iden

Puluhan Anak Mengungsi, BEM Psikologi UMK Berikan Trauma Healing

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

  UMK – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus (UMK) bersama Mapsicare UMK melakukan kegiatan trauma healing kepada korban banjir. Kebanyakan fokus kepada anak-anak yang mengungsi di Balai Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus.

Presiden BEM Fakultas Psikologi UMK Gilar Bagus Permana mengatakan, setidaknya sudah empat hari pihaknya melakukan proses trauma healing kepada pengungsi korban banjir tersebut. ”Kami siap terjun kapan saja ketika memang dibutuhkan,” katanya kemarin.

Namun dari informasi yang didapat, kemarin memang sudah banyak pengungsi yang kembali ke rumah masing-masing. Sehingga untuk proses kegiatan trauma healing tidak dilakukan karena sudah mulai kembali ke rumah. Tapi pihaknya siap melakukan kegiatans erupa ketika masih membutuhkan.

Kegiatan trauma healing paling banyak dilakukan pada 30 Januari sampai 2 Februari, untuk Minggu memang libur. Empat hari tersebut merupakan waktu dimana masih banyak korban banjir yang berada di lokasi pengungsian. ”Sehingga pihaknya melakukan trauma healing saat posisi puncak pengungsi,” terangnya.

Namun pihaknya masih melakukan koordinasi, ketika memang dibutuhkan tentunya akan langsung terjun ke loaksi pengungsian kembali. Untuk trauma healing memang lebih banyak fokus kepada anak-anak. Sementara untuk orang tua juga ada mini konseling.

Dalam proses trauma healing tersebut, ada sekitar 50 – 55 anak korban banjir yang mengikuti proses kegiatan tersebut setiap harinya. Tentunya yang ikut adalah anak yang sudah bisa diajak komunikasi dengan mudah. ”Sementara untuk personil kami, sekitar delapan sampai 15 orang setiap harinya,” jelasnya.

Untuk kegiatan trauma healing yang dilakukan beragam, lebih banyak ke permainan anak. Misalnya melakukan kegiatan menggambar dan mewarnai, membuat origami, membuat wayang dari tanaman singkong, dan membuat kolase atau gambar yang dibuat dari potongan-potongan kertas kecil.

Dari kegiatan itu, antusies anak cukup banyak, mereka juga terlihat menikmati permainan sehingga dampak kepada anak dari bencana banjir bisa diminimalisir. ”Tiap hari permainan berubah agar anak tidak bosan,” ujarnya.

Dengan kegiatan trauma healing tersebut, pihaknya berharap bisa membantu meringankan beban korban bencana banjir. ”Kami ucapkan kepada semua pihak terkait sehingga kegiatan bisa berlangsung lancar,” imbuhnya.(linfokom)