iden

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK - Universitas Muria Kudus melakukan kerjasama dengan Polres Kudus. Kerjasama yang dilakukan terkait dengan survei pelayanan publik yang ada di Polres Kudus.
Wakil Rektor UMK IV Dr. Subarkah mengatakan, jalinan kerjasama ini dilakukan untuk melihat kondisi pelayanan publik yang ada selama ini. "Tujuannya tak lain untuk mengetahui pelayanan selama ini seperti apa," katanya kemarin.
Dari survei itu nantinya akan diketahui kekurangan dan kelebihan pelayanan publik yang dilakukan oleh Polres Kudus. Hasil tersebut juga dijadikan bahan atau landasan kebijakan oleh Polres Kudus dalam meningkatkan pelayanan publik.
Sehingga pelayanan publik yang dilakukan bisa terus lebih baik. "Kami tentu menyambut baik kerjasama ini, karena bisa memberikan masukan demi kemajuan bersama, apalagi terkait pelayanan publik," terangnya.
Kerjasama tersebut langsung ditandatangani oleh Rektor UMK Dr. Suparnyo dan Kapolres Kudus AKBP Catur Gatot Efendi. Harapannya, dengan kerjasama tersebut bisa memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama bagi masyarakat Kudus. (Linfokom-Humas)

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

UMK – Program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) mendapatkan akreditas A, hal itu menarik Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) untuk studi banding. Ada tiga kegiatan yang dilakukan dalam kunjungan tersebut.

Pertama yakni seminar dengan narasumber dosen Prodi PGSD UMK dengan peserta mahasiswa Undiksha. Lalu seminar dengan narasumber dari Undiksha dengan peserta mahasiswa UMK.

Lalu ada kunjungan ke laboratorium milik PGSD, selain itu ada juga penandatangan kerjasama yang dilakukan antara prodi PGSD UMK dengan  Undiksha. Sehingga nantinya kerjasama tersebut bisa ditindaklanjuti dengan baik untuk kemajuan masing-masing.

Untuk seminar, Dosen prodi PGSD UMK yang menjadi narasumber yakni Ika Oktaviani, M.Pd. dalam kesempatan tersebut dia menjelaskan tentang ‘Kontruksi Etnopedagogi untuk Pembelajaran di Sekolah Dasar’.

Praktik Pendidikan berbasis kearifan local dan berusumber dari nilai budaya suatu etnis dan menjadi standar perilaku merupakan etnopedagogi. Sehingga memang diperlukan pengkajian kearifan local kelompok budaya tertentu untuk mendorong perkembangan dalam bidang Pendidikan dan penelitian.

Sehingga bisa dimanfaatkan untuk proses pembelajaran dengan baik, apalagi kearifan local sangat erat dengan masyarakat atau siswa. Untuk Dimensi kearifan lokal antara lain pengetahun lokal, nilai, keterampilam, sumber daya, mekanisme pengambilan keputusan dan solidaritas kelompok lokal.

Untuk itu, siswa perlu dikenalkan melalui permainan tradisional, penggunaan produk lokal, budaya lokal hingga mengenalkan cerita rakyat nusantara. ”Permainan bisa dibuat sendiri sesuai dengan kearifan lokal yang ada, memang harus inovatif, mahasiswa harus mampu membuatnya,” terangnya.

Produk alat peraga edukatif yang sudah dibuat seperti  ‘jelajah kekayaan Kota Kretek’ berbentuk ular tangga. Di sana nanti ada penjelasan apa saja yang menajdi keunggulan Kabupaten Kudus. Lalu ada ‘Cubeecraft Si Unyil yang digunakan untuk membantu siswa membangun konsep jarring-jaring kubus, selain itu juga ada keteladatan karakter jujur, disiplin dan tanggungjawab.

Ada lagi Marionette Tangan, alat peraga ini bisa digunakan untuk belajar pengenalan bangun datar dan sifat-sifatnya, pengenalan budaya dan menumbuhkan karakter relijius dan disiplin. Lalu ada juga ‘Monopoli Engklek’, alat peraga ini untuk menggali dan menemukan konsep dan menggali materi yang dipelajari.(Linfokom-Humas)

 

 

 

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK – Isu radikalisme memang menajdi isu serius, namun sebenarnmya radikalisme secara hakiki dibagi menjadi dua. Yakni radikalisme positif dan radikalisme negatif, artinya warga juga harus memiliki radikalisme positif untuk bela negara.

Hal itu disampaikan pakar filsafat Pancasila Profesor Suyahmo saat seminar nasional yang dilaksanakan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muria Kudus (UMK) di Hotel @Home hari ini (04/04/2020).

Baginya, radikalisme positif yakni suatu paham yang meyakini suata ajaran, gagasa, ide dan nilai yang diyakini benar dan dijadikan tolok ukur dalam bersikap dan berperilaku. Lalu ajaran atau gagasan tersebut dibela, dilindungi, dilestarikan dan tidak bisa dirubah. ”Namun komunitas yang meyakini ajaran atau gagasan tersebut tetap toleran, memabngun ekrukuknan, persatuan yang sejalan dengan hakikat bela negara,” katanya.

