iden

Empat Mahasiswa UMK Gandeng Difabel Buat Kerajinan Limbah Plastik

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

UMK – Empat mahasiswa Universitas Muria Kudus melakukan pelatihan dan pendampingan kepada wanita difabel untuk membuka peluang usaha yang memanfaatkan limbah plastik. Tak hanya soal pembuatan, pemasarannya juga didampingi karena harus memanfaatkan e-commerce yang belum dipahami atau dimaksimalkan.

Empat mahasiswa tersebut tergabung dalam Pekan Kreatifitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM M) yang dibuat Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi.

Tiga mahasiswa tersebut adalah Ismawatul Maula, Yusiana Rahma, Arsya Yoga Pratama, dan Fania Dwi Lestari. Mereka membuat program Recycling Plastic Glass Lip Waste (Respect) untuk Meningkatkan Kemandirian dan Entrepreneurship pada Anggota Himpunan Disabilitas Indoensia (WHDI) Kudus.

Empat mahasiswa tersebut merupakan mahasiswa Jurusan Sistem Informasi Universitas Muria Kudus (UMK). Sehingga pelatihan untuk pemanfaatan e-commerce akan difokuskan, tentunya diimbangi dengan produk yang berkualitas. ”Kami juga memberikan peralatan pendukung untuk pembuatan kerajinan dari limbah plastik,” kata Ketua PKM Ismawatul Maula kemarin.

Kegiatan ini tercetus ketika melihat banyaknya sampah plastik, padahal bisa dimanfaatkan untuk membuat berbagai kerajinan yang bisa dijual. Sementara sasarannya adalah difabel agar tetap produktif.

Ada lima tahapan yang dilakukan, pertama dilakukan sosialisasi, pihaknya melakukan sosialisasi tentang limbah plastik, terutama gelas plastik yang bisa dibuat berbagai produk kerajinan.

Selanjutnya dilakukan pelatihan, pelatihan pengelolaan limbah bibir gelas yang bisa dijadikan berbagai bentuk kerajinan, mulai dari gantungan kerudung, tas, hingga songkok. ”Pelatihan pertama sudah kami lakukan awal bulan ini,” terangnya.

Sesuai jadwal, akan dilakukan evaluasi kembali usai Lebaran, sehingga pelatihan tidak hanya dilakukan sekali saja, melainkan juga dilakukan beberapa tahap. Sebelum evaluasi nantinya pendampingan tetap dilakukan.

Tak hanya itu, pihaknya juga memberikan bantuan penunjang kepada HWDI Kudus berupa alat produksi. Sehingga memiliki alat bantu atau peralatan yang memadai untuk pembuatan kerajinan tersebut.

Untuk pendampingan tidak hanya berupa pelatihan saja, melainkan juga cara pemasarannya. Karena sebaik apapun produknya ketika pemasarannya lemah, produk tidak bisa terserap pasar.

Pihaknya melatih untuk pemasaran dengan memanfaatkan e-commerce yangs udah ada, sehingga bisa menjangkau seluruh Indonesia. Tentunya ada pelatihan pemasaran khusus melalui e-commerce, karena masih banyak yang belum akrab dengan pemasaran lewat e-commerce. ”Terakhir kami lakukan evaluasi menyeluruh, mulai dari produk hingga pemasarannya, kami berharap program ini bisa mewujudkan anggota HWDI lebih mandiri dan menjadi entrepreneur,” imbuhnya.(linfokom)