iden

Membangkitkan Lagi Nasionalisme

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

UMK-Dalam sejarah, momen kebangkitan nasional adalah masa bangkitnya semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Masa ini ditandai dengan dua peristiwa penting, yaitu berdirinya Boedi Oetomo, 20 Mei 1908, dan ikrar “Sumpah Pemuda”, 28 oktober 1928.

Sejak saat itu, 20 Mei diperingati sebagai hari kebangkitan nasional.

Setelah lebih dari satu abad, tepatnya 102 tahun, nuansa Hari Kebangkitan Nasional tidak tidak terasa istemewa. Para pemuda sekarang seakan kehilangan konteks dengan hari yang bersejarah tersebut..

Sebut saja Amin, siswa kelas XII salah satu SLTA di Kudus, menilai masyarakat sekarang berlomba-lomba mengeksploitasi kekayaan tersebut, padahal kekayaan alam tersebut seharusnya digunakan untuk kesejahteraan bersama sebagai warga bangsa sebagaimana dicita-citakan oleh ikrar Sumpah Pemuda.


Demikian juga dengan apa yang dirasakan oleh Alam, salah satu mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) memahami momen kebangkitan nasional sekarang telah kehilangan rohnya seperti dalam sejarah. “Yang ada adalah kebangkitan markus-markus dan ketidakadilan”, jelas Alam yang mencoba menghubungkan dengan isu yang berkembang belakangan ini.

Pendapat Alam diamini oleh Sofi, ketua Divisi Broadcash (Radio UMK). Menurut Sofi, yang terpenting dalam kaitannya hari kebangkitan nasional adalah bagimana para pemuda sekarang tetap memelihara semangat nasionalisme. “Saya tidak setuju dengan sikap para pemuda sekarang yang lebih bergaya hidup hedonis dan konsumeris’, tegas Sofi yang saat ini tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) ini pada portal UMK.

Nasionalisme, menurut sofi, akan bisa meminimalisir berbagai masalah yang dihadapi Bangsa Indonesia. ”Dengan nasionalisme, maka kita tidak akan rela jika negeri ini hancur gara-gara ulah dari kita sendiri. Tetapi jika rasa nasionalisme luntur, berbagai penyimpangan dan pelanggaran akan subur di negeri kita, seperti penyakit korupsi yang saat ini melilit bangsa Indonesia,” tambah Sofi mengakhiri perbincangan dengan Portal (Harun/Portal UMK)