iden

FT UMK Mendukung RIM Buka Server di Indonesia

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

UMK-Keberadaan Blackberry di Indonesia mulai mendapatkan kritikan. Ini terkait dengan pelanggaran Research in Motion (RIM) selaku memilik Blackberry yang dianggap telah melanggar tidak kurang dari tiga undang-undang Indonesia.  Yakni, UU nomor 36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi, UU nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektonik (UU ITE), serta UU nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi. “Kami mendukung penuh keputusan Menteri Komunikasi dan Informasi (MENKOMINFO) Tifatul Sembiring,” ujar  Hera Setiawan, Pembantu Dekan III Fakultas Teknik Universitas Muria Kudus (FT UMK).
Menurut Hera keberadaan RIM sudah kelewat batas. Hal ini terkait dengan pelanggaran yang dilakukan oleh RIM, terlebih soal server yang tidak ada di Indonesia. “Seharusnya server itu ada di Indonesia karena pemerintah akan lebih leluasa memonitoring dan mengevaluasi keberadan RIM dan juga tidak lupa pajak dari RIM,” jelas Hera.
Alasan RIM tidak mau mendirikan server di Indonesia, tambah Hera,  murni tentang bisnis. RIM beranggapan Indonesia hanya sebuah pasar dan tidak perlu mempunyai pabrik (baca; server) yang membutuhkan biaya besar. “Coba seandainya itu seperti motor yang harus membutuhkan suku cadang dan SDM di Indonesia, pasti RIM akan mendirikannya di Indonesia,” tambah Hera.

 

Penutupan Situs Porno juga menjadi hal yang bagus. Sambil mengutip pendapatnya Indira Permanasari pada Harian Umum Kompas (18/01/11) menunjukkan bahaya pornografi, terutama bagi anak.  Menurut Indira, dalam tulisannya, disebutkan bahwa  pakar adiksi pornografi dari Amerika, Mark Kastleman, mengungkapkan, stimulasi oleh pornografi merangsang pelepasan hormon dopamin dan endorfin. Jumlah reseptor di dalam otak juga terus bertambah yang dapat menggiring seseorang menjadi kecanduan.
Kedua bahan kimia otak itu menimbulkan perasaan senang dan lebih baik melalui repetisi dan stimulasi neurotransmiter. Jika paparan pornografi diteruskan, otak akan membutuhkan dopamin semakin besar guna mempertahankan kadar rasa senang yang sama. Untuk itu,  otak tak bekerja dengan normal dan tidak dapat merespons lagi, akibatnya otak mengecil. Pada anak dan remaja yang bagian otak logikanya belum berkembang, pornografi akan sangat berpengaruh dan rentan menyebabkan adiksi (kecanduan) serta merusak tumbuh kembang otak anak. “Kalau bicara pemblokiran pornografi saya setuju 100 %. Karena itu jelas merusak  pikiran,”tambah Hera. (Harun/Portal)