iden

UMK Mengaktualisasi Disain Kualitas

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Kualitas tidak diraih karena kebetulan belaka, tetapi merupakan hasil dari tujuan jelas, perjuangan keras, panduan tepat, tindakan cerdas; kesemuanya adalah hasil memilih satu keputusan dari banyak alternatif dengan bijak
(William A. Foster, angkatan laut Amerika Serikat yang gugur pada Perang Dunia II)

 

Begitu juga yang dilakukan oleh Universitas Muria Kudus (UMK), yang berdiri sejak tahun 1980 untuk mengukuhkan diri menjadi salah satu perguruan tinggi yang diakui kualitasnya, dengan visi menjadi universitas kebudayaan. Prof Dr dr Sarjadi, SP.PA, Rektor UMK, mengungkapkan empat pilar untuk mewujudkan visi tersebut. Pilar pertama, UMK menciptakan budaya akademik dijiwai iman dan takwa pada Tuhan YME. Kedua, adanya pengembangan dan upaya menguasai IPTEK sesuai kemampuan mahasiswa. Ketiga, mengembangkan potensi mahasiswa untuk bekerjasama. Keempat, mengimbangi potensi mahasiswa dengan pengembangkan karakter, perilaku, dan etika. Kebudayaan di sini merujuk pada penanaman perilaku dan ilmu secara tepat, agar menjadi budaya.


Demikian pokok-pokok pikiran Prof. Dr. dr. Sarjadi, Sp.PA, dalam membuka rapat kerja (raker) Universitas tahun 2010 di Hotel Grand Wahid Salatiga (26/27 Maret 2010). Sarjadi mengharapkan setiap lulusan UMK memiliki kualitas akademik serta spiritual yang baik. Sebagai pertanggungjawaban terhadap kepercayaan masyarakat, UMK telah membentuk Badan Penjaminan Mutu (BPM) dalam menciptakan quality assurance serta national and international recognize, dengan didukung oleh dosen-dosen berkualitas yang memiliki kualifikasi pendidikan S2 (Magister), S3 (Doktor), dan beberapa dosen berkualifikasi S1 (sarjana) karena berstatus dosen baru. Mereka yang masih berpendidikan S1, akan dibiayai untuk menempuh program master dan yang berpendidikan S2 secara bertahap menempuh program doktor. Selain dosen berkualitas, sisi sosial mahasiswa pun tak luput dari ”sentuhan”.

Contohnya, lanjut Sarjadi, mahasiswa melakukan kegiatan sosial dengan membantu para petani di sekitar kampus membudidayakan tanaman organik, pengembangan kawasan Wana Wisata di desa Rahtawu, Kawasan Gunung Muria, dan pengembangan teknologi tepat guna (TTG) bagi pengusaha kecil dan mikro.

Beasiswa pun digalakkan untuk menjangkau semua mahasiswa baik mereka yang berprestasi, kurang mampu, dan berprestasi tetapi kurang mampu. Sumbernya bisa diperoleh dari pemerintah, pengusaha sekitar, maupun kampus sendiri. Persentasenya pun cukup berimbang sehingga semua berkesempatan. ”Kedepannya, UMK berencana melebarkan sayap dengan merintis kerjasama ke luar negeri”, imbuh Sarjadi. Memang, untuk mencapai kualitas UMK yang berbudaya butuh perjuangan keras dan panjang. Namun, melihat kesiapannya, visi tersebut tak sekadar impian. [Hoery/Portal UMK]