iden

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK-Suasana gemuruh hadir ketika Juliana Shepherd memasuki ruang Masa Perkenalan Mahasiswa Baru (Sapamaba) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muria Kudus (FKIP UMK). Julia, sapaan akrabnya, adalah native speaker yang akan mengajar dan membantu pengajaran Bahasa Inggris di UMK. “I come here to help people for studying English,” ujar Julia yang lulus dari Cedarville University, Arizona Amerika Serikat.

Julia akan mengajar di UMK selama 11 bulan yang akan dimulai pada pertengahan Oktober 2010. Sebelum mengajar Juliana akan belajar bahasa Indonesia selama 6 Minggu di Semarang. “I will study Indonesian Language in Semarang befose coming here. And I will be fluency in Indonesia”, ujar Julia sambil bercanda.

Juliana datang ke UMK atas kerjasama IMEPCO (Indonesia Menonite Exchange Program Community) dengan FKIP UMK. Juliana akan memberikan materi pengajaran Bahasa Inggris lima hari dalam satu minggu. “Juliana akan memberikan pengajaran bisa dalam bentuk formal (kelas) atau dalam bentuk tidak formal seperti diskusi,”ujar Fajar Katika, Pembantu dekan III FKIP.

Juliana datang pada acara Sapamaba ddi FKIP dalam kapasitasnya sebagai calon native speaker yang akan mengajar di UMK. “Kami memberikan motivasi melalui native speaker kepada mahasiswa. Hal ini sejalan dengan program yang dilakukan oleh bidang kemahasiswaan tentang penalaran mahasiswa,”kata fajar.


User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK-Kegiatan Masa Perkenalan Mahasiswa Baru (Sapamaba) 2010 selama dua hari Kamis-Jum’at (26-27 Agustus 2010) diisi dengan materi bidang akademik. Pada 19 sampai 26 September akan diisi pelatihan ESQ ( Emotional Spiritual Quotient) seusia dengan jadwal yang sudah ditentukan. “Pada prinsipnya proses Sapamaba berorentasikan akedemik. Baik yang berupa pengenalan proses pembelajaran atupun tentang kemahasiswaan”, ujar Endang Dewi Murrinie, Wakil Ketua Panitia Sapamaba.

Kegiatan Sapamaba dimulai dengan prosesi “Sidang Senat Terbuka” dengan agenda “Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2010/2011”. Menurut Murrinie sidang senat hanya berlaku dua kali, yaitu pada waktu penerimaan mahasiswa baru dan wisuda. Selanjutnya, mahasiswa dikenalkan dengan kurikulum, organisasi fakultas dan lain-lain untuk memberikan pengetahuahan kepada mahasiswa, bagaimana cara belajar di UMK oleh Fakultas masing-masing.


User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK-Sebanyak 1.948 mahasiswa baru Universitas Muria Kudus (UMK) tahun akademik 2010/2011 mengikuti Masa Perkenalan Mahasiswa Baru (Sapamaba) selama 2 hari, 26 dan 27 Agustus 2010. Mahasiswa baru yang mengikuti Sapamaba tersebut merupakan hasil dari proses seleksi calon mahasiswa baru yang diselenggarakan pada dua gelombang dari 3.886 pendaftar di UMK.

Dari jumlah mahasiswa baru tersebut berasal dari 6 Fakultas, masing-masing, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), 828 orang, Fakultas Teknik, 538 orang, Fakultas Ekonomi, 381 orang, Fakultas Hukum 111 orang, Fakultas Psikologi 49 orang, dan Fakultas Pertanian 41 orang.

Menurut Prof. Dr. dr. Sarjadi, Sp.PA, kegiatan Sapamaba merupakan implementasi Keputusan Dirjen Dikti No. 38/DIKTI/Kep/2000 tentang Pengaturan Kegiatan Penerimaan Mahasiswa Baru di Perguruan Tinggi, Panduan Umum Pengenalan Kampus Bagi Mahasiswa Baru oleh Dirjen DIKTI tahun 2004, serta Keputusan Rektor No 09/AK.UMK/Kep/A.25.01/VIII/2008 tentang SAPAMABA.

Konsep Sapamaba sendiri berbeda kegiatan perpeloncoan seperti yang terjadi pada masa lalu. “Kegiatan ini lebih menekankan pada usaha memfasilitasi mahasiswa baru dalam rangka beradaptasi dengan lingkungan studi perguruan tinggi (PT),” jelas Sarjadi. Menurut Sarjadi, kegiatan Sapamaba bertujuan agar mahasiswa baru memiliki bekal cukup untuk mengenal dan beradaptasi begaimana seharusnya bersikap, berpola piker dan bertindak di lingkungan PT.


User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK-Mahasiswa sebagai agen perubahan mempunyai peran penting dalam mengembangkan kondisi masyarakat yang aman dan kondusif. Potensi mahasiswa ini ditangkap oleh Polda Jateng sebagai sarana pengembangan pengamanan masyarakat.

Melalui Surat Keputusan Kapolri Skep/737/X/2005 tentang Kebijakan dan Strategi Penerapan Model Perpolisian Masyarakat dalam Penyelenggaraan Tugas Polri, maka Polisi Masyarakat (Polmas) dibentuk. Untuk daerah Jateng, unsur mahasiswa diberikan porsi sejajar dengan masyarakat. Sehingga nantinya mahasiswa menjadi terlibat secara langsung dalam konsep community policing/polmas.

Ada lima universitas di Jateng yang jadi mitra, yakni Universitas Diponegoro, Universitas Negeri Semarang, Universitas Muria Kudus (UMK), dan rencana di Universitas Sebelas Maret, dan Universitas Jenderal Soedirman.UMK merupakan satu-satunya perguruan tinggi swasta di Jateng yang diganteng dalam program ini.

Menurut Kabag Bina Penertiban Penyuluhan (Bintibluh) Biro Bina Mitra Polda Jateng Sri Indra Sakti, program ini untuk memanfaatkan potensi kampus dan mahasiswa dalam sumbangsihnya terhadap perkembangan masyarakat.

”Mahasiswa memiliki peranan yang strategis dalam menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat, sebagai pencegah, penangkal dan penanggulangan gangguan,” kata Indra, panggilan akrabnya, dalam sosialiasi program tersebut di UMK, belum lama ini di UMK.