iden

Belajar Dirumah, Salah Bahasa Bisa Bikin Anak Stress

User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

UMK - Belajar dari rumah resmi diperpanjang karena Covid-19, banyak orang tua yang tidak siap menjadi guru bagi anaknya. Akibatnya, tujuan pembelajaran bisa tidak tercapai karena orang tua tidak memahami bagaimana cara belajar dengan komunikasi yang baik. Apalagi ketika orang tua melakukan disfemisme bahasa saat proses mengajari anak.
Dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Ristiyanti, M.Pd mengatakan, orang tua harus memahami bagimana cara menghindari disfemisme bahasa. Karena kadang melakukannya tanpa disadari dan akhirnya berdampak buruk pada psikologis anak. "Orang tua harus tahu, ini tentang cara berkomuniaksi yang baik pada anak," katanya kemarin.
Disfemisme yakni memperburuk kata dengan tujuan mengucilkan dan menyudutkan lawan bicara. Karena saat pandemi siswa belajar dari rumah, tentu orang tua akan medampingi, sehingga orang tua harus memiliki kesabaran. Apalagi saat anak kurang memehami pelajarannya.
Ketika praktik disfemisme oleh orang tua ke anak terjadi, maka akan mengganggu psokologis anak. "Jadi, orang tua harus menggunakan bahasa santun agar anak nyaman dan optimal ketika belajar di rumah saat pandemi seperti ini," terangnya.
Contoh disfemisme yakni 'dijelaskan kok ga paham-paham', 'dasar anak ga mudengan'. Kalimat-kalimat seperti itu ketika dilakukan untuk komunikasi dengan anak, maka membuat anak tidak percaya diri, merasa dikucilkan dan itu menandakan psikologis anak terganggu.
Akibatnya, motivasi belajar anak akan turun, karena merasa sudah pasti tidak bisa dan tidak berani bertanya, karena kalau bertanya pelajaran yang tidak dipahami akan dimarahi. "Orang tua bisa mengganti dengan kalimat yang lebih nyaman atau ramah anak," jelasnya.
Seperti, 'ayo anak hebat, kamu pasti bisa, mama ajari ya', atau 'kamu pasti bisa mengerjakan soal itu, mana yang perlu mama bantu?. Kalimat tersebut justru lebih memotivasi anak belajar. Selain itu, apa yang diucapkan orang tua pada anak akan sangat berpengaruh dalam membentuk karakter anak.
Untuk itu, orang tua harus mampu memilih bahasa yang santun untuk mengasuh anak. Dengan bahasa yang santun, anak akan merasa nyaman dan percaya diri. "jadi sangat penting memilih bahasa yang tepat dalam interaksi pengasuhan," imbuhnya.(Humas-Linfokom)