iden

UMK Bentuk Mahasiswa Yang Jujur dan Amanah

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

UMK-Mahasiswa adalah harapan bangsa, karena mahasiswa adalah agen perubahan. Karena itu, bila mahasiswanya baik, maka akan baiklah bangsa ini. Tapi jika mahasiswanya buruk, maka hancurlah bangsa ini. Lebih-lebih, Indonesia saat ini tengah menjadi sorotan dunia karena korupsinya. Untuk itu, mahasiswa sebagai agen of change (agen perubahan) harus mampu mendobrak kezaliman para koruptor di negeri ini. Salah satu caranya adalah dengan membiasakan hidup jujur dan selalu memegang amanah.


Itulah pesan yang disampaikan Ketua Umum Pengurus Yayasan Pembina UMK, Drs. H.Djuffan Ahmad, pada sebuah kesempatan Media Ghatering dengan para wartawan media cetak dan elektronik di Kudus, yang diselenggarakan belum lama ini di Kampus UMK, Gondang Manis, Bae.


Menurut Djuffan, UMK tak hanya berfungsi sebagai tempat belajar mahasiswa, tetapi juga sebagai Kawah Candradimuka untuk mempersiapkan pemimpin-pemimpin bangsa ini. Karena itu, saya selalu berpesan agar dalam pendidikan ini ditekankan pada pembentukan pribadi yang jujur dan bertanggungjawab, tegasnya.

 

Sementara itu, Pembantu Rektor III UMK, Drs. Hendy Hendro HS,MSi, mengungkapkan bahwa saat ini ada kecenderungan gerakan masiswa yang stagnan. Hal ini, diakuinya, tak hanya dialami oleh para mahasiswa di UMK saja, tetapi juga hampir seluruh perguruan tinggi yang ada di Indonesia. “Hanya sedikit mahasiswa yang mau menjadi aktivis, karena mungkin banyaknya tuntutan agar cepat selesai kuliah, ungkap Hendy.


Meskipun begitu, Hendy tetap optimistis walaupun jumlah mahasiswa yang memilih untuk menjadi aktivis sedikit, tak berarti kepedulian mahasiswa terhadap persoalan-persoalan sosial menurun. Menurut Hendy, mahasiswa tetap sebagai bagian dari agen perubahan dari masyarakat. Karena itulah, pola pengembangan mahasiswa UMK diarahkan pada pola visi Departemen Pendidikan Nasional, yakni cerdas dan kompetitif.

 

Mahasiswa harus cerdas intelektual, cerdas emosional, cerdas sosial, cerdas spiritual, dan cerdas kinestetik. Sehingga, mahasiswa tidak hanya menjadi pengekor saja (ikut-ikutan, Red), tegas Hendy.


Untuk mewujudkan visi tersebut, Hendy mengungkapkan perlu ada pengembangan kapabilitas intelektual mahasiswa. Di mana, visi ini untuk pengembangan mahasiswa bisa berfikir kritis, bermoral, santun, sesuai dengan kaidah hukum dan norma akademik, serta peningkatan kualitas takwa dan kreatif, tambah Hendy. (Hoery, Miun, Portal)