iden

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

UMK – Dua Mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) menciptakan Braille Mathematic (Brama), alat tersebut bisa membantu siswa tunanetra untuk belajar matematika. Karya mahasiswa tersebut juga sudah pernah menyabet medali perak pada ajang International Sains and Invention Fair (ISIF) 25 Juni 2019 di Bali.

Mahasiswi UMK Arinda Pratiwi Sukma mengatakan, selama ini sudah banyak media belajar untuk tunanetra, namun untuk pembelajaran matematika sangat minim. Sehingga dirinya bersama Indah Yuni Puspita membuat Brama. ”Media belajar untuk abjad banyak, namun untuk angka masih sangat jarang,” katanya kemarin.

Pembuatan Brama tersebut memanfaatkan kayu ‘samping’ kerajinan mebel dan ukir dari Jepara. Angka yang dibuat dari kayu tersebut tentunya dibuat untuk memudahkan siswa tunanetra, terdapat tekstur menyerupai titik yang menonjol seperti braille.

Sehingga dengan meraba, siswa tunantera bisa mengetahui angka yang diraba, sehingga bisa memudahkan dalam pelajaran berhitung. ”Tak hanya titik yang menonjol, kami juga melengkapi dengan warna-warna cerah,” terangnya.

Karena tunanetra juga ada kategori low vision, masih bisa melihat saat ada cahaya terang, sehingga ketika diberi warna-warna cerah, tunanetra kategori low vision tetap bisa melihat. Hal tersebut dibuat setelah mempelajari berbagai hal tentang tunanetra.

Keduanya juga sudah mempraktikkannya kepada siswa tunanetra yang memang belum pernah mendapatkan alat semacam itu untuk belahar berhitung. Sehingga bisa mempermudah dalam proses belajar menghitung.

Sania Alfi Novita, siswa kelas VIII mengakui media belajar temuan mahasiswa UMK tersebut memang memudahkan dirinya yang tidak bisa melihat untuk belajar berhitung. ”Saya bisa dengan mudah menebak semua angka dengan mudah, karena memang brailenya jelas,” ujarnya.

Sementara itu, Nia, siswa SMPLB kelas VII mengakui baru pertama kali mengetahui ada angka braille yang bisa membantu penyandang tunanetra untuk belajar matematika. Sehingga bisa lebih mudah belajar.

Guru kelas SDLB Purwosari Sri Wigati Puji Susanti menyambut positif adanya temuan braille matematika karena memudahkan anak dalam belajar berhitung. Selama ini, siswa tunanetra hanya belajar menggunakan media konkret, seperti stik atau benda lain yang bisa dipakai untuk berhitung atau menjumlah.

Untuk media tulisnya, menggunakan riglet yang terdapat titik-titik yang timbul sehingga bisa diraba dengan jari untuk mengetahui angka-angka yang tercatat.  

Dosen UMK yang juga pembimbing penemu Brama, Richma Hidayati menambahkan braille matematika tersebut akan didaftarkan agar mendapatkan hak kekayaan intelektual (Haki). Setelah terdaftar, media belajar matematika untuk penyandang tunanetra tersebut akan diperbanyak agar bisa bermanfaat untuk para penyandang tunanetra dalam belajar matematika.

Setelah mengikuti ajang ISIF di Bali, kata dia, temuan tersebut akan diikutkan dalam perlombaan di Malaysia pada bulan Oktober 2019. "Rencananya temuan braille matematika tersebut juga akan dikembangkan untuk aplikasinya yang nantinya bisa diunduh melalui google playstore untuk panduan bagi guru," imbuhnya.(humas)

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

UMK – Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Pati bersama Universitas Muria Kudus memfasilitasi pelatihan kewirausahaan melalui pelatihan Business Plan untuk UMKM. Tujuannya agar pelaku UMKM memahami pentingnya membuat perencanaan binis untuk memajukan usaha.

