iden

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Fakultas Ekonomi Universitas Muria Kudus (FE UMK) pada akhir tahun 2010 mendapatkan berbagai kado istimewa. Selain tambahan empat dosen yang bergelar doktor, FE UMK juga mendapatkan akreditasi B  untuk Progdi Manajemen. “Kami sejak awal sudah mendapatkan B, mulai sistem lama dengan status  disamakan sampai dengan sistem baru yang menggunakan beberapa komponon penilai baru,” kata Drs. M. Masruri, MM, Dekan FE UMK.
Keputusan Badan Akreditasi Perguruan Tinggi (BAN PT) tertanggal 12 November 2010 memberikan apresiasi tinggi Progdi Manajemen FE. Lebih dari 1500 mahasiswa belajar di Progdi Manajemen FE UMK. “Dengan perolehan nilai akreditasi B ini mahasiswa dapat berbangga karena tidak mudah dan semua Progdi bisa mendapatkan nilai B, meski itu pergururan tinggi negeri,” tambah Masruri.
Keberhasilan Progdi Manajemen FE UMK tidak lepas dari kerja keras seluruh sivitas akademika terutama pada kegiatan penelitian dan kualifikasi Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki oleh Progdi Manajemen. Menurut Masruri banyak dosen manajemen yang melakukan penelitian terutama penelitian di luar kampus dan itu menjadi menambah bobot dalam penilaian akreditasi.
Jika dilihat dari data Evaluasi Program Studi Berdasarkan Evaluasi Diri (EPSBED) kualifikasi pendidikan dosen semuanya sudah pasca sarjana. “Kami masih menunggu lagi dosen lulusan doktor  baik dari dalam maupun di luar negeri,” rinci Masruri.
Hasil akreditasi B ini berlaku selama lima tahun. “Kami akan terus memberikan yang terbaik bagi pendidikan di FE UMK dengan menambah doktor bahkan guru besar pada tahun-tahun mendatang. Kami berharap pada tahun 2015, FE UMK bisa mendapatkan akreditasi A dengan banyaknya doktor dan semoga sudah ada professor dari FE UMK,” harap Masruri mengakhiri perbincangannya dengan portal UMK. (Harun/Portal)

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK – Keniscayaan Psikologi Indonesia agaknya bukan soal “Adanya”, tapi soal “Bagaimana Mengadakan”. Artinya, kita tak bisa sekadar berasumsi tentang adanya muatan lokal dari kasunyatan kajiwan (KK) sebagai seolah sudah eksis dalam konteks kehidupan budaya dan perilaku orang Indonesia. Tampaknya kita perlu dan harus menempatkan cara berpikir dan kecanggihan metodologik sebagai suatu conditio sine qua non yang tak dapat ditawar guna melegitimasikan manifesto keilmuan psikologik tentang KK Indonesia.
Salah satu sebab mengapa kesulitan mengadakan hal tersebut, antara lain ialah kurangnya pemahaman psikologik untuk meningkatkan kualitas pengajaran psikologi itu sendiri dalam konteks Indonesia. Menurut Gale, “The typical psychology degree on offer today falls very short of the ideal. A major problem, or cause of the problem, is that psychologists have not used psychology itself to design the degree”.
Andaikan saja para pengajar psikologi dan psikolog memiliki kecanggihan informasi dan metodologik,  mungkin mereka menjadi peka menangkap tantangan yang ada dan bersedia mengevaluasi kinerja mereka sendiri. Tanpa kedua hal, agaknya mereka sulit untuk mengoperasionalkan teori-teori psikologik, khususnya yang dikembangkan atas dasar penelitian eksperimental, atau melakukan pengujian terhadap teori yang bermasalah ketika dikontekstualisasikan secara lokal. Pernyataan ini dimunculkan oleh DR Edy Suhardono, M.Psi dalam kuliah umum yang digelar Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus  di Gedung Rektorat  ruang seminar lantai 4, pada hari Senin 27 Desember 2010.

 


User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK-Pernikahan sah secara agama Islam jika telah memenuhi rukun dan syarat, meski tidak dicatatkan kepada negara. Karena pencatatan hukumnya sunnah. Sehingga pelaku nikah sirri tidak bisa dipidanakan atau dipenjarakan. Justru akan menimbulkan dampak negatif, karena istri ditinggalkan dan tidak diberikan nafkah.
Hal itu diungkapkan oleh Ketua MUI Kabupaten Kudus, KH Syafiq Naschan, dalam seminar gender bertema "Studi Kritis Wacana Pidana Nikah Sirri" yang diadakan oleh Pusat Studi Gender Universitas Muria Kudus, di gedung seminar lantai 4 UMK.
Hukum mencatatkan nikah sirri sama halnya dengan hukum mencatatkan hutang-piutang. Maka pelaku tidak bisa diberikan saksi, maksimal terkena ta'zir atau denda. "Negara tidak bisa memenjarakan pelaku nikah sirri, karena akan membuat masa depan istri suram," katanya.
Perlu Perlindungan
Meski sah secara agama, menurut Direktur Legal Resources Center Untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia (LRJKJ-HAM) Semarang, Evarisan, menemukan fakta di lapangan bahwa secara sosial nikah sirri cacat. "Fakta di lapangan ditemukan bahwa istri dari pernikahan sirri mengalami gangguang psikis dan kekerasan fisik yang dilakukan oleh suaminya. Mental anak-anaknya juga “down”, karena mendapat perlakuan negatif saat bersekolah," jelas Eva.

 


User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK-  Sebanyak 218 anak yatim piatu di Kudus mendapatkan santunan dari Universitas Muria Kudus (UMK) pada Sabtu (18/12), di Masjid Darul 'Ilmu UMK.  Penyerahan santunan ini tepat pada bulan muharram, bulan yang dianggap sakral bagi umat muslim. "Kami gunakan momentum ini membagi kebaikan dan kebahagiaan kepada anak-anak yang telah kehilangan kedua orang tuanya," ujar Zamhuri, Humas UMK.
Menurut  Zamhuri bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah, yakni dengan melakukan keutamaan santunan kepada anak yatim.  KH Kustur Faiz, penceramah dalam acara santuanan menyampaikan pesan agar anak yatim selalu berusaha memupuk semangat dan keyakinannya menyongsong hari depan yang gemilang.
Nabi Muhammad yang juga seorang yatim piatu dijadikannya sebagai contoh yang kongkrit tentang kehidupan seorang yatim piatu. Sejak kecil Nabi hidup tanpa orang tua, kemudian beranjak besar bekerja sebagai pedang. "Maka, sesungguhnya dibalik ketiadaan kedua orang tua Nabi Muhammad, Allah melakukan pembinaan secara langsung kepada beliau," tegasnya.