iden

UMK Inisiai Pembuatan Museum Tenun Troso

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

UMK – Universitas Muria Kudus (UMK) melakukan inisiasi pembuatan museum kain torso di Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara. Sentra kain troso di desa tersebut sudah dikenal cukup luas, bahkan ada even tahunan yang selalu digelar untuk mengenalkan kain troso.
Ketua Tim Skim Penelitian Terapan Unggulan Perguruan Tinggi (PTUPT) UMK Dr. Mamik Indaryani mengatakan, kegiatan pendampingan di sentra kain troso dilakukan selama tiga tahun. Untuk tahun ini merupakan tahun ketiga yang fokus kepada wisata. ”Karena potensi wisatanya jelas ada, salah satunya dengan adanya museum,” katanya saat kegiatan forum group discussion (FGD) Kajian Pakar Tenun dan Perintisan Museum di Rumah Makan Bale banyu kemarin (16/9/2019).
Untuk tahun pertama pihaknya sudah fokus kepada produksi dan kualitas, sementara untuk tahun ketiga akan fokus kepada promosi. Artinya, pihaknya akan melakukan pendampingan secara penuh dari awal hingga akhir.
Pembuatan museum diperlukan karena bisa menarik wisatawan, selain itu bisa dijadikan pusat edukasi tentang kain troso. ”Kami juga mengundang pakar museum untuk bisa merealisasikannya, karena pengelolaan museum juga harus tepat,” terangnya.
Dirinya memunculkan ide pembuatan museum karena melihat banyaknya motif kain troso atau tenun yang dibuat. Sehingga perlu tempat untuk memamerkan motif-motif tersebut, pihaknya juga sudah korodinasi dengan pihak desa hingga dinas terkait.
Dia menambahkan, ada contoh museum yang sudah jalan, yakni museum batik di Pekalongan. Semula museum tersebut diinisiasi oleh masyarakat dan sudah jalan dan kini diambil pengelolaannya oleh pemerintah.
Pakar Museum dan Batik Zahir Widadi mengatakan, untuk membuat museum harus tepat, antara infrastruktur dan mindset pengusaha tenun harus digarap. Jangan sampai hanya membuat saja namun mindset masyarakatnya tidak berubah, nantinya museum akan mati. ”Saat saya menjadi kepala museum batik, keduanya saya garap bersamaan, jangan membangun museum jika SDM tidak siap,” jelasnya.
Dia mengingatkan, museum bukan berarti hanya kumpulan barang kuno, namun fungsi museum bisa dimaksimalkan sebagai galeri dan showroom, sehingga akan menarik wisatawan untuk membeli. Koleksi tenun masing-masing daerah di Indonesia juga bisa menambah daya Tarik.
Selain itu, dia juga mengingatkan pentingnya proses produksi secara tradisional, jangan sampai mengarah ke modern. Karena akan menghilangkan nilai budaya, ketika menggunakan mesin maka dipastikan hanya motif ekonomis saja, yang penting laku.
Untuk itu, pihaknya berharap agar pembuatan museum nanti dilakukan dengan tepat, jangan sampai salah langkah. Karena sudah banyak museum yang mati karena salah pengelolaan. ”Even tenun yang dilakukan juga harus besar, jangan buat hanya nasional, tapi inetrnasional juga, toh biayanya hampir sama,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Koperasi Kain Troso Sunarto menambahkan, saat ini memang motif ekonomi lebih mendominasi. Karena di di desanya, motif troso dari daerah lain bisa dibuat, sehingga belum memiliki ciri khas. Namun kini sudah memunculkan motif khas troso.
Dalam membuat kain tenun, pihaknya memang tidak melihat dari sisi budaya, memang bisnis oriented. Bahkan meniru motif daerah lain juga bisa. ”Orang troso, bisa meniru segala motif,” imbuhnya.
Pihaknya juga berharap agar UMK bisa mendampingi sampai selesai, karena ketika tidak dilakukan pendampingan tentu akan sulit terealisasi. Karena memang secara SDM masih kurang, butuh penambahan wawasan melalui pendampingan.(Linfokom-Humas)