Menu

Kejujuran dan Budaya Malu

H. Suparnyo

INDONESIA seakan tak henti-henti dirundung masalah dan musibah. Masalah dan musibah datang silih berganti, yang bisa kita simak hampir setiap hari melalui pemberitaan di berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik.

Kasus kekerasan seksual pada anak, kebakaran hutan akibat oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, kerusakan lingkungan, hingga kasus korupsi yang seakan menjadi hal biasa, lantaran setiap hari kita disuguhi berita perilaku koruptif yang notabene bisa membuat perekonomian negara tak berdaya.

Apa yang terjadi di negeri ini, hingga berbagai masalah dan musibah selalu mendera? Apa yang bisa dilakukan dalam upaya meminimalisasi sekaligus mencari pemecahan masalah atas berbagai problem yang terjadi?

Mari kita coba analisa dari sistem pendidikan nasional. Apakah pendidikan yang berjalan sudah cukup memberikan bekal bagi tumbuh dan terinternalisasinya nilai-nilai kejujuran dan budaya malu?

Pertanyaan-pertanyaan mendasar ini penting diajukan, mengingat betapa pentingnya berbagai hal tersebut dimiliki oleh masing-masing orang dalam sebuah bangsa di kehidupan sehari-hari.

Terkait hal itu, pendidikan dalam berbagai tingkatannya, adalah institusi yang bisa mengambil peran besar dalam menginternalisasikan nilai-nilai tersebut agar tidak sekadar menjadi pengetahuan semata, tetapi bagaimana nilai-nilai itu bisa diaplikasikan dalam kehidupan nyata.

Dalam hal ini, perlu apa yang disebut dengan al-qudwah al-hasanah (keteladanan yang baik) bagi setiap elemen masyarakat, agar nilai-nilai kejujuran dan budaya malu benar-benar bisa terinternalisasi di sanubari generasi bangsa Indonesia, yang, diakui atau tidak, tengah mengalami krisis keteladanan.

Krisis keteladanan bagi generasi bangsa, tentu menjadi hal yang sangat ironis, karena keteladanan ini bisa berperan mendorong terinternalisasinya nilai-nilai kejujuran dan budaya malu, yang dalam praktik kehidupan sehari-hari nantinya, diharapkan bisa berkontribusi mengikis sikap-sikap (perilaku) tidak terpuji.

Jangan pernah berharap anak-anak akan menjadi generasi jujur dan memiliki budaya malu kelak, jika guru, kiai, dan pemimpinnya justru menampilkan perilaku sebaliknya. Di sinilah, keteladanan ini sangat penting maknanya.

Dengan keteladanan yang baik, maka pelajar dan mahasiswa, misalnya, diharapkan secara sadar akan meninggalkan praktik-praktik menyontek, karena praktik menyontek ini pada dasarnya adalah korupsi dalam lingkup kecil.

Mengapa ada orang-orang yang tega merusak lingkungan yang berdampak buruk pada kelestarian alam dan tentu saja berdampak bagi masyarakat jika kemudian itu menjadi penyebab terjadinya berbagai bencana?

Atau yang hingga kini masih bisa kita saksikan, yaitu ‘’tragedi’’ kabut asap yang melanda berbagai wilayah di tanah air akibat ulah oknum yang seenaknya membakar hutan, mengapa pula itu bisa terjadi? Pertanyaan lain, mengapa orang melakukan korupsi?

Banyak kemungkinan jawaban yang akan muncul, tentunya. Tetapi paling tidak, dari berbagai jawaban yang akan muncul, tiadanya nilai-nilai kejujuran dan budaya malu adalah dua di antaranya.

Mengingat pentingnya nilai-nilai kejujuran dan budaya malu inilah, tak heran jika Islam memberikan perhatian yang besar. Allah SWT. berfirman: ‘’Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah SWT. dan ucapkanlah perkataan yang benar’’ (QS. al-Ahzab : 70).

