iden

Mengenang Kartini dari Museum

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

UMK-Puluhan tahun silam, hadir seorang wanita Indonesia yang berani memperjuangkan tujuan dan misinya kaumnya. Dengan tekad bulat, ia melewati rintangan maupun hambatan akan dilema adat untuk mengangkat derajat kaum wanita. Dialah Raden Ajeng (RA) Kartini. Wanita jelita kelahiran 21 April 1879 dengan multi talenta dan bakat besar. Perjuangannya begitu diingat, hingga akhirnya membawa pengaruh besar bagi perkembangan bangsa Indonesia, khususnya para wanita. Kini, telah lahir ratusan bahkan ribuan Kartini-Kartini modern yang siap menabrak tatanan gender di mana pria yang lebih berkuasa. Kartini-Kartini inilah yang siap dibanggakan.

 


Hujan beberapa saat telah mengguyur di Kota Jepara. Mulai daerah Ngabul sampai Museum Kartini hujan telah mengiringi sebuah perjalanan. Butiran air hujan terus menyelinap membasahi sekujur tubuh. Maklum, kala itu, Portal Universitas Muria Kudus (UMK) lupa membawa jas hujan. “Tak, tak, tak,” begitu desingan peluru hujan mengenai kaca helm. Dingin.

Bersama tiga reporter Pena Kampus, Portal UMK melaju menuju kota Ukir, Jepara Minggu, (19/4). Sampai lah pada pukul 10.30 WIB di Museum Kartini. Basah kuyup membuat Portal UMK mengeringkan terlebih dahulu sembari menyulut sebatang rokok. Nyes.

Museum Kartini tampak sepi pengunjung. Hanya sekitar 10 orang yang sedang berkunjung, itu pun silih berganti. Museum dibangun pada tahun 1975, dan diresmikan 1977 itu menyimpan segala peninggalan RA Kartini. Lukisan dari seniman Jepara, Wahyu Hadi, dan beberapa foto bermacam ukuran terpampang di dinding putih. Peralatan canting membatik dan hasil tulisan curahan hati Kartini masih tersimpan apik di lemari kaca.

Dirinya juga meluangkan waktu mengajari para remaja putri membatik. Selain pandai membatik, ia juga produktif dalam menulis. Bahkan, tulisan itu sering ia kirimkan ke beberapa teman di Belanda, salah satunya Mr. Abendenon beserta istrinya. Walau kertas berwarna agak kecoklatan, cerita dari bumi pertiwi ia berbagi dengan kawan pena.

Berada di ruangan museum seakan kembali pada masa Kartini masih hidup. Meja, mesin jahit, patung dan perlengkapan rumah lainnya masih tertata rapi. Seperangkat kursi terbuat dari rotan pun tak satu pun terpisah.
Keluarga
Di samping pintu masuk, tertempel papan bertuliskan silsilah keluarganya. Garis keturunan Kartini rupanya masih berhubungan dengan kerajaan besar Majapahit. Sebagian sanak famili memiliki posisi strategis di pemerintahan dan berpendidikan (educated). Kakeknya, Ario Tjondronegoro IV juga seorang bangsawan, sang ayah RM. Sosroningrat, Bupati Jepara. Sebelumnya, menjabat Kepala Distrik Kawedanan di daerah Mayong. Kakak kesayangan yang selalu memberi nasihat, Drs. RMP. Sosrokartono, adalah sarjana pertama Indonesia yang belajar di Universitas Leiden, Belanda.

Keturunan RM. Sosroningrat cukup menonjol yakni Sosrokartono dan Kartini. Pria kelahiran Mayong, 10 April 1877 menguasai 26 bahasa asing. Sembilan terdiri bahasa asing timur dan 17 bahasa asing barat. Ia dikenal sebagai “dokter air putih”, karena selalu menggunakan air putih saat mengobati pasien.

