iden

TIM PSIKOSOSIAL UMK BEREMPATI DALAM BENCANA MERAPI

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Magelang-Sebagai bentuk empati terhadap pengungsi Merapi, Fakultas Piskologi Universitas Muria Kudus (UMK) membentuk Tim Psikososial. Tim ini bertujuan melakukan pendampingan berupa konseling orang dewasa dan anak-anak. Selain itu, melakukan pendidikan popular berupa bimbingan belajar, menggambar, mengarang, permainan anak seperti puzzle, ular tangga, halma, menonton film dan permainan interaktif (outbound indoor) serta terapi healling dengan metode katarsis dan realita.

Sebelumnya, tim psikososial melakukan survai awal ke lokasi pendampingan dan melakukan pendekatan administrasi untuk ijin dengan pihak-pihak terkait untuk melakukan pendampingan psikososial. Lokasi yang dijadikan sebagai kegiatan pendampingan psikososial berada di Kecamatan Mungkid.

Tim terdiri dari satu dosen, sekaligus koordinator tim: M. Widjanarko, S.Psi, M.Si dan mahasiswa, M. Khasan, Nor Kholidin, Dina Wahyu Harini, Gunawan, Bambang Akhadi, Selamet Riyadi, Arie Erna Suryani, Atik Sulistiyani, Anik Nur Khaninah, Imam Khanafi dan Nano Yulianto. Anggota tim sebelum turun ke lapangan diberi pembekalan berupa teknik asesmen dan pendampingan psikososial khusus untuk pengungsi Merapi.


Berangkat pada hari Senin, 8 November 2010 lalu, dari kampus UMK. Setelah bertemu Camat Mungkid, Pak Kamtono, tim terus melakukan asesmen kebutuhan pengungsi yang ada di Aula Balai Desa Mungkid. Jumlah pengungsi sekitar 139 orang berasal dari 50 KK. Pengungsi yang rentan 7 orang, balita 5 orang, anak-anak 23 anak serta 20 orang kelompok lansia. Tim psikososial live in di rumah penduduk. Asesmen dilakukan dengan observasi terlibat berupa wawancara mendalam dengan orang tua dan anak-anak, sekaligus melakukan sosialisasi keberadaan tim psikososial.

Bencana alam yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa seperti gunung meletus, menimbulkan efek yang sangat berpengaruh pada kehidupan sosial masyarakat. Aspek materi yang berkaitan dengan ekonomi, kehidupan psikologis dan kehilangan jiwa merupakan kelengkapan derita yang dialami oleh pengungsi, orang atau kelompok orang yang terpaksa atau dipaksa keluar dari tempat tinggalnya untuk jangka waktu yang belum pasti sebagai akibat dampak buruk bencana.

Setelah dua hari melakukan pendampingan psikososial diakhiri dengan terapi healling berupa tontonan film mengenai kehidupan mereka sendiri, anak-anak dan orang tua di pengungsian. Suasana haru terjadi saat menonton film mengenai diri sendiri dan semua larut dalam kedukaan dan diakhiri dengan lagu jangan menyerah milik salah satu band Indonesia yang memiliki makna untuk jangan putus asa.

Apakah asesmen psikososial sudah selesai? Belum. Setelah dari posko Kecamatan Mungkid, tim psikososial berpindah ke posko pengungsian Pabrik Kertas Blabak yang dihuni sekitar 405 pengungsi, dengan komposisi laki-laki sebanyak 174 dan perempuan 231 orang, termasuk di dalamnya kelompok lansia 203 orang dan ballita sebanyak 31 anak. Melalui metode yang sama, tim psikososial melakukan pendekatan psikologis pada orang tua dan anak-anak pengungsi yang ada di gudang Pabrik Kertas Blabak. Asesmen psikososial dilanjutkan ke rumah Pak Budiharjo, yang menerima pengungsi dan tim melakukan tindakan yang sama. Banyak dari posko lain meminta tim untuk melakukan asesmen psikososial, akan tetapi keterbatasan SDM dan waktu yang ada maka kami tidak bisa memenuhi permintaan tersebut. Setidaknya, seperti refleksi yang kami lakukan, bukan masalah mampu atau tidak dalam berbuat, yang penting sudah ada tindakan nyata kita untuk peduli dengan kemanusiaan.

Lima hari sudah kami melakukan psikososial, kondisi psikis tim juga mengalami kemunduran, berupa reaksi psikologis akibat energi psikis yang terus-menerus mengalir tanpa dibatasi oleh sekat-sekat pribadi, siapa saya dan kamu, semua larut dalam arus keinginan untuk saling membantu, berbagi dalam keempatian tugas kemanusiaan, sudah waktunya untuk men’charge’ pulang. Seminggu lagi akan kami monitoring aktivitas yang sudah kami lakukan ini. Semoga kondisi psikis pengungsi semakin membaik, tetap memiliki semangat untuk hidup!

