iden

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK-Mulai tahun ajaran 2010-2011 Universitas Muria Kudus (UMK) melakukan pembenahan pada sistem pembelajaran dari Kurikulum Berbasis Isi menjadi Kurikulum Bebasis Kompetensi (KBK). “KBK menitik beratkan kompetensi yang harus dimiliki mahasiswa setelah melanjani pembelajaran,’ ujar Fitri Budi Suryani, Ketua Program Pendidikan Bahasa Inggris UMK.
Setelah berjalan satu semester, keberadaan KBK dinilai lebih mendidik dari pada kurikulum sebelumnya. Hal ini terlihat oleh pembelajaaran KBK yang tidak hanya mementingkan mata kuliah (hard skill) tetapi juga kemampuan lain (soft skill). “Pendiidkan di KBK akan lebih menyiapkan mahasiswa untuk terjun langsung di masyarakat,” tambah Fitri.
Hal yang sama juga dikatakan oleh Widjanarko, sekretaris Fakultas Psikologi UMK, bahwa KBK itu lebih baik dari pada kurikulum lama. Menurutnya, KBK tidak hanya menuntut mahasiswa faham materi saja namun juga bisa mengaplikasikannya.
Selain itu KBK juga memberikan metode agar mehasiswa tidak menjadikan dosen sebagai pokok bahasan (Teacher Centered Learning) namun mahasiswalah yang menjadi bahasan (Student Centered Learning). “Jadi dosen hanya menjadi fasilitator dalam kelas yang memberikan arahan bagi mahasiswa,” jelas Fitri.

 


User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK-Universitas Muria Kudus (UMK) lahir dan tumbuh dari masyarakat. Untuk itu, sinergi hubungan baik dengan masyarakat perlu terus dikembangkan. Salah satu cara untuk menjalin komunikasi dengan masyarakat, Humas UMK menjalin kerjasama  dengan insan jurnalis.  Kerjasama tersebut dikemas dalam kegiatan lomba mading, puisi dan karikatur di Auditorium UMK pada Sabtu dan Minggu (5-6/3). “Kami mengadakan kerjasama dengan Harian Radar Kudus Jawa Pos dengan mengadakan lomba mading, puisi dan karikatur tingkat pelajar se-eks Karesidenan Pati untuk memberikan ruang kreatifitas bagi pelajar,” ujar Zamhuri, Humas UMK.
Sementara itu, Pembantu Rektor III UMK, Drs. Hendy Hendro HS, M.SI dalam sambutannya  ketika membuka acara berharap para peserta dapat memanfaatkan semaksimal mungkin kegiatan lomba.  Menurut Hendy, karya jurnalistik bisa “menggoyang” dunia. “Hal ini bisa dilihat dari contoh persitiwa tergulingnya Presiden Mesir Husni Mubarok dari tampuk kekuasaannya karena dorongan pemberitaan dari media massa,” tegas Hendy.
Lomba mading sendiri diikuti oleh 30 sekolah dari MA/SMA dan SMK se Karesidenan Pati. Mereka berlomba untuk merebutkan tropy dan hadiah dari Harian Radar Kudus Jawa Pos. “ Kegiatan ini diadakan dalam rangka ulang tahun (ultah) yang pertama Rubrik Koper (Koran Pelajar) pada Radar Kudus  Jawa Pos,” jelas Siti Merie, Ketua Pelaksana lomba.

 


User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK – Menertibkan Pedagang Kaki Lima (PKL) di wilayah perkotaan merupakan persoalan yang susah-susah gampang, melalui diskusi yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum, Universitas Muria Kudus (UMK) yang berlangsung di ruang seminar Gedung Rektorat lantai 4 UMK, Senin (21/2) dengan menghadirkan Walikota Surakarta, Ir Joko Widodo sebagai pembicaranya. Walikota Surakarta ini memberikan pengalaman tentang keberhasilannya dalam menangani ribuan PKL.
“Sudah empat periode Walikota sebelumnya belum dapat menertibkan PKL pada saat itu, mereka mengancam akan membakar balai kota jika mereka digusur,” terangnya dihadapan 70-an peserta diskusi. Menurutnya, cara yang diterapkan walikota sebelumnya lebih mengandalkan kekerasan yang terkesan tidak manusiawi. Namun, semenjak Walikota yang satu ini menjabat, ia memiliki cara yang berbeda dalam menangani pemindahan pedagang kaki lima ke tempat yang lebih tepat, seperti pada kasus PKL Monumen Banjarsari sebanyak 989 PKL yang sudah berada disitu selama 20 tahun lebih, mampu ditertibkan tanpa pemberontakan sedikitpun.
“Terlebih dahulu saya mengundang mereka untuk makan siang, makan malam, begitu seterusnya, dan pada pertemuan ke 54 kali dari situ saya dapat mengetahui apa yang mereka inginkan dan apa yang menjadi kekhawatiran mereka,” tuturnya dengan nada santai. Setelah itu PKL akhirnya mau dipindahkan ketempat yang berjarak 8 km dari tempat asal dengan dibuatkan pasar.

 


User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK-Fakultas Pertanian Universitas Muria Kudus (FP UMK) saat ini tengah memproduksi pupuk organik. Bahannya terbuat dari daun-daunan yang berasal dari tanaman di lingkungan kampus UMK. Selain daun, sebagai bahan utama, pembuatan pupuk organik dicampuri kotoran ternak sebagai tambahan. “Setiap hari kami mengumpulkan sersah (daun) untuk kami proses menjadi kompos,” jelas Ir. Supari, MP, dosen advisor pupuk organik dari Fakultas Pertanian  UMK.
Menurut Supari, setiap hari sampah daun dari lingkungan kampus bisa mencapai 10 karung sampah. “Bayangkan kalau setiap hari saja 10 karung, satu bulan bisa mencapai berapa ?,”tanyanya.
Setelah sersah terkumpul, kemudian dilakukan proses pencacahan. Setelah pencacahan selesai, sersah dicampur dengan kotoran sapi dan EM-4 (Effective Mikroorganism  4). “Penggunaan EM-4 akan memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah, meningkatkan ketersediaan nutrisi tanaman, serta menekan aktivitas serangga hama dan mikroorganisme pathogen. Selain itu, meningkatkan dan menjaga kestabilan produksi tanaman dan menjaga kestabilan produksi,”tambah Supari.