iden

Pertebal Nasionalisme Melalui Penanaman JSNK 45

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

UMK – Fakultas Hukum Universitas Muria Kudus (UMK) melaksanakan sosialisasi pembudayaan jiwa semangat dan nilai-nilai kejuangan (JSNK) 45. Kegiatan tersebut untuk memberikan bagaimana untuk mengisi kemerdekaan dengan berbagai kegiatan positif, jangan sampai justru terjerembab dalam radikalisme yang merusak Negara.

Ketua Umum DHD 45 Jawa Tengah Sudharto mengatakan, dalam kehidupan berbangsan dan bernegara, memang harus memahami Pancasila. Karena nilai-nilai Pancasila bersumber dari pola piker, keyakinan, sikap, perilaku, tradisi, kebiasaan yang telah ada di sosok manusia Indonesia dimanampun mereka berada. ”Nilai itu asli Indonesia,” katanya saat seminar pada 10 Juli 2019 lalu.

Melihat kenyataan itu, maka tepat jika dikemudian hari pancasila dispekati sebagai sistem filsafat, dasar filsafat Negara, pandangan hidup, etika politik, idiologi Negara, dasar Negara, dan paradigm kehidupan dalam bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

Sehingga, nilai-nilai Pancasila wajib dipahami, dihayati, dan diaktualisasikan secara konsisten oleh sia[a saja yang berinteraksi. Hal tersebut merupakan kewajiban moral setiap warga bangsa, karena [ancasila merupakan consensus bangsa.

Narasumber lain Ketua II DHD 45 Jawa Tengah Abdullah Sulhadi mengatakan, JSNK 45 harus terus didengungkan, karena sangat bermanfaat dalam menanamkan rasa nasionalisme.  JNSK 45 perlu dihayatialkan dan dilestarikan, karena menjadi kekuatan serta daya dorong mental spiritual; bagi bangsa Indonesia.

Tujuannya akhirnya tak lain untuk mewujudkan suatu keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia. Tentunya semua warga Negara harus terlibat, jangan sampai justru merusak Negara itu sendiri.

Sementara itu, Dekan Fakultas Hukum UMK Dr. Sukresno, SH, M.Hum menambahkan, Menanggapi Indeksi Kota Toleran dari Setara Institute, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengatakan radikalisme adalah masalah utama di Indonesia. Bahkan menurutnya, isu radikalisme ini lebih penting dibanding isu pangan.

Saat itu, isu radikalisme, intoleransi dan lainnya sudah menyebar, terutama di media sosial. Untuk itu, seluruh komponen masyarakat harus terlibat dalam memberantas isu-isu negatif yang mengancam pesatuan dan kesatuan bangsa. ”Tidak boleh diam, semuanya harus bergerak menangkalnya,” jelasnya.

IPDA Subkhan, SH. MH mengatakan, kaum millennial menentukan wajah Indoneisa kedepan. Jumlah millennial yang cukup banyak menjadi sebuah tantangan dan peluang. ”Kuncinya adalah memahami perilaku millennial agar menjadi roda penggerak ekonomi,” imbuhnya.

Kaum millennial sangat mudah terpapar radikalisme dan lainnya, karena isu-isu tersebut disebar melalui media social. Sementara millennial menurut survey 98,2 persen  menggunakan smarphone ketika mengakses internet. Sehingga, dajwah melalui medsos saat ini snagat penting untuk menangkal ajaran radikalisme dan lain yang berdampak negatif.

Untuk itu, potensi millennial ini harus digarap dengan baik, sehingga tidak sisusupi oleh paham-paham yang emrusak NKRI. ”Siapa yang dapat memanfaatkan, maka dialah yang menjadi pemenang,” ungkapnya.(Humas)