iden

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK - Regulasi-regulasi yang menghambat kemajuan UMKM dan koperasi harus dihilangkan. Hal seperti harus bisa diakomodasi oleh RUU Cipta Kerja. Sehingga UMKM dan koperasi juga bisa ikut berkembang mamsimal.

 

“Secara konsep saya mengusulkan untuk RUU Cipta Kerja harus bisa mengakomodasi kepentingan UMKM dan Koperasi,” ujar Dr Mamik Indaryani dalam diskusi bertema 'Solusi Bangkitkan Ekonomi di Pantura Pasca Pandemi', Selasa (1/9/2020).

 

Mamik menyoroti regulasi daerah yang kerap kali menjadi penghambat bagi UMKM dan Koperasi. Menurutnya, harus ada terobosan yang bisa menghilangkan hambatan-hambatan regulasi tersebut.

 

“Kalau RUU Cipta Kerja ini bisa mengurangi hambatan tentunya akan membawa perubahan,” kata Mamik.

 

Mamik menambahkan di era globalisasi seperti sekarang ini, negara tidak boleh menghambat masuknya investasi. Sebab, kata Mamik, jika investasi terhambat akan berdampak besar terhadap perkembangan usaha baik kecil, menengah, sampai besar.

 

"Negara tidak boleh kaku, harus lentur dan adaptif menghadapi dunia kerja. Makanya harus ada penghilangan regulasi-regulasi yang menghambat," kata Mamik. (*)

 

Ekonom Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara Samsul Arifin melihat ada empat permasalahan nyata yang bisa terjadi apabila RUU Cipta Kerja tidak disahkan. Keempat hal tersebut banyak berkaitan dengan permasalahan ketenagakerjaan dan ekonomi Indonesia secara keseluruhan.

 

"Jika RUU Cipta Kerja ini tidak segera diberlakukan, ada empat permasalahan nyata yang bisa terjadi. Lapangan kerja jelas akan pindah ke negara yang lebih kompetitif. Daya saing pekerja kita akan relatif lebih rendah. Jumlah penduduk yang menganggur juga akan sangat banyak, dan Indonesia akan terus terjebak dalam middle income trap," kata Samsul dalam diskusi bertajuk 'Solusi Bangkitkan Ekonomi di Pantura Pasca Pandemi', Selasa (1/9).

 

Menurutnya, ada tujuan besar yang perlu dicapai Indonesia pada tahun 2045 dan ini harus dilakukan dengan langkah-langkah kecil yang strategis. Regulasi dan perizinan harus diharmonisasi dan disimplifikasi. Investasi yang berkualitas juga harus diciptakan beriringan dengan penciptaan lapangan kerja berkualitas dan kesejahteraan pekerja yang berkelanjutan.

 

"Ini harus dicapai pada tahun 2024. Kalau regulasi yang ada tidak simpel dan tidak mendukung pengembangan dunia usaha, ini tentunya akan berdampak pada pengembangan ekonomi ke depannya," kata Samsul melanjutkan.

 

Perubahan perspektif investor dalam memilah target investasi pasca Covid-19, juga harus direspons dengan tepat. Regulasi untuk mempermudah investasi masuk, adalah magnet yang diperlukan untuk menarik investasi kembali masuk ke Indonesia.

 

"Pola tata kerja perusahaan dan perilaku masyarakat juga harus diawasi pasca Covid-19 ini. Dunia semakin berkembang dan saling sodok, kalau kita tidak siap dan masih bicara soal regulasi yang bertele-tele kita pasti akan ketinggalan," kata Samsul.

