iden

Kurikulum KBK, Seimbangkan Hard Skill dan Soft Skill

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

UMK-Ibarat seorang pejuang yang akan bertempur di medan perang, mahasiswa pun membutuhkan “persenjataan” dan peralatan yang lengkap agar mampu “memenangkan” persaingan di dunia kerja. Pasalnya, persaingan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak sekarang ini, lebih ketat dan membutuhkan banyak bekal yang memadai. Itu berarti, setiap institusi pendidikan, termasuk universitas senantiasa memerhatikan dan meningkatkan kualitasnya, sebagaimana halnya yang dilakukan oleh Universitas Muria Kudus (UMK).

Salah satu langkah nyata UMK untuk mencetak lulusan berkualitas dan berdaya saing adalah dengan mengadaptasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dalam proses pembelajaran.
 

 

Pelaksanaan KBK
UMK tidak sembarangan menyusun KBK-nya, dengan tetap melakukan pengembangan dan evaluasi, menurut Ir Endang Dwi Murrinie, M.P, Kepala Lembaga Pendidikan UMK, alumni UMK turut dilibatkan dalam proses penyusunannya, terutama untuk menampung semua pendapat mereka mengenai pengalaman yang dialami saat bekerja. Selain pelibatan alumni, turut serta dosen dan pengguna lulusan. “Kalau alumni yang sudah bekerja, tentu mengetahui keahlian seperti apa yang sebenarnya lebih dibutuhkan,” tambahnya. Dari hasil tersebut, dosen dan staf UMK lainnya bersama-sama merumuskan dan memutuskan sistem KBK UMK.

Endang mengungkapkan bahwa fokus KBK lebih mengarah pada pembentukan kompetensi mahasiswa, dalam hal ini hard skill dan soft skill diberikan secara seimbang. Bekal soft skill seperti kemampuan bekerjasama, mengungkapkan pendapat secara tepat dan efektif, dan kemampuan memanfaatkan kemajuan IPTEK sebagaimana dibutuhkan di dunia kerja. Dengan pemberlakuan KBK, mata kuliah prasyarat sudah tidak ditemukan lagi. Pasalnya, semua materi telah terintegrasi dan satu kompetensi bisa dituntaskan dalam satu semester. Dari segi penilaian pun sangat menekankan pada proses dan bukan hanya hasil ujian semester.

Faktor pendukung
Dukungan dan partisipasi semua pihak di UMK mutlak diperlukan dalam pelaksanaan KBK, mulai dari dosen, mahasiswa, hingga pihak lain yang berkaitan. Pasalnya, proses pembelajaran KBK menuntut keaktifan dan kreatifitas yang lebih, baik dari segi mahasiswa maupun pengajar. Endang yang juga mengajar di Fakultas Pertanian UMK, mengutarakan bahwa dosen di UMK mengaplikasikan berbagai cara baru dalam pengajaran. “Sekarang yang diterapkan adalah bentuk student-centered dan bukan lagi teacher-centered. Beberapa cara kreatif yang diterapkan oleh dosen adalah membagi mahasiswa dalam kelompok kecil dan berdiskusi, bermain peran (role play), dan belajar memecahkan permasalahan,” jelas Endang.

Maka, pembekalan dosen dan peninjauan kurikulum pun rutin dilaksanakan untuk mencapai hasil maksimal. Tak hanya itu saja, UMK pun melengkapi segala sarana dan prasarana kampus untuk mendukung pelaksanaan KBK. Endang menegaskan, “Kami masih belum puas dengan capaian ini. Tentu saja, UMK akan terus mengembangkan kurikulum ini demi mencetak lulusan berkualitas.”

 

Selain KBK, mahasiswa UMK juga dibekali dengan ketrampilan wajib yang meliputi ketrampilan Bahasa Inggris, Ketrampilan Komputer, dan Ketrampilan Wirausaha. Setiap mahasiswa diwajibkan lulus uji ketiga ketrampilan wajib tersebut meskipun nilai SKS 0 (nol).

Proses peningkatan kualitas di UMK dengan mengusung KBK memang masih panjang, tetapi dengan konsistensi dan komitmen yang teguh, semua tujuan akan dapat diraih. (Hoery/Portal UMK)