iden

Intuitif Siswa Perlu Dimunculkan untuk Memecahkan Soal Matematika

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

UMK – Matematika adalah ilmu deduktif, tetapi belajar matematika tidak selalu dimulai dengan pola pikir deduktif. Setiap siswa pada awalnya berpikir matematika secara intuitif. Berdasarkan pengetahuan intuitifnya itu, siswa akan mengkonstruksi pengetahuan matematika secara formal.

Itulah kesimpulan saat kegiatan Kuliah Perdana yang dilaksanakan Program Studi Pendidikan Matematikan melaksanakan Kuliah Perdana. Saat itu mengambil tema ’Mengkritisi Intuisi Siswa dalam memecahkan Masalah Matematika’.

Narasumber kuliah perdana Dr. Budi Usodo mengatakan, belajar matematika memerlukan intuisi. Intuisi erat kaitannya dengan kreativitas dan kreativitas sangat berperan dalam pemecahan masalah. ” mengembangkan intuisi siswa dapat menjadi sarana dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah,” katanya saat kuliah perdana di Lanti IV Gedung Rektorat UMK beberapa waktu lalu.

Intuisi adalah kognisi segera yang  keberadaannya tidak melalui proses penalaran secara deduktif serta  mempunyai ciri-ciri yaitu direct (langsung), self evident (benar dengan sendirinya), intrinsic certainty (pasti secara intrinsik), coerciveness (penggiringan), Extrapolativeness (pemerkiraan) dan Globality (Global).

Salah satu upaya untuk mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah melalui melatih munculnya intuisi siswa dalam memecahkan masalah. Hal tersebut dapat dilakukan dengan mendesain kegiatan pembelajaran. ”Namun ada tahapan yang harus dilalui,” terangnya.

Tahapan untuk memunculkan intuisi, pertama tahap persiapan, dala tahap ini perlu  mendefinisikan masalah dan mengumpulkan semua informasi terkait untuk memverifikasi apakah sebuah solusi bisa diterima atau tidak. Untuk tahap kedua tahap inkubasi,yakni tahap  mundur dari persoalan dan membiarkan pikiran kita bekerja di belakang layar.

Selanjutnya tahap iluminasi, yakni bermunculannya ide-ide dari pikiran yang menyediakan dasar untuk respons kreatif. Ide-ide tersebut merupakan intuisi. Tahap ini berlangsung singkat dan sering berupa inspirasi sesaat yang intens.

Untuk tahap terakhir, tahap verifikasi, yakni pengujian untuk menentukan apakah inspirasi yang diperoleh dari tahap sebelumnya memenuhi kreteria dan keinginan yang ditentukan pada tahap persiapan. ”Tahapan tersebut harus dilalui dengan baik,” jelasnya.

Dia menambahkan, pada kegiatan pembelajaran, tentunya siswa diajarkan memecahkan masalah. Dalam mengajarakan bagaimana memecahkan  masalah, guru atau pendidik mempunyai cara yang berbeda-beda.

Banyak guru-guru matematika membelajarkan pemecahan masalah dengan selalu memberikan contoh-contoh bagaimana memecahkan  suatu masalah, namun tanpa memberikan kesempatan banyak pada siswa untuk berusaha menemukan sendiri penyelesaiannya.

Dengan cara demikian siswa menjadi kurang kreatif dalam memecahkan masalah. Akibatnya siswa hanya mampu memecahkan  masalah bila telah diberikan caranya oleh guru. Dengan kondisi demikian, maka siswa  seringkali dihadapkan pada beberapa kesulitan, misalnya siswa tidak tahu apa yang harus diperbuat dengan masalah yang diberikan atau bila telah dapat memulai menjawab, namun mengalami kemacetan di tengah penyelesaian soal tersebut, meskipun sebenarnya telah dimilikinya bekal yang cukup untuk memecahkan  masalah tersebut.

            Disamping itu kebiasaan penggunaan soal-soal yang hanya mengukur kemampuan berpikir tingkat rendah dan sedang menyebabkan siswa tidak terbiasa menyelesaikan soal yang membutuhkan ide-ide kreatif. Dampak yang muncul dari kondisi semacam itu adalah siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan masalah, terutama masalah non rutin, atau masalah yang membutuhkan kemampuan berpikir tinggkat tinggi. Karena dalam menyelesaikan masalah tersebut dibutuhkan kemampuan untuk menganalisis, mengevaluasi bahkan mencipta.

Beberapa penelitian yang pernah dilakukan pada beberapa siswa SMA di wilayah eks Karesidenan Surakarta menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam memecahkan  masalah non rutin sangat rendah. Dari hasil pengamatan pada saat guru matematika mengajar di sekolah tersebut, kegiatan pembelajaran matematika yang dilakukan cenderung mekanistik dan lebih banyak memberikan masalah yang bersifat algoritmik (masalah rutin).

Selain itu guru tidak mengajarakan kepada siswa  bagaimana menyelesaikan permasalahan matematika, tetapi lebih pada guru menunjukkan kemampuannya kepada para siswanya bahwa dia mampu menyelesaikan soal matematika.

Bahkan terkesan guru merasa bangga bila dapat mendemontrasikan kemampuannya walaupun para siswa masih kebingungan kenapa cara pengerjaannya demikian, dari mana trik yang diperoleh dan lain sebagainya.(Linfokom-Humas)