 

Sampai saat ini, pemerintah dan DPR masih melakukan pembahasan mengenai beleid RUU Cipta Kerja. Berbagai masukkan dari elemen-elemen seperti serikat pekerja dan pengusaha juga coba terus diakomodasi agar RUU ini bisa segera disahkan dan efeknya bisa terasa segera setelah pandemi Covid-19 berakhir.(Humas-Linfokom)

 

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK - Universitas Muria Kudus (UMK) sudah membuat pedoman khusus pembelajaran selama Pandemi Covid-19 untuk semester gasal 2020/2021. Bahkan aplikasi e-learning Sinahu Temenanan (Sunan) sudah diupgrade, server dengan kapasitas besar sudah disiapkan. Tujuannya agar semua materi bisa masuk ke Sunan, tidak hanya power point atau pdf saja, melainkan juga bisa untuk video dan lainnya.

Hal itu disampaikan Rektor UMK Dr. Supatnyo saat kegiatan sosialisasi pedoman pmbelajaran semester gasal 2020/2021 selama masa pandemi Covid-19. Bahkan rektor sudah mengeluarkan peraturan rektor nomor: 060/R.UMK/Kep/Sek/A.18.05/VIII/2020 tentang pedoman pembelajaran selama pandemi Covid-19.

Kepala Badan Penjaminan Mutu (BPM) UMK Dr. Endang Dewi Murrinie mengatakan, untuk perkuliahan dilakukan secara blended learning, dilakukan secara langsung (sinkronus) atau tatap muka (asinkronus) maupun tidak langsung atau tatap maya. ”Tentu paling banyak dilakukan dengan tetap maya,” katanya kemarin.

Untuk tatap muka dilakukan lima kali dan asinkronus dilakukan sebelas kali, untuk jumlah pertemuan sebanyak 16 minggu per semster. Untuk pembelajaran di laboratorium dan studio juga diatur, tetap ada tatap muka.

Untuk tatap muka sebanyak 50 menit, penugasan terstruktur 60 menit dan mandiri 60 menit. Sementara untuk pembelajaran di luar kelas berupa seminar dan sejenisnya tatap muka 100 menit dan mandiri 70 menit. Lalu praktikum, ptaktek lapangan, dan penelitian serta pengabdian sebanyak 170 menit.

Pelaksanaan pembelajaran tatap muka tentunya wajib mengikuti protokol kesehatan yang ketat, mulai dari pengecekan suhu, memakai masker, cuci tangan, menggunakan hand sainitizer dan jaga jarak. Bahkan untuk dosen menggunakan face shield dan saat masuk tidak bersamaan dengan mahasiswa. ”Untuk jumlah tiap kelas dikurangi, kursi yang tidak terpakai disingkirkan,” jelasnya.

Kursi yang tidak terpakai disingkirkan agar tidak digunakan untuk ‘ngobrol, antisipasi karena mahasiswa sudah tidak bertemu temannya cukup lama. Dikhawatirkan ngobrol sehingga tujuan jaga jarak tidak tercapai.

Dia menambahkan, pembelajaran di luar kelasseperti praktikum, kuliah kerja kapangan (KKL), magang hingga praktek pengalaman lapangan (PPL) dan kegiatan yang sejenis yang di luar kelas dilaksanakans ecara terbatas. Instansi yang dituju harus memenuhi protkol kesehatan covid-19 dan bukan kategori zona merah. Untuk pembimbingan dan pelaporan dilakukan secara daring.

Sedangkan untuk kuliah kerja nyata (KKN) dilaksanakans ecara daring dan kegiatan lapangan terbatas, dengan wilayah sasaran daerah domisili peserta. Skripsi dan tugas akhir juga dilakukans ecara daring, namun dalam keadaan tertentu bisa dilakukan tatap muka dengan memenuhi syarat protokol kesehatan.  

Sementara itu, Wakil Rektor I Dr. Murtono mengatakan, untuk pelaksanaan kuliah dari memang akan dilakukan perbaikan. Karena kuliah daring akibat pandemi, bisa dikatakan memang agak kaget, apalagi saat kuliah sudah berjalan. ”Untuk semester depan kita akan lakukan perbaikan, terutama untuk daring,” jelasnya.

