnam. Sehingga kebudayaan Indonesia bisa lebih dikenal secara luas.

Setelah dilakukan kerjasama tersebut, rencananya Januari akan dikirimkan dua mahasiswa Vietnam untuk belajar budaya Indonesia di Kudus, lebih tepatnya melalui UMK. ”Kami tentu sangat berterima kasih dengan adanya kerjasama tersebut, apalagi langsung ada tindaklanjut pengiriman mahasiswa,” terangnya.

Sedangkan kerjasama dengan FPT University, sudah ada kesepakatan untuk dilakukan pertukaran mahasiswa magang. Sehingga kedua mahasiswa nantinya akan mendapatkan pengalaman lebih, bisa mendapatkan pelajaran untuk meningkatkan ilmu dan wawasannya.

Selain pertukaran mahasiswa magang, juga ada kesepakatan pertukaran dosen, khususnya dari Fakultas Teknik. ”Kami akan menyiapkan semua agar kesepakatan tersebut bisa berjalan lancar,” imbuhnya.(Linfokom).

UMK – Local wisdom dan local genius menjadi salah satu hal penting untuk pengembangan teknologi mesin. Tentunya semuanya nantinya bermuara kepada pengembangan teknologi mesih yang berorientasi kepada kemaslahatan umat.

Itulah yang disampaikan narasumber, pakar teknologi mesin Risdiyono saat kuliah umum program studi Teknik Mesin di ruang seminar lantai V Gedung J Universitas Muria Kudus (UMK).

Dosen salah satu universitas ternama di Jogjakarta tersebut mengatakan, dalam pengembangan teknik mesin, pihaknya melihat dari sisi Local wisdom dan local genius. Sehingga universitas dimana dia mengajar mampu bersiang dengan universitas lainnya. ”Akhirnya kami fokus kepada manufacturing, karena universitas lain masih lemah,” katanya kemarin.

Dalam prosesnya, memang pengembangan lebih melihat sisi Local wisdom dan local genius. Salah satu fokusnya yakni pengembangan seni dan perhiasan. Pihaknya fokus dalam proses teknologi mesin untuk membuat kerajinan perhiasan yang sebenarnya sudah dikenal luas, yakni di Kota Gede.

Namun kini sangat sedikit perajin yang menggeluti, akhirnya saat ini banyak produk china yang justri di jual di loaksi tersebut. Melihat itu, pihaknya langsung fokus ke pengembangan perhiasan. ”Ternyata sangat tepat dan beberapakali mahasiswa juara tingkat internasional dalam desain perhiasan,” terangnya.

Pihaknya fokus di seni dan perhiasan karena selain sedikit yang meliriknya, juga karena part mesin yang digunakan relatif kecil, artinya harganya tentu lebih terjangkau. Mahasiswa UMK tentu bisa melihat potensi tersebut, yakni pengembangan berbasis Local wisdom dan local genius.

Di Jepara misalnya, kerajinan ukir menjadi salah satu yang paling dikenal. Dipastikan kota lain tentu memiliki Local wisdom dan local genius yang bisa menjadi garapan pengembangan teknologi. ”Tentunya untuk kemaslahatan umat,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, dirinya juga memotivasi mahasiswa agar terus menemukan inovasi-inovasi. Namun diawali dengan niat untuk kemaslahatan umat, seperti yang dilakukan ilmuan-ilmuan, termasuk ilmuan muslim.

Seperti penemu sistem mekanik yang penemuannya digunakan sampai sekarang, bahkan Al-Jazari dikenal sebagai penemu sistem robotika modern. ”Ilmuan-ilmuan tersebut membuat temuan karena dasar agar penemuan yang dibuat bermanfaat bagi manusia,” jelasnya.

Untuk itu, mahasiswa dalam mencari ilmu jangan hanya bertujuan untuk dirinya sendiri, misalnya agar bisa bekerja usai lulus kuliah. Tujuan tersebut harus dirubah, mencari ilmu agar bisa memebrikan manfaat kepada masyarakat.(linfokom)

UMK – Rektor Universitas Muria Kudus (UMK) Dr. Suparnyo bersama Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo melakukan tanam pohon di Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kudus. Sebanyak 2.500 mahasiswa UMK turut serta dalam kegiatan tersebut bersama Perhutani dan masyarakat sekitar.

Kegiatan tersebut merupakan kerjasama antara UMK, Pemerintah Provinsi dan Perhutani. Setidaknya ada 8.600 bibit tanaman yang ditanam di Pegunungan Kendeng yang berada di desa tersebut.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, ketika melihat kondisi wilayah pegunungan di Desa Wonosoco, jelas terlihat gundul. Dengan penanaman pohon diharapkan mampu untuk mengembalikan kondisi alam di pegunungan tersebut. ”Kita harus merawat bersama agar kedepan bisa lestari dan bermanfaat,” katanya Jumat (7/12/2018).

Program UMK agar mahasiswa menanam satu pohon di lokasi gunung yang sudah gundul sangat baik. Namun harus dilakukan perawatan agar mampu hidup dan tumbuh. Nantinya ketika mendekati skripsi, harus dicek.

Ketika tanaman yang ditanam mahasiswa mati, maka skripsinya ditangguhkan. ”Tujuannya memang untuk menggugah mahasiswa untuk melestarikan alam, program yang dicanangkan UMK sangat bagus untuk harus didukung semua pihak,” terangnya.

