iden

Pendidikan Sadar Media Perlu Digencarkan

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

UMK – Media lebih banyak menayangkan acara yang berpotensi pada pengaruh negatif. Masyarakat perlu kritis dalam memperlakukan media, terutama televisi. Pendidikan sadar media harus digencarkan.
Hal itu mengemuka dalam pelatihan Media Literacy yang diselenggarakan oleh Humas Universitas Muria Kudus (UMK) kerja sama Lembaga Studi Pers dan Informasi (LeSPI) Semarang pada Jum’at (29/5) sore. Acara yang berlangsung di ruang VIP Gedung Rektorat UMK ini menghadirkan mantan anggota KPID Jawa Tengah, Lilik B Wiratmo dan Kepala Bagian Humas UMK, Zamhuri.
“Oleh media, tema apapun dikemas dalam pespektif hiburan dan bisnis. Tidak agama, politik, ekonomi, sosial, budaya, semua dieksploitasi untuk mendatangkan untung bagi media,” kata Zamhuri kepada peserta.
Berbagai fenomena di masyarakat menunjukkan media tidak banyak berperan dalam pendidikan masyarakat, bahkan sebaliknya. Hal itu dapat dilihat misalnya media tidak memberikan porsi pada acara pendidikan anak bangsa. “Tidak ada acara anak. Karena tayangan dimonopoli kaum dewasa, anak-anak menjadi lebih “dewasa” melebihi umur seharusnya,” katanya.

 

Ia menjelaskan lagu-lagu anak-anak dan lagu-lagu daerah tidak lagi dinyanyikan. Masyarakat juga menjadi asing dengan budaya dan nilai-nilai lokal. Akibatnya, budaya lokal terkesan kuno dan asing. Sementara, budaya asing dikesankan modern sehingga ditiru dan dikonsumsi sehari-hari. “Pakaian minim, dahulunya terkesan tabu. Akan tetapi karena sering ditayangkan media, hal itu menjadi biasa,” katanya.
Media, lanjut Zamhuri, tidak ubahnya makanan. Makanan agar terbeli harus dibuat semenarik mungkin dengan cara menambahkan pewarna, perasa dan pengawet. Begitu juga  dengan acara televisi.
Agama, sosial, budaya, dieksploitasi sedemikian rupa agar menarik dan menghibur, tanpa peduli hilangnya nilai-nilai yang terkandung. “Padahal itu menjadi racun di kepala pemirsa sebagaimana bahayanya zat adiktif pada makanan bagi kesehatan,”tuturnya.
Mantan Anggota KPID, Lilik B Wiratmo mengatakan, pendidikan sadar media tidak akan berhasil jika hanya mengandalkan peran pemerintah, baik melalui aturan atau pun lembaga pemerintah seperti KPID.
Ia melanjutkan mahasiswa perlu berperan dalam memberikan pendampingan kepada masyarakat untuk menyebarkan pengetahuan mengenai sadar media.
Peserta pelatihan, Titik Monika mengaku ngeri melihat tayangan media. Pasalnya, berbahaya bagi perkembangan psikologi, terutama anak. Solusi dengan pendampingan orang tua kepada anak yang sedang menonton TV juga tidak akan maksimal. “Orang tua kan juga sibuk oleh pekerjaannya sendiri,” tutur Mahasiswi FKIP UMK ini.(Farih/Hoery- Portal)