iden

Yatim Sesungguhnya adalah Tidak Berilmu dan Berakhlak

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

UMK-Sejumlah 225 anak yatim berkumpul di Masjid Darul ‘Ilmi Universitas Muria Kudus, Sabtu (14/8). Mereka tak ubahnya dengan anak-anak lainnya, hanya yang membedakan orang tua mereka telah tiada. Susah memang menjadi anak yatim, tapi menurut penceramah dalam acara itu, KH Asnawi Latif, lebih susah lagi orang yatim saat ini.

Susahnya lebih besar, karena orang yatim saat ini adalah mereka yang tak punya ilmu dan akhlak. “Susah orang yatim saat ini tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Panutan mereka tidak ditaati, sehingga disebut yatim,” kata kiai muda ini.
 

Anak yatim, lanjutnya, yang kehilangan orang tua lebih beruntung daripada anak yatim saat ini yang kehilangan tauladan. Nabi Muhammad SAW sebagai teladan dan aturan agama sebagai panduan tidak digunakan, sehingga kehilangan “bapak kehidupan”. “Itulah hakikat anak yatim saat ini, yakni yang tak berbudi pekerti, tak punya ilmu, dan tak ta’at kepada Allah,” simpulnya sembari mengutip syair dari tokoh Islam.

Dekat dengan Allah
Istighosah, mauidhotul hasanah dan buka bersama menjadi acara sebelum santunan dilaksanakan. KH. Ahmad Asnawi menambahkan bahwa yatim (dalam arti sesunggguhnya) boleh disantuni ketika belum balig. “kalau sudah baligh, haram hukumnya memberi santunan atas nama anak yatim” tuturnya.
Ada dua perbedaan pendapat tentang umur seorang yang sudah dikatakan baligh. Dalam pandangan Imam Syafi’i, umur baligh itu 15 tahun dan ini berbeda dengan pandangan Imam Malik yang mengatakan bahwa balighnya seseorang itu ketika berumur 18 tahun. Perbedaan ini menurut Asnawi ada hikmahnya. “Kalau kita gunakan umur 15 sebagai umur baligh seseorang, maka ini sebagai tolok ukur awal ibadah supaya bisa lebih awal dalam menjalankan ibadah. Jika kita gunakan umur 18 sebagai umur baligh seseorang maka kita bisa gunakan untuk batas pemberian santunan kepada anak yatim” tambah Kiai Asnawi.

Anak yatim diminta oleh Kiai Asnawa, sapaan akrabnya untuk mendekat kepada Allah, sebagaimana dilakukan oleh Nabi Muhammad yang yatim piatu selama hidupnya. Nabi Muhammad ditinggal wafat oleh orang tuanya ketika masik kecil. Dengan mendekat Allah ditambah upaya untuk menuntut ilmu, niscaya kemuliaan tergapai.

Ketua Yayasan Pembina Universitas Muria Kudus H Djuffan Achmad dalam sambutannya menekankan adanya santunan anak yatim ini sebagai langkah universitas berbagi sesama. Bulan Ramadan ini, menurutnya, adalah saat paling tepat untuk saling berbagai. ”Karena dengan puasa, kita dilatih untuk merasakan kesusahan orang lain, termasuk anak yatim,” katanya.

Santunan anak yatim ini diikuti oleh 11 pantai asuhan yang tersebar di Kudus. Setiap anak mendapatkan santunan uang sebesar Rp 100 ribu dan bingkisan. Acara dirangkai dengan istighosah, doa bersama, dan diakhiri dengan buka bersama. (Zaka, Harun-Portal)