Pada umumnya, kondisi psikologis pengungsi dewasa dan usia lanjut mengalami kelelahan psikis, kesedihan yang masih dalam taraf wajar, depresi ringan, kepasrahan akan kondisi yang dialami, jenuh dengan kondisi yang stagnan di tempat pengungsian, ketidaktahuan akan kondisi yang akan datang dan membutuhkan teman bicara.

Seperti yang diungkapkan oleh salah satu pengungsi, Ibu Sri Purwanti (50 tahun) memiliki anak empat, yang pertama perempuan sudah berkeluarga, kedua perempuan kuliah di APTA Yogyakarta semester 1, ketiga laki-laki SMA, keempat laki-laki SD kelas satu. Ibu Sri tinggal di Dukuh Sumbersari Kelurahan: Mranggen. Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang. Berada di pengungsian Balai Kecamatan Mungkid sudah seminggu berada di tempat pengungsian. Padahal di rumah memiliki 4 ekor kambing, ayam 5 ekor dan sepetak kolam ikan.

“Kondisi desa seperti hutan terbakar, saat Merapi meletus pada Hari Jum’at, memuntahkan material berupa: batu kerikil, gesik (hujan pasir), dan pasir. Dua talang rumahnya, kalau dimasukkan ke colt pick-up penuh. “Jalan-jalan mboten saget dilewati motor (jalan-jalan tidak bisa dilewati motor),” papar Bu Sri. Hal ini karena terhalang pohon roboh dan pasir yang tebal. Kembali ke desa seperti nol lagi, mulai awal, cabe, padi, sayur mayur, salak hancur semua. “Anak ingkang SMA belum bayar gedung, mau panen salak, gagal panen kondisi merapi meletus”, ibanya.

Cerita lain dari Pak Jum’at (40 tahun) yang tinggal di Dukuh Gowok Ngepoh, Kelurahan Sengi, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang. Pak Jum’at sudah berada di pengungsian selama 11 hari, Sebelum ada instruksi untuk mengungsi setiap malam bersama laki-laki yang lainnya di desanya harus berada di luar rumah untuk berjaga-jaga. Dari rumah Pak Jum’at, Gunung Merapi dapat dilihat sangat jelas saat Merapi erupsi maupun mengeluarkan wedhus gembel. Pak Jum’at menyadari bahwa Meletusnya Merapi kehendak yang kuasa, masih bersyukur semua anggota keluarganya masih bisa diselamatkan. Tidak beda dengan yang lain, Pak Jum’at memulai segalanya lagi dari titik nol. Sawah sebagai tempat mencari nafkah sudah hancur. Selain itu, kesulitan mencari makan buat ternak-ternaknya. Rumput-rumput telah terkena abu, sehingga tidak enak bila dimakan ternak. Rumput tersebut harus dicuci dahulu, namun banyak yang telah membusuk.

Sementara bagi anak-anak, dampak bencana letusan Gunung Merapi masa belajar menjadi terganggu karena tidak bisa bersekolah, meninggalkan desanya dan berkeinginan untuk bermain tanpa merasaan was-was akibat bencana. (M. Wijanarko/Portal)

 

Karya-karya puisi anak-anak pengungsi

Desaku, di pagi hari yang cerah

Aku dapat melihat pemandangan di desaku.

Pemandangan yang sangat indah

Aku kagum dengan desaku

Tapi sekarang desaku berubah

Tidak seperti dulu lagi, yang indah

Aku sedih desaku tidak dulu lagi yang indah

Pohon-pohon semua mati (Santi).

 

Di pagi yang cerah matahari terlihat indah

Terlihat nan hijau dan subur

Tapi kini sudah tertutup abu Gunung Merapi

Kini aku hanya dapat bermain ditempat aku berada

 

Aku sangat ingin kembali ke desa, karena desaku masih terancam

Sebelum terjadi peristiwa seperti ini aku dapat bermain bersama kawan-kawanku.

Biasanya aku bermain gobak sodor bersama-sama di depan rumah

Di desaku banyak sawah, pepohonan yang rindang

Sungai yang luas di sebelah utara didesaku

 

Sebagian pekerjaan orang didesaku sebagai petani

Di depan rumahku terdapat sawah yang luas

Rumahku terdapat diujung desa

Jadi di sebelah utara, timur adalah sawah

Aku punya hewan pelihaan yakni ikan

Ikanku sebesar paha.aku bersekolah di SDN Suwukan

Aku sudah kelas 6 SD

Aku biasanya pulang sekolah berjalan kaki bersama teman-teman (Beta Nirmala).