iden

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK – Agar mencapai tujuan pengajaran yang efisien dan berkualitas, Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus (FPsi-UMK) melalui BEM FPsi menggelar dialog fakultas. Dengan model dialog yang mensetarakan mahasiswa dan dosen dalam posisi yang sama, diharapkan mampu saling terbuka dalam memberikan masukan dan saran yang membangun pada pihak fakultas, hal itu disampaikan Dekan Fakultas Psikologi UMK, Drs. M. Suharsono, MSi saat memberikan sambutan, Kamis (10/02).
“Ibarat angkot, saya sebagai supir dan butuh informasi dari para penumpang agar dalam perjalanan mencapai tujuan dengan cepat, nyaman, dan efisien,” tutur Dekan, mengibaratkan perjalanan fakultas layaknya modal transportasi. Para mahasiswa dari perwakilan angkatan 2006 hingga 2010 yang mengikuti acara tersebut pun sering memberikan pertanyaan seputar objektivitas dosen dalam memberikan nilai, cara mengajar, hingga kelayakan gedung  demi kelancaran prosses perkuliahan dan berkegiatan bagi mahasiswa.
“Saya berharap dosen itu senyumnya lebar terhadap mahasiswa, agar mahasiswa menjadi adem (nyaman, red) saat kuliah berlangsung,” ujar Fauzi yang menganggap ada beberapa dosen yang dirasanya kurang ramah.


User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK - Banyak para lulusan Diploma maupun Sarjana yang kesulitan dalam mencari pekerjaan, karena meskipun banyak lapangan kerja yang ditawarkan untuk lulusan Diploma maupun Sarjana namun saingan yang memperebutkan lapangan kerja tersebut juga lebih banyak. Sehingga kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan bagi para profesional muda menjadi semakin sempit. Dengan adanya kondisi yang demikian semakin membuat pekerjaan rumah bagi instansi perguruan tinggi untuk dapat memberikan wawasan, dan membentuk para peserta atau mahasiswa untuk dapat berpikiran lebih luas dalam mengembangkan diri mereka sehingga tidak menutup kemungkinan bagi para lulusan Diploma maupun Sarjana untuk dapat menciptakan lapangan kerja sendiri sehingga fokus para lulusan tidak hanya pada pencarian lapangan kerja semata.
Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus pada hari Sabtu, 22 Januari 2011 mengadakan Seminar bertema: Menumbuhkan Motivasi Menjadi Entrepreneur. Sebagai pembicara: Mohammad Hilmi, SE, Direktur PT Mubarokfood yang terkenal di Kudus memproduksi  Jenang.  Kalangan perbankan, diwakili  Ambar Trikaryanto, SE dari Bank Mandiri dan motivator, Ferdinand Hindiarto S.Psi, M.Si. ”Seminar ini bertujuan untuk memberikan motivasi berperilaku entrepreneurship bagi para pelaku bisnis maupun calon pelaku bisnis ini sangat menarik dan mencerahkan, buktinya seminar yang dilakukan di ruang Seminar Gedung Rektorat lantai 4 ini dari mulai sampai akhir tetap ramai dihadiri lebih kurang  100 peserta yang mengikuti, ” kata Ketua Panitia, Iranita Hervi Mahardayani.

 


User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK-Proses Pengecoran (casting) adalah salah satu teknik pembuatan produk dimana logam dicairkan dalam tungku peleburan kemudian dituangkan ke dalam rongga cetakan yang serupa dengan bentuk asli dari produk cor yang akan dibuat. Pengecoran juga dapat diartikan sebagai suatu proses manufaktur yang menggunakan logam cair dan cetakan untuk menghasilkan bagian-bagian dengan bentuk yang mendekati geometri akhir produk jadi. Proses pengecoran sendiri dibedakan menjadi dua macam, yaitu traditional casting (tradisional) dan non-traditional (nontradisional).
Demikian penjelasan Sugeng Slamet, ST, MT, Dosen Teknik Mesin sekaligus Dekan Fakultas Teknik Universitas Muria Kudus (FT UMK). Menurut Sugeng keberadaan industri pengecoran di Kudus dan sekitarnya perlu pendampingan dari  FT UMK, terutama dalam pengembangan teknologi pengecoran. Karena sistem yang digunakan di kawasan pantura timur masih menggunakan sistem tradisional. Meskipun demikian pengecoran tradisional merupakan landasan dari sebuah industri baik kecil maupun besar. “Pengecoran sudah dimiliki oleh bangsa indonesia sejak nenek moyang kita terbukti dengan adanya tombak baja,” jelas Sugeng.


User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK-Keluarnya Gayus Halomoan Tambunan dari dalam tahanan sebanyak 68 kali menjadi salah satu dari sekian fakta anomali potret penegakkan hukum di Indonesia. Hal ini menunjukkan hukum tidak berdaya dalam menghadapi kuatan di luar hukum. Menurut DR. Suparnyo, SH, MS, Ketua Program Studi Magister Ilmu Hukum, hal itu disebabkan karena hanya hukum tertulis yang digunakan di Indonesia dan itu menyebabkan ketidakadilan Hukum.
Untuk mencari jalan keluar dari keterpurukan hukum, menurut Suparnyo, lewat pendekatan tafsir “Hukum Progresif”. Hukum progresif dicetusnya oleh Profesor Satjipto Rahardjo. Gagasan hukum progresif muncul sebagai reaksi keprihatinan terhadap keadaan hukum di Indonesia yang carut marut sehingga muncul pendapat dari pengamat internasional hingga masyarakat awam bahwa sistem hukum Indonesia adalah yang terburuk di seluruh dunia.”Fakta yang tidak dapat dipungkiri adalah semakin tak berdayanya hukum Indonesia dalam upaya mewujudkan keadilan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia,” tegas Suparnyo.

Prinsip utama yang menjadi landasan hukum progresif adalah “Hukum adalah untuk manusia”, bukan sebaliknya. Jadi manusialah yang merupakan titik sentral dari perhatian hukum progresif. Prinsip tersebut ingin menggeser landasar teori dari faktor hukum ke faktor manusia. Konsekuensinya hukum bukanlah merupakan sesuatu yang mutlak dan final tetapi selalu “dalam proses menjadi” (law as process, law in the making) .”Hukum Progesif menuju kualitas kesempurnaan dalam arti menjadi hukum yang berkeadilan, hukum yang mampu mewujudkan kesejahteran atau hukum yang peduli terhadap rakyat,” imbuh Suparnyo.