iden

Pengin Jadi Konselor Sebaya

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

UMK-Untuk menjadi konselor tidaklah harus dilakukan oleh seorang psikolog atau profesi sejenisnya, namun bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk para pelajar dengan temannya sendiri. Menurut Dr. St. Soejanto Sandjaja, Pemateri Konseling Teman Sebaya dari Universitas Kristen (Unika) Soegijapranata Semarang M.Si, proses pertama kali konseli itu datang kepada seorang teman untuk melakukan curhat.

Kegiatan whorkshop peer counselling yang diselenggarakan Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus (UMK), belum lama ini, cukup meriah.

Yang perlu diperhatikan untuk menjadi konselor sebaya harus mengetahui cara konseling yang baik dan harus menjalankan prinsip dasar konseling antar teman. ”Jangan langsung ke permasalahan, basa-basi dulu misalnya membuat pembicaraan yang tidak penting untuk membuat konseli nyaman dan aman untuk mengutarakan permasalahannya misalnya wah Krisdayanti sekarang janda ya......!,” kata Sandjaja berbagi tips, dihadapan 69 peserta yang terdiri dari guru bimbingan konseling (BK), pelajar, dan mahasiswa se-Kabupaten Kudus.


”Kita harus menghargai teman atau konseli sebagai individu yang unik, maka jangan sekali-kali mengatakan kamu bodoh, masalah gitu aja tidak bisa mengatasinya,” tambahnya. Selain itu banyak sub materi menarik yang disampaikan dalam acara itu, membuat peserta betah bertahan dari jam 9 sampai 12 siang.

Tak hanya cukup dengan materi, Sadjaja pun memberi kesempatan pada peserta untuk mempraktekkan secara langsung materi yang telah disampaikannya. Hal ini bertujuan agar konseling antar teman ini mampu melatih peserta dalam memecahkan permasalahan konseli.

Menrut Putri Rizky WSSJ, peserta yang berasal dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN 2) Kudus itu merasa perlu dengan adanya konseling antar teman, karena menurut pengalaman, mereka lebih suka curhat dengan teman dibandingkan pada orang tua maupun guru BK. ”Biasanya masalah yang dikeluhkan teman-teman itu masalah keluarga, pacar, dan konflik antar teman,” ujarnya semakin yakin sebagai konselor sebaya sesudah mengikuti acara workshop peer counseling tersebut. (kholidin/Portal UMK).