Peserta pelatihan terdiri dari 35 UMKM yang ada di Kabupaten Pati, yang terbagi ke dalam beberapa kelompok UMKM yaitu UMKM makanan ringan, UMKM kerajinan dan UMKM batik. Kegiatan diselenggarakan mulai 24 – 28 Juni 2019 dengan narasumber dari Universitas Muria Kudus dan Dinas Koperasi dan UMKM Propinsi Jawa Tengah.

Ketua Pelaksana Mukhamad Nurkamid, S.Kom, M.Cs mengatakan, pelatihan kewirausahaan yang fokus kepada Business Plan sebagai salah satu strategi UMKM agar maju dan berkembang. ”Pelaku UMKM dituntut produktif, termasuk dengan memanfaatkan teknologi,” katanya kemarin.

Dengan memanfaatkan teknologi, UMKM dapat menjual produknya dengan lebih mudah dan memiliki target pasar yang lebih luas. Beberapa peserta merespon positif dengan adanya pelatihan business plan ini. Selain menambah ilmu para peserta juga bisa bertukar informasi sesama UMKM terkait kendala pemasaran produk.

Sementara itu, Kabid UMKM Iwan Trisno mengatakan tujuan kegiatan penyelenggaraan pelatihan kewirausahaan diharapkan pelaku UMKM bisa menyusun rencana usaha dengan baik. ”Rencana usaha sangat penting, sehingga focus pengembangan usaha bisa terarah,” jelasnya.

Selain itu, meggunakan business plan yang tepat dalam kegiatan usaha bisa untuk mempertahankan bisnis yang telah eksis dan memudahkan expansi bisnis di lingkungan yang penuh kompetisi. Karena persaingan cukup ketat, maka rencana usaha harus matang.

Usai pelatihan, peserta diajak berkunjung ke beberapa UMKM percontohan yang telah berkembang di kota Surakarta dan Wonogiri. Sehingga melihat secara langsung rencana usaha yang dibuat dari UMKM yang sudah menerapkan. ”Usai acara tetap ada kegiatan lanjutan,” imbuhnya.

Kegiatan pengabdian masyarakat diketuai Mukhamad Nurkamid dari Jurusan Teknik Informatika, untuk anggota Budi Gunawan dari Jurusan Teknik Elektro dan Sri Mulyani dari Akuntansi. Pelatihan tersebut diselenggarakan di aula Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Pati.(Humas)

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

UMK – Pertumbuhan wisatawan mancanegara tumbuh 22 persen, jauh dari pertumbuhan ASEAN yang hanya 7 persen saja. Untuk itu perlu adanya dukungan semua pihak, seperti generasi millenial yang sangat berpengaruh untuk turut serta mengembangkan wisata, terutama melalui media sosial. Apalagi dampak ekonomi dari wisata bisa sampai bawah.

Kasubbid Pengembangan SDM Kepariwisataan Kementrian Pariwisata (Kemenpar) Alfin Merancia mengatakan, generasi millenial, termasuk mahasiswa sangat berperan penting dalam promosi wisata ketika memang bisa diarahkan dengan baik. Karena saat ini informasi soal wisata bisa dilihat di internet, terutama media sosial. ”Promosi menjadi hal penting,” katanya saat ‘Pelatihan Dasar SDM Kepariwisataan’ di gedung J Universitas Muria Kudus (UMK) kemarin (17/7/2019).

Utnuk memviralkan pariwisata di Indonesia sangat mudah, cukup dengan mengupload gambar saat berkunjung ke destinasi wisata yang ada di Indonesia, tentunya harus ada hastag #wonderfulindonesia. Karena banyak wisatawan mancanegara yang mencari lokasi wisata di Indonesia melalui hastag tersebut.

Saat ini, kementrian sangat serius menggarap sektor pariwisata, tak lain karena menjadi salah satu fokus presiden Joko Widodo. Bahkan dalam sektor unggulan pembangunan masuk nomor urut dua setelah pertanian.  ”Apalagi sektor pariwisata menyumbang devisa cukup tinggi, melampui migas,” terangnya.

