iden

Pembatasan Rokok Menyebabkan Kemiskinan Struktural

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

UMK-Pembatasan peredaran tembakau dan produk berbahan tembakau tidak menurunkan minat masyarakat dalam mengkonsumsi rokok. Karena rokok sudah menjadi bagian hidup rakyat Indonesia sejak tahun 1800-an, terutama dalam bentuk rokok klobot dan kretek. “Selain itu, merokok juga telah menjadi simbul kejantanan dan persahabatan dan menjadi life style,” tutur Nusron Wahid anggota Komisi XI DPR RI, pada Seminar Nasional dengan tema Politik Hukum Regulasi Rokok di Indonesia di Gedung Rektorat lantai empat, Senin (09/08)

Seminar Nasional yang diadakan Mahasiswa Program Megister Ilmu Hukum UMK angkatan II itu selain H. Nusron Wahid (anggota DPR), menghadirkan Soewarno M Serad (Direktur Publik Affair PT Djarum), Tulus Abadi, SH (YLKI Jakarta), Rommy Fibri (Produser Eksekutif SCTV), Hasyim Asyari, SH, MSi (Dosen Fakultas Hukum UNDIP Semarang).

Menurut Nusron dampak pembatasan akan mengakibatkan menurunnya jumlah industri rokok. Lalu berdampak menurunnya bahan baku dan tenaga kerja. Rakyat kecil, seperti petani tembakau, petani cengkeh, buruh perkebunan, dan buruh pabrik akan kena imbas terburuk. Sehingga pendapatan rumah tangga menurun. “Maka langkah pembatasan industri rokok merupakan pemiskinan struktural,” tandasnya.


Nusron meminta kompensasi jika pemberlakuan pembatasan dilakukan, pemerintah harus menyiapkan lahan ekonomi baru bagi rakyat yang menggantungkan diri pada sektor rokok.

Sementara itu, Suwarno M. Serad, Director of Public Affairs PT. Djarum memaparkan tentang kepentingan industri Rokok. Menurut Suwarno, produksi rokok di Indonesia bermula dari rokok cengkeh (rokok kretekt) berubah secara evolutif dan melibatkan berbagai aspek kehidupan tradisi sosial, budaya dan ekonomi. Selain itu kretek telah menjadi cagar budaya, dan warisan bangsa Indonesia. Sehingga menjaga dan mempertahankan keberadaan kretek sudah menjadi kewajiban dan jangan sampai dikuasai, diatur dan dimusnahkan oleh pihak asing.

Menurut Suwarno, nikotin dituduh sebagai senyawa adiktif yang sangat kuat. Gambaran tersebut tidak mendidik, nikotin sebagai korban fitnah. ”Kalau kita perhatikan, tingkat adiktifitas atau tingkat ketergantungan nikotin sangat rendah dibandingkan Napza seperti Opium, Cocaine, Ganja maupun Hallosinogen. Demikian juga tingkat aseptabilitas nikotin adalah sangat besar, dibandingkan dengan Napza, seperti halnya kita mengkonsumsi teh, kopi,” tambah Suwarno.

Suwarno mengutip pendapat Bapak Kedokteran dunia abad 16: Paracelsus masih belum terbantahkan. Di dunia ini tidak ada racun yang ada adalah dosis yang tidak benar. Jika meminum 10 gelas air (~2 liter) sehari adalah sehat, tetapi kalau minum 1 genthong? Gak usah tanya dokter. Bagaimana dengan nikotin yang dikonsumsi lewat moda asap rokok? Dalam tubuh manusia nikotin mempunyai waktu paruh (half-life time) hanya 30 menit, jadi cepat dibuang oleh tubuh lewat kringat/peluh, kencing dsb. ”Walaupun daya racun tinggi, nikotin lewat asap rokok tidak mungkin dan tidak akan pernah membuat perokok keracunan”, jelas Suwarno.

Sementara itu, Tulus Abadi, dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), menilai regulasi rokok yang ada belum memberikan perlindungan maksimal bagi masyarakat. Ia meminta agar regulasi rokok diperjelas dan diperkuat sesuai kondisi yang ada, sehingga industri rokok juga bisa eksis.

“Saya tidak anti tembakau atau rokok, tetapi dalam posisi memperjuangkan pengintrolan/pembatasan, bukan mematikan industri rokok. Dan saya akan berada posisi terdepan untuk membela dari pihak yang sengaja menghilangkan industri rokok kretek,” kata Tulus.(Agus/Portal)