iden

Dubes Ibnu Hadi: UMK Pionir Pembelajaran BIPA di Vietnam

User Rating: 2 / 5

Star ActiveStar ActiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

UMK – Universitas Muria Kudus menjadi pionir pembelajaran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) di Vietnam. Kesempatan untuk pertukaran mahasiswa di Vietnam juga masih terbuka lebar, apalagi banyak yang ingin belajar Bahasa Indonesia di Vietnam.

Hal itu disampaikan Duta Besar Indonesia untuk Vietnam (2016-2020) Ambassador Ibnu Hadi saat mengisi kuliah umum di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muria Kudus (UMK), Rabu (3/111/2021).

Peluang BIPA di Vietnam cukup banyak, ada yang bisa dilakukan di perguruan tinggi di Vietnam hingga KBRI di Vietnam. Bahkan jika melihat jumlah orang yang belajar Bahasa Indonesia, setiap tahun ternyata mengalami penambahan.

Ada karena kerjasama antar perguruan tinggi, beasiswa, hingga pertukaran pelajar. Sehingga potensi BIPA sangat besar, apalagi di sekitar UMK banyak orang asing yang bekerja di Indonesia, sehingga peluangnya masih besar.

Menutunya, diplomasi bahasa tidaklah tunggal, harus melibatkan banyak pihak, tidak hanya Kemendikbudristek saja. Kementrian Luar Negeri (Kemenlu) juga memiliki peranan penting, terutama negara yang dianggap petensial untuk pengajaran BIPA. ”Kamipun menangkap itu, sehingga saya koordinasi dengan kementrian terkait,” terangnya.

Sehingga muncullah ide darinya untuk memunculkan pembelajaran BIPA di Vietnam, apalagi Vietnam memiliki progres yang baik dalam ekonominya. Sehingga perlu memasukkan pembelajaran BIPA di Vietnam, salah satunya dengan UMK yang sudah beberapa kali mengajar di KBRI dan perguruan tinggi di Vietnam.

Dia menambahkan, di masa pandemi, pembelajaran kelas BIPA justru makin banyak, tidak hanya dilakukan oleh Badan Bahasa, namun juga dilakukan Diaspora Indonesia. ”Masa pandemi, pembelajaran tidak harus tatap muka, guru dan pembelajar masih tetap ditempat, namun pembelajaran BIPA bisa melintasi batas negara melalui daring, sehingga ada pola baru penyelenggaran kelas BIPA,” ungkapnya.

Menurutnya, peluang Bahasa Indonesia menjadi salah satu bahasa internasional tetap terbuka dan sangat menjanjikan di era globalisasi.  Bahkan menjadi salah satu unsur untuk menyongsong masa depan Indonesia.

”Kni, adanya peluang tersebut apakah mau memanfaatkan kita atau tidak? Berani memanfaatkan peluang dan menghadapi tantangan saat ini atau tidak?,” jelasnya.

Dia menambahkan, prospek pengajaran BIPA untuk diplomasi bisa dilakukan, bahkan menajdi salah satu soft diplomacy. Sehingga peluang itu terbuka luas untuk pengajar yang memenuhi kriteria, baik dari perguruan tinggi negeri maupun swasta, termasuk UMK.(Humas-Linfokom)