iden

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK-Suara gemercik air di bebatuan sungai seolah membentuk nada ritmis. Telinga seperti sedang mendengar alunan sebuah instrumen musik klasik. Begitu pula, mata menggambar rindangnya alam oleh beragam macam perpohonan. Inilah suasana yang langka hadir dalam kehidupan keseharian. Keseharian penuh kesibukan dengan iringan suara bising dan gambaran lalu lalang kendaraan. Di zaman krisis lingkungan seperti kini, suasana alam makin dirindukan.
Pantas saja, begitu sampai di Wisata Alam Baturaden, ratusan wajah yang jemu dan kelu oleh perjalanan selama hampir setengah hari menghilang. Gaduh suara laju kendaraan sekejap terlupakan oleh suasana alam yang masih “perawan” di Wisata Baturaden. Hanya keceriaan yang tampak dari ratusan perserta wisata Keluarga Besar Universitas Muria Kudus (UMK).
Selama 2 hari, Minggu-Senin (15/5-16/5) kemarin, keluarga besar UMK berwisata di Baturaden (Banyumas), Museum Reptil dan Serangga (Purbalingga), dan Owabong (Purwakarta). Wisata diselenggarakan bagi karyawan dan dosen berikut keluarganya. Tercatat, sebanyak 600 orang menjadi peserta wisata.

 


User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK-Setiap muslim ingin khusyu’, baik dalam ibadah maupun kehidupan. Untuk meraihnya, ada yang berusaha dengan berkonsentrasi, menyatu dengan alam, bahkan mengerjakan shalat dengan waktu yang panjang. Akan tetapi kekhusyu’an tidak kunjung dirasakan. Sesulit itukah untuk mencapai kekhusyu’an?

Khusyu’ adalah hadiah, sehingga tidak akan teraih dengan cara memaksa.  Khusyu’ harus ditunggu kedatangannya dengan sabar, syukur, berserah diri serta tertib. Memang, dengan cara berkonsentrasi, panjangnya waktu shalat, atau berdzikir lama juga dapat membawa hamba abid menuju kekhusyu’an. Tentunya akan menyulitkan bagi mereka yang memiliki banyak kesibukan karena butuh pengorbanan besar dari segi waktu maupun tenaga.

 


User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK-Kesadaran atas prinsip dasar terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI); Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika, kian pudar. Selama 32 tahun Pancasila “dibajak” sebagai alat kepentingan politik dan kebijakan untuk asimilasi SARA oleh rezim Orde Baru. Akhirnya, masyarakat  menjadi alergi dan trauma untuk mengedapankan kedua prinsip tersebut.
Hal itu diungkapkan oleh Guru Besar Psikologi Politik Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. Hamdi Muluk dalam Seminar Nasional Psikologi Multikulturalisme yang diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus (UMK) pada Senin (9/5) di Hotel Kenari Kudus.

 


User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK- Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus (UMK) menyelenggarakan Seminar Nasional Psikologi Multikulturalisme pada Senin (9/5) di Hotel Kenari Kudus. Seminar yang mengangkat tema “Upaya Membumikan Semboyan Bhineka Tunggal Ika Sebagai Salah Satu Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara” ini berlangsung mulai pukul 07.00 hingga 17.00 WIB. “Pembicara seminar kami datangkan dari Universitas Indonesia (UI) dan Komnas HAM,” kata Ketua Seminar, M. Widjanarko, S.Psi., M.Si.

Sebagaimana jadwal yang telah disusun panitia, seminar akan dibagi dalam empat sesi. Pada sesi pertama, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus akan menyampaikan materi mengenai “Realitas Kehidupan Multikulturalisme di Kudus”, dan Guru Besar Psikologi Sosial Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. Hamdi Muluk akan menyampaikan makalah berjudul “Peran Psikologi dalam Kehidupan Multikulturalisme di Masyarakat”