iden

ICONECT Ke-Empat, Munculkan Konsep Among Ki Hajar Dewantara

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

UMK - Sistem pendidikan di Indonesia terus berubah seiirng berkembangnya tuntutan masyarakat global. banyak sistem sudah diterapkan, namun sebenarnya Indonesia sudah memiliki sistem atau metode pendidikan yang dicetuskan Ki Hajar Dewantara, yakni sistem 'Among'.
Hal tersebut disampaikan Rektor UMK Prof. Dr. Ir. Darsono, M.Si saat menjadi narasumber dalam acara Iconect Ke-4 yang dilaksanakan secara daring dan luring di aula Hotel Griptha, Kamis (11/11/2021).
Dalam kegiatan itu juga dihadiri narasumber dari luar negeri, yakni Assoc. Prof. Dr. Mohamed Nor Azhari Azman, Universiti Pendidikan Sultan Idris, Malaysia, Prof. Dr. Chan Yuen Fook, Universiti Teknologi MARA, Malaysia, Prof. Dr. Angelica O. Cortez, NEUST College of Education-Philipina, dan Gulzhaina Kasymova, Ph.D Institute of Metallurgy and Ore Beneficiation, Satbayev University, Almaty, Kazaktan.
Konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara berlanddaskan prinsip kemandirian, namun tetap berpegang pada aturan yang ada di masyarakat. Pembelajar harus memiliki jiwa mandiri, baik jasmani dan rohani serta memiliki energi. "Sehingga pendidik juga harus menanamkan kepribadian bangsa yang mandiri kepada siswanya," terangnya..
Ki Hajar Dewantara memiliki sistem 'Among', yakni sebagai pendidik harus berada didepan untuk menajdi panutan, dalams etiap proses pendidikan harus memebrikan dorongan dan motivasi dan ketika menemukan masalah belajar, harus mendukung dan turut serta memecahkannya.
Dari sistem 'Among' itu juga memberikan penegasan bahwa setiap orang memiliki sifat, bakat, dan minatnya masing-masing. Sehingga pendidik harus membimbing sesuai potensi yang dimiliki siswa.
Konsep 'Among' memberikan pilihan kepada mahasiswa untuk menjadi manusia yang rasional dan menjunjung tinggi harkat dan martabat dalam perkembangan teknologi informasi. Konsep “Among” memiliki pendekatan pembelajaran mandiri yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan di masyarakat 5.0.
"Sehingga konsep filosofis Ki Hajar Dewantara sangat relevan dengan era globalisasi dalam pendidikan dan menciptakan generasi bangsa Indonesia yang cerdas baik perkataan maupun perbuatan," imbuhnya.
Narasumber lainnya, Prof. Dr. Chan Yuen Fook dari Universiti Teknologi Mara, Malaysia membahas tentang bagiamana memnangkan inovasi dan penemuan. Menurutnya, untuk berinovasi, pertama kali yang harus dilakukan adalah serius atau fokus dalam membuat inovasi. Lalu memilih tim yang tepat, banyak ide dan harus kreatif.
Untuk mendapatkan ide, harus melakukan braindstorming ide melalui mind mapping. Ketika melakukan brainstorming, harus membayangkan diri kita berdiri di depan papan tulis besar dan mencoba menuliskan setiap ide yang dimiliki ke beberapa lembar kertas.
Ketika sudah dilakukan, selanjutnya perlu mencampurkan ide-ide yang ditremukan di lingkungan anda. Lalu dapatkan umpan balik dari orang lain atas ide yang dicetuskan.
Prof. Dr. Angelica O. Cortez, NEUST College of Education-Philipina menambahkan, untuk menghadapi era society 5.0, harus dilakukan mulai dari pendidikan dasar. Karena merekalah yang nantinya mengisi di perguruan tinggi.
Sehingga persiapan harus dilakukan sejak awal, tidak hanya saat mereka memasuki perguruan tinggi, melainkan dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.
Selama masih ada guru sekolah yang harus berjalan kaki hanya agar tugas dan modul yang belum disiapkannya bisa sampai ke siswanya. artinya, kesiapan perangkat teknologi dan konektivitasnya masih belum merata.
"Siswa kami selama ini masih tergantung kepada guru dalam waktu belajarnya, saat new normal ini amri kita tunjukkan dan berikan kesempatan kepada mereka untuk menentukan pilihan dalam mengakses kebebasan belajar dalam menghadapi era 5.0." jelasnya.(Humas-Linfokom)