Rasulullah Muhammad SAW. dalam banyak hadits-nya juga banyak menjelaskan pentingnya nilai-nilai kejujuran dan budaya malu. Rasulullah menegaskan, ‘’Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga. Jika berbicara ia bohong, jika berjanji ia ingkar, dan jika dipercaya ia khianat’’. (HR. Bukhari)

Hadits lain, dari Abu Mas’ud bin Amr al-Anshari al-Badri RA berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya sebagian yang masih diingat dari ajaran Nabi-nabi terdahulu adalah, ‘jika tidak malu, berbuatlah sesukamu’’ (HR. Bukhari). Dalam kesempatan lain Rasulullah menyebutkan, ‘’ ... Malu adalah cabang dari iman’’.

Jika menelaah firman Allah SWT dan hadits Nabi di atas, bisa disimpulkan bahwa kejujuran dan budaya malu bisa menjadi benteng dan pengerem seseorang dari berbuat sesuatu yang melanggar etika, baik sosial maupun agama.

Kenapa orang mau merusak lingkungan, membakar hutan, atau korupsi, antara lain adalah karena telah hilangnya kejujuran dan rasa malu dalam diri yang bersangkutan.

Akhirnya, kejujuran dan budaya malu adalah dua hal yang harus dirawat, karena dengan itulah seseorang akan terjaga harkatnya sebagai manusia. Sebaliknya, jika kejujuran dan rasa malu hilang, seseorang berpotensi melakukan tindakan yang melanggar norma. Semoga kita semua mendapatkan kekuatan dari Allah SWT untuk merawat kejujuran dan budaya malu dalam diri. Wallahu a’lam. (*)    

                                                                                       
Dr. H. Suparnyo SH. MS.,
Rektor Universitas Muria Kudus (UMK) dan Dewan Pakar Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Cabang Kudus
 
Tulisan ini dimuat di Rubrik ‘’Oase’’ Suara Muria Harian Suara Merdeka Edisi Jum’at, 30 Oktober 2015

Info Kopertis Wilayah VI

Info RISTEKDIKTI

Tajug

Informasi, Inspirasi dan Penumbuh Harapan

Oleh Dr. Suparnyo SH. MS.

9 Februari, diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN). Untuk itu, secara pribadi maupun institusi, Saya mengucapkan Selamat Hari Pers Nasional, semoga pers kita akan semakin baik secara kualitas, sehingga benar-benar bisa mengambil peran maksimal sebagai pilar keempat demokrasi.


Kepedulian Sosial Pasca Ramadhan

Oleh H. Suparnyo

Tak terasa, Ramadhan 1437 H / 2016 M akan segera berlalu dan Idul Fitri sudah di depan mata. Selama Ramadhan, umat Islam berlomba-lomba memperbanyak amal ibadahnya, salah satunya ditandainya dengan tumbuhnya rasa kepedulian sosial atau kedermawanan.


Ramadhan dan Etos Keilmuan Santri

Oleh H. Suparnyo

Mengawali tulisan ini, atas nama pimpinan Universitas Muria Kudus (UMK), saya ucapkan selamat menunaikan puasa Rama-dhan 1347 H. / 2016 M. kepada segenap sivitas akademika UMK secara khusus dan umat Islam sedunia umumnya.


Read More

Pengunjung

06805699
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Total
189
248
2023
6800280
5419
15138
6805699

IP: 192.168.1.34
Jam Server: 2019-12-14 04:37:31

Kami memiliki 23 tamu online

UMK DI GOOGLE MAP

Polling

Menurut Anda tampilan apa saja yang perlu dibenahi dari Website UMK ?

Desain - 43.1%
Warna - 16.5%
Menu - 11.8%
Tata Letak - 23.3%
Tidak Ada - 5.3%

Total votes: 399

Fakultas

Ekonomi
Hukum
FKIP
Pertanian
Teknik
Psikologi

Pascasarjana

Ilmu Hukum

Manajemen

Pendidikan Dasar

Fasilitas

Webmail
Portal Akademik
Repository UMK
Perpustakaan
E-learning
Jurnal
Jurnal Internasional
Portal Ketrampilan Wajib
Pengabdian Masyarakat

Pusat Studi

Pusat Studi Kawasan Muria
Pusat Studi Kretek Indonesia

Pusat Studi Wanita/Gender
Pusat Studi Lingkungan
Pusat Studi Pemerintah Daerah
Pusat Studi Saint,Teknologi dan HAKI

Kemahasiswaan

Pena Kampus
KSR PMI
Menwa Gondho Wingit

Scan this QR Code!
Go to top