iden

Meski Inflasi Tinggi, Nilai Ekspor Indonesia Positif

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Menurunnya Bursa Efek Indonesia (BEI) dan meningkatnya inflasi Indonesia pada tahun 2011 menimbulkan kecemasan bagi pengamat dan pelaku usaha. Harga cabai yang pernah menembus harga Rp.120.000 ribu/kg bisa mengerek inflasi di Indonesia. Kecemasan serupa dirasakan oleh Febra Robiyanto, pengamat ekonomi, sekaligus staf pengajar dari Fakultas Ekonomi Universitas Muria Kudus (FE UMK).
Tidak hanya tingginya komoditas tertentu dari barang-barang kebutuhan pokok sebagai penyebab inflasi, menurut Febra, inflasi juga diperparah oleh terjadinya bencana alam diberbagai tempat di Indonesia “Banyak bencana yang menjadikan panen kita terganggu seperti gunung meletus dan banjir, sehingga suplay kebutuhan menjadi berkurang,” tambahnya.

Setidaknya, menurut Febra, ada empat komoditas  yang menjadi penyumbang terbesar terhadap angka inflasi di bulan Januari 2010 yaitu beras, gula pasir, minyak goreng dan cabe merah. Dalam hitungan Badan pusat statistik (BPS), beras saja sudah menyumbang inflasi 0,35%.

Sementara komoditas yang mengalami deflasi antara lain buah-buahan, emas, sandang, daging ayam dan telur. “Dalam laporan BPS banyak barang-barang yang justru deflasi karena ketersediaan barang yang cukup,” terang Febra. Menurut Febra, pemerintah harus bisa memberikan kontrol bagi pangan Indonesia. ”

Rakyat miskin akan merana jika harga pangan masih mahal, dan tugas pemerintah untuk menyetabilkan harga,”paparnya. Selain itu, faktor kepemimpinan juga menjadi soal yang dapat berpengaruh pada sistem ekonomi di Indonesia. Tidak hanya yang kaya yang mendapatkan kemudahan namun yang miskin harus juga harus mendapatkan pelayanan yang memadai, supaya lebar kesenjangan tidak terlalu lebar..

Ekspor masih positif
Meski inflasi tinggi dan BEI  mengalami penurunan, menurut data dari Kementrian Perindustrian dan Perdagangan (Kemerindag), ekspor Indonesia selama Januari-Agustus 2010 menunjukkan peningkatan sebesar 40,4% dibandingkan periode yang sama tahun 2009 terutama karena kuatnya kinerja ekspor non migas.

Dengan pertumbuhan ekspor sebesar 40,4% selama Januari-Agustus 2010, nilai ekspor mencapai US$ 98,7 miliar. Dari nilai total tersebut, sektor non migas mampu memberikan kontribusi sebesar 82,8% dengan pertumbuhan sebesar 36,2% dan kontribusi sektor migas sebesar 17,2% dengan pertumbuhan sebesar 64,6%. Berdasarkan pada kinerja eskpor bulanan, kinerja ekspor bulan Agustus 2010 juga menunjukkan kinerja yang masih baik, dimana ekspor Indonesia meningkat sebesar 9,8% dibandingkan bulan Juli 2010. Peningkatan ini didukung oleh naiknya ekspor non migas sebesar 10,9% dan migas sebesar 3,1%.
Dalam catatan Kemerindag neraca perdagangan Indonesia selama periode ini mengalami surplus sebesar US$ 10,9 miliar dengan suplus non migas mencapai US$ 11,4 miliar namun penerimaan dari migas mengalai defisit sebesar US$ 0,5 miliar. Menurut Febra, penurunan BEI dan tingkat inflasi tidak signifikan mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia. (Harun/portal)