Ia memiliki sebutan lain, “Joko Pring” di mata teman – temannya. Kata Joko, sebab semasa hidupnya belum pernah menikah dengan siapa pun. Sedang pring atau bambu, representasi dari tumbuhan tak bercabang dan bisa tumbuh dimana- mana. Analogi pring itu, dirinya punya banyak keluarga di segala tempat dan selalu diterima.

Walau dirinya dikenal cerdas dan pandai mengobati penyakit, ia tak mau disebut guru. Sosrokartono punya kelebihan dalam keilmuan supranatural atau menyebutnya ilmu hikmah. Hal ini dibuktikan dari jepretan foto yang berobjek gunung Prahu di perbatasan Jateng dan Jabar, dengan pengambilan sudut pandang dari atas.

Umumnya, pengambilan foto berada di atas gunung melalui pesawat atau alat bantu lain. Namun, dirinya tanpa bantuan apapun dapat mengambil objek tersebut. Konon, saat pengambilan itu kedua kaki masih di atas tanah hanya jiwanya yang naik di awang – awang. Kini, makamnya berada di pemakaman muslim Sedio Mukti, Kaliputu Kudus.

RA Kartini telah menikah dengan Bupati Rembang, RM A Djojoningrat di usianya ke 23 tahun. Ia melahirkan anak bernama RM. Soesalit, yang menjadi generasi satu – satunya sampai sekarang. Nama Soesalit itu, akronim dari “susah naliko alit” (susah di waktu kecil) karena tak pernah mengenal sang ibu.

Empat hari setelah putra tunggalnya dilahirkan, RA Kartini meninggal dunia. “Karena saat itu Kartini kehabisan darah,” cerita pengelola museum, Riza Khoirul Anwar ketika mendampingi Portal UMK ini.

Selain kehabisan darah, Kartini juga merasa tertekan dan memikul beban psikologis. Pasalnya, sang suami RM A Djojoningrat, dulunya mengaku seorang duda. Kartini juga merasa dikhianati setelah tahu kalau sang suami itu telah beristri tiga. Apalagi pernikahan tersebut hasil perjodohan orang tua, bukan buah keinginan Kartini.

Pendidikan Sejarah
Museum Kartini menjadi tempat sejarah tentang spirit perjuangan dalam pendidikan dan gender. Kebanyakan para pengunjung datang berasal siswa – siswi didik sekolah. “Kalau pas hari libur pengunjung dari keluarga,” imbuh pria asli Jawa Barat ini.
Riza menambahkan, pendapatan yang diperoleh dari kunjungan ini sebesar 1 juta/bulan. Biasanya pada awal dan akhir tahun musim sepi pengunjung. Riza tak sendirian mengelola tempat ini. Dirinya bersama satu teman, Abdul Latif sudah dua tahun kerja di Mesum itu. Hari Sabtu hingga minggu tetap kerja. “Full time buka dari jam 8 sampai 4 sore,” ungkapnya.

Museum RA Kartini dibagi tiga ruangan. Ruangan pertama terdapat peninggalan serta benda pusaka Kartini. Ruangan kedua, sebagai tempat penyimpanan dan benda –benda dari kakaknya, Sosrokartono. Peralatan dokter milik Sosrokartono pun masih ada dan dapat dilihat. Aneka macam benda cagar budaya (BCB) berada di ruangan tiga.

Tulang ikan paus sepanjang 16 m juga tergeletak di lemari. Warga Jepara yang menyebutnya ikan “Joko Tuwo” ini ditemukan di kepulauan Karimunjawa. Saat itu, paus mati terdampar di pulau pada tahun 1989 silam. Konon, dalam penelitian ahli, ikan ini berumur sekitar dua ratus tahunan. Tempat ini juga memuat lingga, yoni, dan kuali aneka penemuan lainnya.

Di ruangan keempat, pengunjung dapat melihat hasil kesenian yang terbuat dari rotan, bantu dan tanah liat. Para kesenian dari kota Jepara ini cukup banyak, patur berukiran ular, wuwu, susuk, bagang anco alat sejenis keramba tersimpan apik. (Ulin/Portal UMK)