iden

Tletong Muria Jaya dan Nyadran Sosial

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Memenuhi janji silaturahmi kepada sahabat, kunjungan ke Kudus menjadi pembuka mata betapa banyak yang belum diketahui tentang tanah air sendiri. Kota Kudus terkenal dengan banyak hal – soto Kudus, jenang Kudus, masjid Menara, industri rokok, dan kota yang melahirkan banyak juara dunia bulutangkis; tapi tidak (belum) dikenal sebagai kota tujuan kegiatan pendidikan.

Padahal Universitas Muria Kudus (UMK) sudah berdiri selama 40 tahun. Mungkin ‘kekurang-terkenalan’ UMK diluar wilayah ex Karisidenan Pati (Pati, Jepara, Kudus, Grobogan, Blora, Rembang) serupa dengan ‘kekurang-terkenalan’ Kudus sebagai daerah tempat lahir dan sekaligus menjadi pusat industri elektronik terkemuka ‘asli’ Indonesia sejak 45 tahun lalu: Polytron.

UMK juga ternyata menarik. Selain telah berumur 40 tahun, UMK adalah universitas swasta yang dengan bijak (dan menimbulkan kekaguman) tetap memilih menjadi swasta meski telah ditawari untuk jadi perguruan tinggi negeri. Menariknya juga UMK didirikan secara kolektif oleh beberapa organisasi kemasyarakatan dan perusahaan swasta, sehingga Yayasan dimana UMK bernaung bukan “milik” perorangan atau keluarga.

Memiliki jumlah mahasiswa total sekitar 12 – 13 ribu orang, penerimaan mahasiswa baru sekitar 3000 – 3500 orang, dan jumlah dosen sekitar 300 orang; ‘ukuran’ UMK terasa ideal. Program studinya juga cukup lengkap, berikut beberapa pendidikan pascasarjana. Mahasiswa Magister Manajemennya cukup banyak. Kuliah umum yang diselenggarakan di Auditorium berkapasitas normal lebih dari 100 orang, terasa penuh dihadiri sekitar 50 mahasiswa dengan pengaturan protokol kesehatan ketat.

Motivasi mahasiswa S2 MM diakui sebagian besar adalah untuk kepentingan kenaikan pangkat. Memang ijazah S2 sekarang seolah jadi prasyarat untuk dapat menapak jenjang karier yang lebih tinggi. Mungkin bukan motivasi belajar yang ideal, namun diantara sekian banyak mahasiswa tetap saja ada ‘ingenuity’ yang menarik. Misalnya, seorang mahasiswa yang mengatakan bahwa kebijakan pupuk bersubsidi saat ini ternyata menyulitkan ayahnya yang petani. Mahasiswa itu kemudian menyarankan ayahnya untuk “kembali ke jalan yang benar” mengggunakan ‘tletong’ (kotoran sapi) sebagai pupuk, tentu harus dengan pengaturan (manajemen) operasi dan logistik yang sesuai. Semoga “PT Tletong Muria Jaya” yang diusulkan dapat segera terwujud.

Ada satu yang belum tergali dan belum sempat didiskusikan dari kunjungan ke UMK. UMK menggunakan ‘tag-line’: “indigenous university”. Dengan Rektor UMK yang baru, Prof Darsono, yang dikenal sebagai sahabat yang sering membawa pandangan filosofi Jawa dalam diskusi ekonomi pertanian, tentu ‘tag-line’ itu akan memiliki makna yang lebih dalam, dan akan dapat dilihat semakin nyata dalam kegiatan pendidikan di UMK.

--oo—

Kudus hanya berjarak sekitar 80 km garis lurus dari Blora. Kesempatan sudah sedekat itu sayang jika tidak dimanfaatkan untuk ‘nyadran’. Jadilah ditempuh perjalanan Kudus, Pati, Todanan, Kunduran, dan Ngawen. Perjalanan yang mencerahkan. Jalanan desa yang baik kondisinya, fungsional sebagai urat nadi ekonomi; kehidupan masyarakat yang terlihat optimis dan berkembang; serta berkesempatan melihat lagi pabrik gula yang ketika berdirinya merupakan investasi terbesar di Blora sejak merdeka sekaligus pendirian PG baru pertama di Jawa sejak 50 tahun terakhir.

Tradisi ‘nyadran’ sebenarnya datang dari jaman Hindu-Budha, namun kemudian dirubah oleh Wali Songo sebagai bagian dari dakwah Islam, dan lazimnya dilakukan menjelang bulan Ramadhan. Secara fisik, ‘nyadran’ dilakukan dengan ‘nyekar’ (bersih-bersih dan menabur ‘sekar’/bunga, di makam orang tua dan leluhur), dan ‘selametan’ (bentuknya sering berupa kenduri, ‘makan-makan’).

Selain sebagai sebuah fenomena sosial, termasuk untuk bisa ‘sowan’ ke Bude yang sudah sangat sepuh dan silaturahmi ke saudara-saudara jauh; memang ada ‘kontroversi’ apakah hal ‘nyadran’ itu “dapat dibenarkan”? Namun seseorang bisa ‘terbang lebih tinggi’ – atau justru ‘menyelam lebih dalam’ tentang hakekat maknanya.

Misalnya, berkunjung ke makam mungkin dapat dimaknai untuk kembali mengingatkan bahwa yang hidup akan menghadapi kematian, sehingga harus selalu waspada dan bersiap. Berkunjung ke makam juga untuk selalu mengingatkan “siapa kita”? Mengingatkan bahwa ada tanggung jawab moral menjadi cicit Kyai Zaenal Mukhtar – yang sangat dihormati sehingga makamnya dibangun istimewa karena panjangnya mencapai 3 meter; atau cucu dari Uztad Abdulchamid – yang kabarnya menjadi pendiri dan kepala KUA pertama di daerah itu sekitar 70 tahun lalu. Lalu adab mendoakan orang tua dan tetua juga menjadi kewajiban, dan dapat dilakukan dimana saja, termasuk di depan makam mereka.

Selamatan, kenduri makan-makan, adalah bentuk sederhana kegembiraan menyambut Ramadhan. Ada tiga pesan khotib dari mimbar Jumat minggu ini: bergembira menyambut Ramadhan, mendalami ilmunya agar dapat memanfaatkan waktu selama Ramadhan dengan optimal, dan membulatkan niat agar apa yang diperoleh selama Ramadhan dapat menjadi modal untuk menjadi lebih baik di sebelas bulan setelahnya.

Perjalanan yang ‘biasa’ sebenarnya selalu membawa pengalaman baru. Kita kemudian dapat mengambil hikmah dari pengalaman itu. Dan dengan hikmah ‘sehari-hari’ itulah kiranya dapat kemudian membuat kita menjadi lebih bijak dan ‘tawadhu’. Semoga.--

Catatan Bayu Krisnamurthi 3 April 2021