iden

Bela Negara, Radikalisme Positif Perlu Dibangun

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

UMK – Isu radikalisme memang menajdi isu serius, namun sebenarnmya radikalisme secara hakiki dibagi menjadi dua. Yakni radikalisme positif dan radikalisme negatif, artinya warga juga harus memiliki radikalisme positif untuk bela negara.

Hal itu disampaikan pakar filsafat Pancasila Profesor Suyahmo saat seminar nasional yang dilaksanakan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muria Kudus (UMK) di Hotel @Home hari ini (04/04/2020).

Baginya, radikalisme positif yakni suatu paham yang meyakini suata ajaran, gagasa, ide dan nilai yang diyakini benar dan dijadikan tolok ukur dalam bersikap dan berperilaku. Lalu ajaran atau gagasan tersebut dibela, dilindungi, dilestarikan dan tidak bisa dirubah. ”Namun komunitas yang meyakini ajaran atau gagasan tersebut tetap toleran, memabngun ekrukuknan, persatuan yang sejalan dengan hakikat bela negara,” katanya.

Tapi, jika radikalisme negatif, maka ajaran, gagasan, ide dan nilai yang diyakini komunitas tersebut tidak dibarengi sikap toleran. Mereka merasa paling benar, paling baik dan tidak toleransi dengan pihak lain yang berbeda paham dan cenderung bersikap negative terhadap pihak lain yang berbeda paham, politik dan ideologi.

Dia menambahkan, dalam konteks bela negara, maka komunitas radikalimse negatif lebih banyak mendatangkan dampak negetaif dalam pembangunan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Sehingga perlu adanya upaya preventif dan persuasif untuk menangani kelompok tersebut. ”Jadi radikalisme negative harus dihindari, apalagi ketika sudah masuk ranah pengrusakan,” terangnya.

Menurutnya, tidak toleran terhadap kebhinekaan, suku, agama, ras, dan antar golongan sama saja dengan tidak cinta terhadap negara, Pancasila dan UUD 1945. Sehingga warga negara tidak mengabaikan negara, Pancasila dan UUD 1945. Karena dampaknya cukup besar, seperti disintegrasi.

Sementara itu, Ketua Panitia Seminar Deka Setiawan, M.Pd mengatakan, untuk bela negara, memang tidak hanya bersifat militeristik, namun bela negara bisa diaktualisasikan bermacam-macams esuai dengan profesi masing-masing. ”Sehingga dengan adanya seminar ini, peserta bisa memahami apa itu bela negara,” ujarnya.

Tujuannya agar 316 peserta yang ikut acara seminar memiliki tujuan jelas dalam bela negara. Karena seperti disampaikan diawal, bahwa bela negara bisa diaktualisasi sesuai dengan berbagai cara sesuai profesi masing-masing. (Linfokom-Humas)