iden

Engineering Sustainability Harus Jadi Fokus Utama

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

UMK – Penggunaan bahan mentah yang tidak bisa diperbaharui harus mulai dikurangi, salah satunya bisa menggantikannya dengan bahan alternatif, walaupun belum bisa sampai 100 persen. Karena saat ini memang harus fokus kepada rekayasa berkelanjutan atau engineering sustainability.

Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan International Conference on Computer Science and Engineering Technology (ICCSET) 2019 di Hotel Griptha kemarin (29/10/2019). Ada dua narasumber, yakni Profesor Harwin Saptoadi dari Universitas Gadjah Mada dan Profesor Eko Supriyanto dari Universiti Teknologi Malaysia.

Profesor Harwin Saptoadi mengatakan, saat ini, perusahaan besar masih tergantung besar kepada penggunaan batu baran dan minyak untuk menghasilkan energi. Namun kondisi tersebut memang harus dikurangi, walaupun memang tidak bisa menggantikan hingga 100 persen. ”Selain itu butuh pembaharuan mesin dengan teknologi baru untuk efisiensi energi,” katanya.

Dengan upgrading mesin bisa membantu dalam mendapatkan hasil produk secara maksimal. Sehingga walaupun material mentah dan energi yang digunakan, hasilnya justru bisa lebih baik ketika mesin sudah diperbaharui, termasuk dari segi teknologinya.

Itu terlihat dalam produksi semen, ternyata dari tahun ke tahun, penggunaan material mentahnya lebih sedikit, namun produksi semennya lebih banyak.

Dia menambahkan, rekayasa berkelanjutan atau engineering sustainability adalah proses perancangan atau sistem pelaksanaan energy dan sumber daya secara berkelanjutan, yang tidak membahayakan lingkungan dan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.

Untuk saat ini, memang diakui yang bisa melaksanakannya baru industri besar, sementara industri kecil belum bisa melaksanakan rekayasa berkelanjutan. Seperti dari sisi kesehatan dan keselamatan.

Sementara itu, Profesor Eko Supriyanto menambahkan, ada perbedaan dalam traditional engineering dan sustainable engineering. Untuk traditional engineering hanya memeprtimbangkan objeknya, namun  sustainable engineering lebih mempertimbangkan pada sistem dimana objek tersebut digunakan.

Lalu fokus pada penyelesaian persoalan pada saat itu, sementara sustainable engineering fokus dengan berusaha menyelesaikan masalah agar tidak terjadi di masa depan. ”sustainable engineering juga melihat dari sisi global, bukan lokal saja,” jelasnya.

Dirinya memiliki produk untuk mengurangi penggunaan konsumsi listrik, ternyata mampu menghemat penggunaan daya listrik. Ketika bisa menekan biaya listrik, maka pengguna bisa menghemat pengeluaran.

Sehingga, sustainable engineering tidak hanya memikirkan dari segi ekonomi, melainkan juga dari segi sosial dan lingkungan. Untuk itu, pengembangan harus mengarah kepada rekayasa berkelanjutan.(Linfokom-Humas)