iden

Pemimpin Bingung, Generasi Muda Pun Jadi Bingungan

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

UMK- Karakter bangsa menjadi kebutuhan mendesak untuk ditanamkan pada generasi muda. Pasalnya, krisis keteladanan elit akan berdampak pada kebingungan generasi muda, termasuk mahasiswa.
“Mahasiswa sekarang ideologinya pragmatis dan hedonis karena semua fasilitas ada,” ujar Mochamad Yulianto, Msi dalam seminar bertema “Revitalisasi Pendidikan Karakter sebagai Upaya Melindungi Generasi Bangsa” di Universitas Muria Kudus (UMK) pada Rabu (1/6) kemarin.
Ideologi tersebut, lanjut dosen di Universitas Diponegoro tersebut, merupakan dampak dari globalisasi berikut bermacam rayuan gaya hidup baru yang diusung. Kemudahan dalam mengakses teknologi informasi disebut-sebut sebagai salah satu faktor penyebab utama. “Berbeda dengan zaman dahulu yang serba terbatas. Mahasiswanya pun kritis,” tuturnya.

 

Selain Yulianto, seminar juga mendatangkan Kapolda Jawa Tenga (Irjen Polisi Edward Aritonang), Dosen IAIN Walisongo (Tafsir, MAg), Ka. Korda FKA-ESQ Kudus (Iskandar Wibawa, SH MH) sebagai pembicara. Rektor UMK, Prof. Dr. Dr. Sarjadi, SP. PA. pun turut mengisi acara sebagai keynote speaker seminar.
Tafsir mengawali ulasannya melalui narasi kebingungan generasi bangsa yang ditimbulkan oleh tiadanya teladan. Baginya pendidikan karekter dapat berjalan hanya dengan keteladanan. “Bayangkan, kita dipimpin oleh elit yang bingung, bagaimana kita tidak bingung dan hopless?” ujarnya dengan nada tanya.
Saat ini, tambahnya, pemuda Indonesia dihadapkan pada tiga persoalan besar, di antaranya; ketidakpastian masa depan, beban seksual dan ketatnya persaingan hidup. Posisi generasi muda, Ia jelaskan dengan mengutip teori Ibnu Khaldun yang disebutnya “Fase 40”.
“Sebagaimana fase 40 pada perjalanan kebidupan seorang manusia, fase awal adalah membangun, manja dan perusak. Begitu juga pada bangsa, gerasi 40 tahun pertama adalah pembangun negeri, sementara generasi saat ini adalah pada posisi generasi manja,” katanya.
Selain bergantung keteladanan pemimpin, menurut Tafsir, untuk membangun karekter juga harus disertai metode, kebanggaan dan dilakukan secara terus menerus. “Jadi pendidikan karakter tidak hanya dimulai ketika kuliah, bahkan sejak ngapati janin dalam kandungan ibu,” ujarnya.
Dengan sudut pandang berbeda, Iskandar memaparkan pendidikan karakter ditinjau darikecerdasan emosi dan spiritual. “Pendidikan karekter akan berhasil jika antara intelegensi, emosial dan spiritual dikembangkan,” jelas Iskandar. (Farih/Hoery-Portal)