iden

Pupuk dan Pestisida Hayati dari Tanaman Mimba

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

UMK- Masyarakat Kudus, khususnya petani, kebanyakan masih bergantung pada pestisida kimia. Padahal, pupuk ini bisa berpengaruh negatif pada lingkungan. Tapi, petani kini tak perlu resah, sebab mahasiswa UMK berhasil membuat pestisida dan pupuk hayati yang ramah lingkungan, yakni dengan memanfaatkan tanaman mamba (Azadirachta indica A.Juss).

Adalah Heni Agustningtiyas, Nova Laili Wisuda, dan Kridho Wahyu Maulana, mahasiswa Fakultas Pertanian, yang meneliti tanaman mimba sebagai pestisida dan pupuk hayati. Tanaman mimba ini dapat menyuburkan tumbuhan karena mengandung bahan aktif azadirachtin, meliantriol, salanin, nimbin dan nimbidin. Tanaman ini sendiri sangat mudah didapatkan di lingkungan sekitar kita.

Berdasarkan hasil penelitian ketiga mahasiswa itu, pupuk dan pestisida hayati dari mimba mampu mengendalikan beberapa jenis hama. Untuk yang pertama, pupuk dan pestisida hayati dari mimba mampu mengendalikan hama secara umum.

Cara membuat pupuk mimba adalah; daun mimba (8 kg), lengkuas (6 kg), Serai (6 kg), Deterjen/sabun colek (20 gr), dan air (80 lt) diaduk sampai rata. Sebelumnya daun mimba, lengkuas, dan serai, ditumbuk halus. Setelah itu, direndam selama 24 jam, kemudian saring dengan kain halus. Larutan akhir encerkan dengan 60 liter air. Larutan komposisi itu untuk menyemprot tanaman seluas satu hektar.

Kedua, pupuk dan pestisida hayati dari biji mimba untuk mengendalikan hama wereng coklat, penggerek batang, dan mematoda. Cara membuatnya, adalah biji mimba (50 gr) ditumbuk halus, kemudian diaduk dengan alkohol (10 cc), dan encerkan dengan air (1 lt), lalu endapkan selama 24 jam, saring, setelah itu dapat digunakan.

Ketiga, ramuan tanaman mimba juga dapat untuk mengendalikan hama tanaman bawang merah. Caranya, daun mimba (1 kg) dan umbi gadung (2 buah) ditumbuk halus, lalu ditambah deterjen/sabun colek sedikit saja, dikasih air sekitar 20 liter, endapkankan selama 24 jam, saring, dan dapat disemprotkan di tanaman bawang merah.

Para petani tak perlu ragu untuk mempraktikkan hasil temuam tiga mahasiswa UMK tersebut. Sebab, hasil tersebut telah diujikan di tanaman petani di Desa Piji Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Bahkan, hasil dari penelitian itu berhasil masuk finalis pekan penelitian ilmiah tingkat nasional (Pimnas). Sekadar diketahui, bahwa dalam Pimnas itu diikuti oleh 95 perguruan tinggi nasional.

Ini jelas prestasi yang membanggakan. Meski belum juara, setidaknya hasil penelitian para mahasiswa UMK telah menembus tingkat nasional. Yang lebih penting lagi, hasil penelitian itu bermanfaat bagi masyarakat, ungkap Pembantu Rektor III, Drs. Hendi Hendro, Msi. (Hoery/Miun-Portal)