Tapi, jika radikalisme negatif, maka ajaran, gagasan, ide dan nilai yang diyakini komunitas tersebut tidak dibarengi sikap toleran. Mereka merasa paling benar, paling baik dan tidak toleransi dengan pihak lain yang berbeda paham dan cenderung bersikap negative terhadap pihak lain yang berbeda paham, politik dan ideologi.

Dia menambahkan, dalam konteks bela negara, maka komunitas radikalimse negatif lebih banyak mendatangkan dampak negetaif dalam pembangunan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Sehingga perlu adanya upaya preventif dan persuasif untuk menangani kelompok tersebut. ”Jadi radikalisme negative harus dihindari, apalagi ketika sudah masuk ranah pengrusakan,” terangnya.

Menurutnya, tidak toleran terhadap kebhinekaan, suku, agama, ras, dan antar golongan sama saja dengan tidak cinta terhadap negara, Pancasila dan UUD 1945. Sehingga warga negara tidak mengabaikan negara, Pancasila dan UUD 1945. Karena dampaknya cukup besar, seperti disintegrasi.

Sementara itu, Ketua Panitia Seminar Deka Setiawan, M.Pd mengatakan, untuk bela negara, memang tidak hanya bersifat militeristik, namun bela negara bisa diaktualisasikan bermacam-macams esuai dengan profesi masing-masing. ”Sehingga dengan adanya seminar ini, peserta bisa memahami apa itu bela negara,” ujarnya.

Tujuannya agar 316 peserta yang ikut acara seminar memiliki tujuan jelas dalam bela negara. Karena seperti disampaikan diawal, bahwa bela negara bisa diaktualisasi sesuai dengan berbagai cara sesuai profesi masing-masing. (Linfokom-Humas)

 

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

UMK – Matematika menjadi pelajaran yang dikenal sebagai pelajaran cukup sulit bagi kebanyakan pelajar. Guru membutuhkan inovasi untuk memudahkan siswa memahami matematikan, salah satunya aplikasi yang menyenangkan.
Untuk membuat aplikasi tersebut juga tidaklah sulit, salah satunya memanfaatkan power point dijadikan game sederhana berbasis android. Selain itu juga bisa memanfaatkan aplikasi Plicker. ”Inovasi Pendidikan perlu dilakukan agar siswa lebih mudah memahami,” kata salah satu narasumber kuliah tamu, Rizky Oktavian Saputra beberapa waktu lalu.
Inovasi sangat dibutuhkan, apalagi terus berkembangnya kemajuan teknologi, siswapun sudah akrab dengan teknologi yang ada. Sehingga ketika pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi, tentu siswa akan lebih tertarik.
Sehingga bisa untuk mencapai tujuan pendidikan atau untuk memecahkan masalah pendidikan sehingga efisiensi, relevansi, berkualitas dan efektif. ”Teknologi informasi dan komunikasi merubah gaya hidup manusia, termasuk dalam hal belajar,” terangnya.
Pendidikan pada Abad 21 merupakan pendidikan yang mengintegrasikan antara kecakapan pengetahuan, keterampilan, dan sikap, serta penguasaan terhadap Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Kecakapan tersebut dapat dikembangkan melalui berbagai model kegiatan pembelajaran berbasis pada aktivitas yang sesuai dengan karakteristik kompetensi dan materi pembelajaran.
Pembelajaran dalam Kurikulum 2013 memiliki tujuan untuk mengembangkan bakat, minat, dan potensi peserta didik agar berkarakter, kompeten dan literat. Untuk mencapai hasil tersebut diperlukan pengalaman belajar yang bervariasi mulai dari yang sederhana sampai pengalaman belajar yang bersifat kompleks.
Sehingga guru dituntut melaksanakan pembelajaran dan penilaian yang relevan dengan karakteristik pembelajaran abad 21. Salah satunya melaksanakan berbagai inovasi dalam menciptakan sebuah pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan dengan mengembangkan berbagai metode,
Untuk itu, guru jangan sampai melkukan kegiatan yang monoton menggunakan cara konvensional. Guru wajib memanfaatkan dengan baik kemajuan teknologi yang ada, baik sebagai sarana pembelajaran maupun sumber belajar mandiri bagi siswa.
Dosen Prodi Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muria Kudus (UMK) Jayanti Putri Purwaningrum, M.Pd mengatakan, pihaknya memang ingin memberikan wawasan pentingnya teknologi sebagai salah satu inovasi yang bisa digunakan untuk memduahkan pembelajaran. ”Ada aplikasi simple yang bisa digunakan,” jelasnya.
Harapannya, mahasiswa bisa mengembangkan metode pembelajaran yang baik, salah satunya memanfaatkan teknologi informasi yang ada. Sehingga ketika lulus nanti bisa langsung dipraktikkan dengan baik, tidak lagi hanya mengajar dengan cara konvensional.(Linfokom-Humas)

Page 1 of 372