Sementara itu, Rektor UMK Dr. Suparnyo menambahkan, dengan program tersebut, diharapkan lima tahun kedepan pegunungan di Desa Wonosoco bisa kembali hijau dan lestari. Sehingga generasi penerus atau anak cucu nantinya bisa menikmatinya.

Pihaknya memang menyiapkan 8.600 bibit tanaman, rinciannya sebanyak 3.600 berupa bibit tanaman hortikultura atau buah-buahan dan sebanyak 500 bibit berupa tanaman kehutanan.

Dalam kesempatan tersebut, pihaknya juga menyerahkan bibit secara simbolis kepada Kelompok Tani Ngudi Makmur Perhutani Desa Wonosoco. Sementara gubernur dalam acara tersebut melakukan penanaman bibit pohon klengkeng.

Selain gubernur, dalam kegiatan tersebut juga diikuti oleh Bupati dan Wakil Bupati Kudus dan jajarannya. Selain itu diikuti Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jawa Tengah.(linfokom)

 

UMK – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengingatkan kepada mahasiswa untuk menghadapi tantangan yang terus berubah. Sudah tidak saatnya melakukan debat yang tidak penting. Dia meminta agar mahasiswa berpikir untuk memajukan Indonesia.

Hal tersebut disampaikan gubernur saat kuliah umum di Universitas Muria Kudus (UMK) kemarin. Kuliah umum tersebut mengambil tema ‘Merajut Kebhinekaan Jawa Tengah’.

Perdebatan yang tidak penting harus dihindari, jangan sampai justru perdebatan tidak penting tersebut menguras energi. Sehingga menghambat kreatifitas mahasiswa. ”Kita tidak perlu debat perkara cebong kampret, atau menguras energi berdebat persoalan dianiayai atau operasi plastik,” katanya kemarin.

Dalam persoalan politik, perbedaan pasti ada, seperti perbedaan politik dirinya dengan gubernur lain yang sama-sama kader partai. Perbedaan tersebut sangat biasa dan tidak perlu dipertentangkan terlalu berlebihan. Jika terus dilakukan, maka akan terus ketinggalan dengan negara lain.

Untuk menjaga kebhinekaan, memang menjadi tugas semua orang, termasuk mahasiswa. Ketika kebhinekaan makin tergerus, maka akan negara diambang kehancuran. Seperti yang terjadi di Syria.

Dirinya mendapatkan cerita pengalaman dari Wakil Gubernur Jawa Tengah Gus Yasin yang pernah belajar di Syria, kondisi Syria masyarakatnya beragam dan damai. Namun kini porak pranda karena kebhinekaan yang hilang. ”Adanya fitnah antar saudara membuat negara hancur, tentunya di dukung intervensi dari luar,” terangnya.

Sehingga kebhinekaan yang merupakan modal penting bangsa Indonesia harus terus dijaga. Sehingga Indonesia tidak bernasib seperti Syria. Akibat negara Syria porak poranda, banyak anak yang kehilangan orang tuanya, perekonomian hancur dan kemiskinan sudah tidak bisa terhindarkan.

Untuk itu, Ganjar berpesan agar mahasiswa melihat ‘keluar’ untuk menambah wawasan. Sehingga mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan nantinya bermanfaat bagi dirinya sendiri dan Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, gubernur juga melakukan dialog dengan empat mahasiswa UMK. Mereka diberikan pertanyaan sesuai dengan jurusan masing-masing, ada pertanyaan terkait bahaya hoak, korupsi hingga terkait pendidikan.

Sebelum menutup kuliah umum, Ganjar memberikan kuis, mahasiswa diberi waktu 24 jam untuk membuat vlog yang nantinya diuplod dan ditautkan di IG: ganjar_pranowo. Tema video terkait dengan kebhinekaan. ”Nanti akan saya pilih, video terbaik dapat hadiah laptop,” jelasnya.

Sebelum kuliah umum, Ganjar melakukan penanaman pohon khas Kudus di UMK, yakni Jeruk Pamelo, Parijoto dan Duku Sumber. Usai melakukan kuliah umum, Gubernur langsung melanjutkan perjalan menuju Desa Wonosoco untuk melakukan penanaman pohon yang diikuti 2.500 mahasiswa UMK. Selain itu juga ada penandatanganan kerjasama antara UMK, Gubernur dan Pehutani.

Rektor UMK Dr. Suparnyo mengatakan, kuliah umum dilakukan karena mengingat pentingnya memahami kebhinekaan bagi masyarakat, terutama mahasiswa. Dengan kuliah umum tersebut, mahasiswa diharapkan mendapatkan wawasan dari gubernur yang merupakan kepala daerah.

Mahasiswa tentunya harus menjadi salah satu penggeraknya, sehingga memahami sebuah kebhinekaan menajdi penting. ”UMK ada sekitar 10.000 mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah, dengan kuliah umum ini tentu sangat bermanfaat bagi mahasiswa,” ungkapnya.

Dia menambahkan, ketika UMK dikehendaki masyarakat untuk menjadi perguruan tinggi, pihaknya cukup siap. Tentunya semua persyaratan akan terus dipenuhi sehingga bisa menjadi pergurun negeri.(Linfokom)

Page 7 of 338