Fokus pemerintah dalam pengembangan wisata tak lain efek ekonomi yang sangat luas, tidak hanya dilevel atas, namun bisa dirasakan sampai tingkat bawah. Sehingga mampu menggerakkan roda ekonomi.

Selain itu, pariwisata juga membuka pelaung kerja cukup besar, sehingga bekerja tidak hanya menajdi pegawai negeri sipil (PNS) atau pegawai bank saja, melainkan sektor pariwisata ada banyak peluang. Termasuk peluang menjadi pebisnis di sektor pariwisata, melihat perkembangan pariwisata sampai 22 persen, tentunya sangat terbuka lebar.

Sehingga setiap daerah yang memiliki wisata andalan, harus digarap dengan serius, karena dampaknya yang sangat besar bagi perekonomian. Baik wisata natural, cultural, dan man made, karena semuanya memiliki potensi besar.

Sementara itu, Wakil Rektor IV UMK Dr. Subarkah mengatakan, dengan kegiatan pelatihan dari kementrian kepada mahasiswa, tentu diharapkan mampu memberikan dampak positif. Sehingga mahasiswa juga memiliki wawasan tambahan, bahwa sektor pariwisata maish terbuka lebar untuk digarap.

Kaum millenial memang harus berperan, apalagi saat ini 94,4 persen kaum millenial terkoneksi internet, 98,2 persen menggunakan smartphone saat mengakses internet, 79 persen membuka smarphone dalams atu menit setelah bangun tidur. ”Artinya, ketika kaum millenial mengupload destianasi wisata ke medsosnya, tentu akan berdampak pada pariwisata,” jelasnya.

Sehingga potensi pariwisata, termasuk Kudus yang memiliki destinasi natural, cultural, dan man made sangat mungkin dikembangkan, memang yang paling terkenal dalah wisata religi, namun ada juga wisata alam dengan adanya Gunung Muria dan juga wisata buatan yang cukup banyak. (Humas)

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

UMK – Universitas Muria Kudus (UMK) melakukan penelitian terhadap potensi desa yang nantinya akan dimaksimalkan untuk kesejahteraan masyarakat, karena selama ini belum dimaksimalkan. Untuk pilot project dilakukan penelitian di Desa Jrahi, Kecamatan Gunung Wungkal, Kabupaten Pati, karena ada beberapa potensi yang dimiliki, paling unik adalah potensi bambunya.

Peneliti UMK Hendy Hendro Hady Srijono, M.Si mengatakan, penelitian yang dilakukan memang khusus desa yang memiliki potensi, namun belum dipotimalkan. Selain itu juga dipilih daerah yang lingkungannya butuh perbaikan. ”Kami fokuskan untuk menjadikan desa hayati,” katanya kemarin.

Desa hayatai adalah model pengelolaan secara terpadu melalui program pengentasan kemiskinan, pemberdayaan mesyarakat, dan perbaikan lingkungan. Sehingga tidak hanya melakukan eksploitasi saja, melainkan ada konservasi lingkungannya juga.

Desa Jrahi dipilih karena masyarakatnya sudah sangat mendukung, mereka sudah sadar akan pentingnya lingkungan. Selain itu potensi bambu, alpukat dan lainnya juga masih terbuka lebar untuk dioptimalkan. Kunjungan yang dilakukan kemarin merupakan tahap awal, karena persiapan demplot atau lahan percontohan dulu.

Uniknya, di Desa Jrahi mulai melakukan penanaman bambu sejak 2012, tujuan awal untuk konservasi. Karena bambu memiliki fungsi untuk meminimalisir longsor, akhirnya dilakukan penanaman di daerah yang memang longsor dan juga sisi kanan kiri sungai yang ada di desa tersebut.

