iden

Dari Sarasehan dan Dialog Dies Natalis UMK ke-30

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Sifat ”Prajurit” Mengembalikan Karakter Bangsa

UMK- Perguruan Tinggi (PT), termasuk di dalamnya para pendidik (dosen atau karyawan) harus memiliki sikap ”prajurit”. Kata prajurit merupakan akronim dari prasaja (bersahaja), jujur, dan irit (hemat). Tanpa memiliki sifat prajurit, maka pendidikan yang diselenggarakan akan kehilangan karakternya. Demikian benang merah dari kegiatan ”Sarasehan dan Dialog” dalam rangka memeringati 3 dasarwarsa (30 tahun) berdirinya Universitas Muria Kudus. Sarasehan diikuti oleh unsur Muspida Kabupaten Kudus, Pengusaha, Pimpinan Yayasan dan Rektorat serta sivitas akademika tersebut berlangsung pada Sabtu (12/6/10) di Lanlai 1 Gedung Islamic Centre UMK. Sarasehan yang mengankat tema ”Mengembangkan Perguruan Tinggi dalam Membangun Karakter Bangsa berlangsung ganyeng dan meriah.

Pada kesempatan tersebut Rektor UMK, Prof. Sarjadi menguraikan tentang kampus kebudayaan yang harus dicerminkan dengan perilaku dari sivitas akademika, terutama yang terdapat dalam slogan UMK yaitu ”Cerdas dan Santun”. Dua kata tersebut merupakan cermi dari penerapan kampus berbudaya,” jelas Prof. Sardjadi.

Prof. Sarjadi merasa prihatin dengan perkembangan budaya bangsa yang kini mulai luntur. Seperti budaya santun sebagai salah satu karekater bangsa Indonesai dewasa ini mulai luntur. Sarjadi mengutip pepatah dalam menggambarkan pentingnya karakter. If we lost house, we will losstnothing, if we lost health we will lost something and if we lost character we will lost anything (jika kita kehilangan rumah maka kita tidak kehilangan apa-apa, jika kita kehilangan kesehatan kita akan kehilangan sesuatu, dan jika kita kehilangan karakter kita kehilangan segalanya).

Sebelumnya, ketua Yayasan Pembina UMK, Drs. H. Djuffan Ahmad menyampaikan ilustrasi urgensi dari peran UMK dalam membangun karekater mahasiswa. Menurut Juffan nama Muria Kudus, dapat dikaitkan dengan dua nama dari sembilan tokoh Walisongo yang ada di pulau Jawa. Pendirian UMK tentu memiliki visi filosofi yang berperspektif pada nilai-nilai budaya dan peradaban yang diwariskan oleh Sunan Muria dan Sunan Kudus. Secara sosiologis nilai-nilai budaya tersebut bisa dikatakan telah menjadi way of life (pandangan hidup) yang mengakar kuat bagi masyarakat Kudus dan sekitarnya. Yaitu suatu tatanan nilai yang dilandasi akar spiritual yang kuat.

”Jika kita mau menjabarkan makna spirit di balik nilai filosofi penamaan UMK, mau tidak mau bagaimana lembaga pendidikan tinggi ini tidak hanya sekedar memberikan bekal kemampun tehnis dan pengetahuan intektual pada peserta didik, tetapi juga memberikan sentuhan pendidikan nilai yang berakar pada akar spiritual yang kuat,” jelas Djuffan. (Harun/Hoery, Portal UMK)