Untuk daring nantinya akan dilakukan melalui aplikasi Sunan, apliaksi tersebut tengah ditingkatkan. Sehingga bisa memuat banyak materi, termasuk berupa video, tidak hanya berupa PPT atau pdf, namun akan lebih komplit.

Pihaknya sudah memesan server agar mampu memenuhi proses pembelajaran daring secara maksimal. ”sarana prasarana untuk daring atau memeprkuat sunan harganya cukup mahal, bahkan harus impor, tiga minggu lagi barangnya sampai,” imbuhnya.

Dengan perbaikan sarana prasarana penunjang pembelajaran daring tersebut, diharapkan pembelajaran bisa maksimal. Apalagi saat pandemi seperti saat ini, tentunya harapannya kondisi bisa berangsur normal. ”Kita akan lakukan blended learning, karena itu sebuah keniscayaan, teknologi harus dimanfaatkan untuk peningkatan pembelajaran,” imbuhnya.(humas-Linfokom)

 

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK - Universitas Muria Kudus (UMK) memiliki satu doktor lagi, yakni Dr. Ahdi Riyono, SS. M.Hum, gelar tersebut disandang setelah promosi doktor Prodi Linguistik Terapan Pasca Sarjana Universitas Negeri Jakarta selesai dilakukan. Dengan gelar tersebut, maka dia menjadi satu-satunya doktor dalam bidang linguistik terapan.
Dr. Ahdi Riyono mengatakan, untuk menyelesaikan gelar doktor memang butuh perjuangan, apalagi saat-saat akhir ada pandemi Covid-19. Sehingga memang harus dilakukan agak berbeda untuk penyelesaiannya. "Untungnya semua bisa online, jadi masih bisa tetap jalan," katanya kemarin.
Selain itu, kendala utama lainnya yakni saat dirinya sering sakit, sehingga dia sibuk untuk berobat dan memulihkan diri. Cukup lama dirinya harus berobat, sehingga dia hanya mengumpulkan bahan saja, belum sampai dibaca menyeluruh. Usai sakitnya sembuh, dirinya baru melanjutkan menyelesaikan disertasinya.
Dirinya mengambil bidang penerjemahan dengan spesialisasi penerjemahan novel. Untuk judul disertasinya yakni 'Ideologi dalam Penerjemahan Novel dari Bahasa Indonesia Kedalam Bahasa Inggris. Disertasi tersebut mengungkapkan bagaimana ideologi memiliki peran yang sangat penting dalam penerjemahan karya sastra, khususnya novel Indonesia kedalam Bahasa Inggris.
Dia menambahkan, untuk penerjemahan tidak hanya melihat kata atau struktur kalimat saja, namun juga harus melihat faktor ideologi yang ada dalam novel tersebut. Ideologi ini berarti tentang keyakinan-keyakinan, prinsip dan nilai-nilai yang dijadikan oleh pengarang teks dalam penulisan narasi. "Seseorang menulis narasi pasti mengandung muatan ideologis dan itu terkodekan dalam teks, teks itu bisa wacana, kalimat, frase, kata dan ungkapan-ungkapan," terangnya.
Misalnya 'ronggeng', ketika hanya diterjemahkan dengan 'dance' tentu kurang tepat, tidak sepadan karena nilai idiologisnya tidak muncul. Sehingga ketika menerjemahkan juga harus tahu ideologis, salah satunya sisi budaya. "Jadi sebenarnya untuk menjadi penerjemah itu tidak mudah," ujarnya.
Untuk itu, untuk menjadi penerjemah memang harus memiliki banyak kemampuan, tidak hanya sekedar memahami bahasa saja. Ada faktor lain yang harus dikuasai oleh penerjemah, sehingga hasil penerjemahan nantinya bisa sesuai dengan apa yang dinginkan penulisnya.(Humas-Linfokom)