Namun ternyata, pertumbuhan bambu sangat cepat, karena memakai bibit petung kultur jaringan, bukan bambu jenis petung lokal. Akhirnya ssaat ini sudah dimanfaatkan untuk meningkatkan ekonomi warga, namun masih berupa penjualan rebung atau tunas bambu yang dijual di pasar tradisional. ”Padahal bambu bisa dimanfaatkan yang lain,” terangnya.

Selain itu, ternyata manfaat dari penanaman bambu tersebut, mampu menjaga air sungai. Dulu sebelum ada bambu, saat musim kemarau seperti saat ini, air sungainya kering, namun kini masih ada air dan sangat jernih.

Saat dilihat dari akar bambu yang ada, ternyata tanahnya basah, bahkan ada yang jelas mengalirkan air. ”Ini menunjukkan dari sisi ekonomi ada, sisi koservasi alam berhasil,” jelasnya.

Sehingga pihaknya bersama instansi terkait lainnya ingin memaksimalkan potensi tersebut, karena bamboo bisa digunakan banyak hal, bahkan bisa dijadikan pengganti keramik untuk rumah. Ketika itu terjadi, tentunya butuh bahan baku banyak, sehingga dibutuhkan penanaman yang juga banyak, penyediaan bibit jelas dibutuhkan. Tujuannya agar pemanfaatan bambu dan penanaman bisa seimbang.

Sementara itu, Penyuluh Kehutanan Cabang Dinas Kehutanan Wilayah II Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Yohan Surtiani, S.Hut. MT mengatakan, melihat potensi tersebut pihaknya memang ingin menajdikan Desa Jrahi sebagi desa bambu. Karena potensinya sangat besar, apalagi masyarakatnya juga sangat paham, baik potensi secara ekonominya maupun konservasi lingkungannya.

Untuk penelitian dari UMK, pihaknya sudah menyiapkan demplot atau lahan percontohan, demplot juga dipilih sesuai kebutuhan, yang jelas dekat dengan sumber air. ”Kami tentu menyambut baik penelitian dari UMK, karena untuk mengembangkan desa perlu keterlibatan banyak pihak,” jelasnya.

Potensi yang ada di Desa Jrahi cukup bagus, tak hanya bambu, ada juga alpukat hingga buah kakao sebagai bahan pembuat coklat. Untuk bambu memang tinggal pengolahannya, karena pembibitan dan tanaman bambu sudah ada, sementara pengolahan masih belum.

Saat ini mereka hanya menjual rebung dengan harga sekitar Rp 2.500 per satu rebung, sangat murah. Pihaknya memang sudah berencana mengundang ahli bambu agar bisa meningkatkan harga jual bambu dengan berbagai varian. Apalagi ketika bambu bisa dijadikan semacam papan, tentu harganya akan lebih mahal.

Sementara itu, Ketua Perkumpulan Tani Lestari Nglorah Sunarto mengatakan, kedatangan dosen UMK untuk melakukan penelitian di desanya disambut baik, karena memang diharapkan bisa memberikan wawasan baru, terutama dalam pengolahan bambu agar lebih bernilai.

Apalagi tujuh tahun setelah ditanam, bambu yang ada sangat melimpah, namun pemanfatannya masih sebatas rebung saja, memang rebungnya ada rasa manisnya. Untuk bambu kultur jaringan yang ditanam lebih kuat dibanding bambu petung lokal. ”Petung lokal memang lebih besar, namun kalau petung kultur jaringan saat saya buat kandang, tidak dimakan bubuk, jadi lebih kuat,” imbuhnya.

Untuk konservasi dengan bambu, memang menjadi hal penting baginya, karena manfaatnya sangat banyak. Apalagi ternyata mampu menyimpan air sehingga sungai tetap mengalir walaupun saat musim kemarau, udaranya juga lebih sejuk setelah dilakukan penanaman bambu.(Humas)

 

Page 5 of 362