iden

Fakultas Teknik Kembangkan Teknologi Pengecoran

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

UMK-Proses Pengecoran (casting) adalah salah satu teknik pembuatan produk dimana logam dicairkan dalam tungku peleburan kemudian dituangkan ke dalam rongga cetakan yang serupa dengan bentuk asli dari produk cor yang akan dibuat. Pengecoran juga dapat diartikan sebagai suatu proses manufaktur yang menggunakan logam cair dan cetakan untuk menghasilkan bagian-bagian dengan bentuk yang mendekati geometri akhir produk jadi. Proses pengecoran sendiri dibedakan menjadi dua macam, yaitu traditional casting (tradisional) dan non-traditional (nontradisional).
Demikian penjelasan Sugeng Slamet, ST, MT, Dosen Teknik Mesin sekaligus Dekan Fakultas Teknik Universitas Muria Kudus (FT UMK). Menurut Sugeng keberadaan industri pengecoran di Kudus dan sekitarnya perlu pendampingan dari  FT UMK, terutama dalam pengembangan teknologi pengecoran. Karena sistem yang digunakan di kawasan pantura timur masih menggunakan sistem tradisional. Meskipun demikian pengecoran tradisional merupakan landasan dari sebuah industri baik kecil maupun besar. “Pengecoran sudah dimiliki oleh bangsa indonesia sejak nenek moyang kita terbukti dengan adanya tombak baja,” jelas Sugeng.

Pendampingan UKM
UMK yang menjadi satu-satunya universitas yang mempunyai jurusan teknik mesin juga melihat keberadaan usaha kecil menengah (UKM) yang ada di kawasan pantura timur terutama di daerah Hadipolo Kudus dan Growong Juwana Pati. “Desa Hadipolo dan Growong lor merupakan sentra pengecoran di pantura timur, dan FT UMK memberi pendampingan di kedua desa tersebut,” ujar Sugeng.

Menurut Sugeng ada dua hal yang perlu dikembangkan dari kedua potensi desa tersebut. Pertama meningkatkan kualitas dari pengecoran. Selama ini pengecoran yang ada masih menggunakan sistem tradisional yang masih menggunakan teknologi tepat guna. “Seharusnya pemerintah selaku pengambil kebijakan harus bisa memberikan ruang dan dukungan kepada para UKM ini,”tambah Sugeng.

Sebetulnya, masih menrut Sugeng, pengecoran yang sudah di desa Growong Lor sudah berkualias meski masih kalah dengan buatan pabrik. Terbukti dengan penggunaan blok mesin oleh industri motor Cina (Mocin) yang menggunakan industri UKM pengecoran di Growong Lor. “Mereka tinggal diberi pengarahan sedikit maka UKM-nya bisa berkembang pesat,” papar Sugeng.
Kedua, pemilik UKM harus mau belajar. Berkembangnya teknologi dan automatisasi mesin akan menjadikan UKM yang tidak mau belajar ketinggalan dengan perubahan. “Bejalar akan memberikan banyak pengetahuan teknologi kepada mereka dan akan mengembangkan industrinya,” tegas Sugeng mengakhiri perbicangannya dengan Protal UMK. (Harun/Portal)