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive


UMK - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muria Kudus (UMK) melaksanakan kegiatan Estafet Bendera Merah Putih. Dalam perjalanan menuju titik-titik yang ditentukan, mahasiswa juga membagikan masker kepada warga yang tidak memakai masker sebagai upaya untuk pencegahan penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19).
Kegiatan ini dimulai dari kampus UMK lalu menuju Perempatan Panjang dilanjutkan Makam Taman Pahlawan di Kaliputu dan Makan Sosro Kartono. Selanjutnya menuju ke Pendapa Kabupaten Kudus lalu Markas Kodim 0722, dilanjutkan ke Pertigaan Salam dan terakhir kembali ke kampus UMK. Di setiap titik tersebut dilakukan pergantian personil yang membawa bendera.
Peserta estafet Bella Aurelia Adelina mengaku bangga bisa mengikuti kegiatan ini, karena dari kegiatan ini bisa untuk mengingatkan tentang nasionalisme. Selain itu mengingatkan tentang jasa pahlawan yang sudah berjuang untuk meraih kemerdekaan. "Jadi kita harus mengisi kemerdekaan ini dengan kegiatan positif," katanya usai melakukan estafet.
Dengan kegiatan positif, tentunya bisa menangkal gerakan-gerakan yang justru merusak negara, karena aliran-aliran yang merongrong negara juga muncul. Dengan kegiatan estafet bendera merah putih ini, meneguhkan kembali semangat nasionalisme, terutama kaum millenial seperti dirinya.
Ketua Panitia Estafet Bendera Merah Putih Gilar Bagus Pernama mengatakan, kegiatan ini memang dilakukan dalam rangka peringatan hari kemerdekaan ke-75 Republik Indonesia (RI). Pihaknya memilih dengan cara estafet karena untuk mengurangi gerobolan. "Karena masa pandemi, kami tidak bisa melaksanakan dengan banyak orang," jelasnya.
Untuk itu, dipilihlah kegiatan Estafet Bendera Merah Putih ini, karena melibatkan sekitar 58 orang, setiap titik ada sekitar tujuh orang yang bertugas. Sehingga tidak terlalu banyak gerombolan, pelaksanaannya juga dengan protokol kesehatan yang ketat.
Dengan kegiatan tersebut, pihaknya ingin turut serta dalam meningkatkan jiwa nasionalsime dan patriotisme. Sehingga akan terus tumbuh pada kaum millenial, jangan sampai jiwa nasionalis meluntur, karena untuk meraih kemerdekaan banyak pahlawan yang sudah gugur.
Selain estafet, dalam perjalan juga membagi masker kepada warga yang tidak memakai amsker, karena dipungkiri atau tidak, pandemi saat ini belums elesai. Sehingga dengan pembagian amsker tersebut diharapkan warga kembali mematuhi protokol kesehatan. Sehingga pandemi saat ini bisa segera diatasi. "Kami juga melakukan tabur bunga di makam pahlawan dan ada juga sarasehan usai estafet di kampus," imbuhnya.
Sementara itu, Rektor UMK Dr. Suparnyo mengatakan, kegiatan estafet ini memang untuk memeriahkan hari kemerdekaan, mengingatkan jasa pahlawan dalam merebut kemerdekaan. "Kami tentu mendukung kegiatan seperti ini, karena sangat positif," terangnya.
Untuk kegiatan ini memang tidak dilakukan dengan banyak orang seperti biasanya, tidak bisa secara kolosal. Sehingga harus ada ide lain, akhirnya ide estafet yang dijalankan dan sangat memeprhatikan protokol kesehatan dalam pelaksanaannya.
Pihaknya juga sangat berterimakasih kepada seluruh pijak yang mendukung, mulai dari Kapolres Kudus, Dandim Kudus, hingga Plt. Bupati Kudus dalam menyukseskan acara. Apalagi setiap pos, mahasiswa juga mendapatkan motivasi, baik dari Plt Bupati Kudus yang diwakili Sekda maupun dari Dandim 0722 yang diwakili Kasdim.(HUmas-Linfokom)

Page 4 of 388