Menu

Naskah Juara I UMK Media Competition

Darul Ilmi dan ’Peradaban Baru’ Pantura Timur Jateng

Masjid Darul Ilmi di UMK, bisa menjadi pionir untuk melahirkan ”peradaban baru” bagi dunia intelektual sekaligus memberikan kontribusi positif dalam membangun bangsa, khususnya di wilayah Pantura Timur Jateng.
DI ruang yang cukup luas, sekitar satu bulan sebelum menjabat sebagai Koordinator Staf Ahli (Kosahli) Kepolisian Republik Indonesia, tepatnya 1 Juni 2011, Irjen Polisi Edward Aritonang menjadi salah satu narasumber dalam seminar ”Revitalisasi Pendidikan Karakter sebagai Upaya Melindungi Generasi Bangsa” yang diselenggarakan Universitas Muria Kudus (UMK).
Edward Aritonang, yang saat itu masih menjabat sebagai Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jateng,  bersama tiga narasumber lain, yaitu Dr Ahmad Tafsir MAg (IAIN Walisongo Semarang), Drs Muchamad Yuliyanto MSi (Undip Semarang), Iskandar Wibawa SH MH (Korda FKA-ESQ Kudus) dan Prof Dr dr Sarjadi SP PA (Rektor UMK) sebagai keynote speaker, didaulat mengemukakan berbagai perspektifnya di seminar memeringati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Darul Ilmi di perguruan tinggi terbesar di wilayah Pantura Timur Jateng itu.

Bukan lantaran Edward adalah seorang inspektur jenderal dan kapolda sehingga menarik perhatian. Tetapi tempat diselenggarakannya seminar itulah yang menarik dan menginspirasi hadirnya judul tulisan ini. Apalagi keberadaan masjid yang berada di tengah-tengah kampus, yang semestinya akrab dengan tradisi intelektual.
Kehadiran sekitar 400 peserta yang terdiri atas dosen, mahasiswa, dan pelajar, juga menjadi penegas, bahwa kehadiran Masjid Darul Ilmi di tengah-tengah kampus UMK, tidak sekadar ”tempat ibadah” yang memiliki penyempitan makna dan guna, tempat shalat dan mengaji saja. Tetapi memiliki makna besar bagi segenap civitas academica untuk berdialektika dan melakukan kajian-kajian intelektual di dalamnya.  
Kilas Balik
Masjid memiliki peranan yang sangat besar dalam tradisi intelektual dan perkembangan peradaban Islam. Salim Sholeh Almuhdor (2008) mengemukakan, di awal-awal perkembangan Islam, masjid tidak semata sebagai tempat shalat, tetapi menjadi pusat dakwah, keilmuan, dan mendiskusikan berbagai persoalan sekaligus untuk mencari solusi atas pelbagai persoalan sosial yang muncul.  
Sekolah pertama kali hadir di masjid pada 653 M di Madinah, yakni pada masa Dinasti Umayyah, lalu di Damaskus pada 744 M. Dan sejak tahun 900 M, hampir setiap masjid memiliki sekolah untuk mendidik anak-anak muslim.
Kegiatan-kegiatan intelektual di masjid, tidak sekadar mempelajari baca-tulis saja. Di sana, para murid juga mempelajari teologi, bahasa Arab, logika, aljabar, astronomi, biologi, sejarah, ilmu hukum, dan lain sebagainya. Masjid telah menjadi ”laboratorium” ilmu dan riset, sehingga tak heran jika aktivitas intelektual di ”rumah Tuhan” itu melahirkan cendekiawan-cendekiawan yang sangat brilian.
Ibnu Rusyd, Ibnu Bajja, Imam Sibawaih, Ibnu Khaldun, Ibnu Al-Khatib, Al-Bitruji, Ibnu Harazim, Ibnu Maimoun, Ibnu Wazzan, Ibnu Al-Haitham, dan Al-Baghdadi, adalah beberapa di antara cendekiawan muslim yang dilahirkan di masjid dalam dinasti yang berbeda.
Ada beberapa hal yang menjadikan pusat kajian Islam di berbagai masjid waktu itu, mengalami sukses luar biasa. Pertama, pusat aktivitas. Masjid pada awal Islam menjadi pusat aktivitas keislaman, mulai dari intelektual (pendidikan), ekonomi, hukum, dan aktivitas sosial lain. Itu sekaligus didukung oleh keadaan bahwa pendidikan merupakan salah satu pilar penting untuk membangun Islam yang kuat (kokoh).
Kedua, adanya perpustakaan. Masjid-masjid di awal-awal keemasan Islam, dilengkapi dengan perpustakaan. Selain sebagai referensi, buku-buku (kitab) yang ada mendorong para pengkajinya untuk melakukan kajian lebih lanjut. Selain itu, dalam banyak literatur disebutkan, keberadaan perpustakaan masjid di awal-awal Islam, menginspirasi umatnya untuk menyumbangkan buku (kitab) yang dimilikinya, sehingga menjadikan pusat-pusat pengkajian di masjid semakin semarak.
Peradaban Baru
Aktivitas intelektual di masjid-masjid pada awal-awal Islam telah melahirkan pradaban yang sangat gemilang, yang kemudian dikenal dengan the golden age of Islam. Perguruan tinggi-perguruan tinggi bergengsi lahir dari sana. Al-Azhar (Mesir), Al-Qarawiyyin (Maroko), Al-Qayrawwan dan Al-Zaituna (Tunisia). Berbagai universitas ini pun menarik minat para mahasiswa Islam dari berbagai belahan bumi untuk datang, hingga saat ini.
Masjid yang di masa awal-awal Islam telah memberikan sumbangsih tak terperikan dalam peradaban dunia, inilah yang menarik dijadikan sebagai cermin. Mengapa dengan banyaknya masjid sekarang ini, tak lagi mampu menelurkan cendekiawan-cendekiawan, minimal melahirkan generasi bangsa yang cerdas, berwawasan luas, dan berkarakter?
Kesadaran ini muncul saat sebuah seminar digelar di Masjid Darul Ilmi Universitas Muria Kudus, awal Juni lalu. Pertanyaannya kemudian, mengapa tidak UMK mengambil peran mulia dalam rangka membangun kualitas intelektual umat Islam, minimal untuk para mahasiswa di kampusnya?
Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (NKPRMI), November 2006 lalu mengatakan, masjid memiliki peran yang sangat penting dalam pertumbuhan peradaban umat Islam. Masjid tidak hanya tempat menunaikan ibadah shalat, tetapi semestinya juga berperan sebagai pusat pendidikan dan penyebaran syiar Islam dan menyelesaikan berbagai persoalan umat.
Dan UMK yang notabene salah satu universitas yang cukup besar di Pantura Timur Jateng, memiliki peluang yang besar dalam rangka ”membangun peradaban baru” di wilayah ini, dengan berbagai kajian intelektual yang bisa dimulai dari Masjid Darul Ilmi.
Pertama, tempat memadai. Masjid Darul Ilmi yang cukup megah di kampus itu, memiliki ruang yang sangat luas bagi aktivitas intelektual, baik diskusi maupun seminar.
Beberapa kegiatan diskusi dan seminar pun sudah beberapa kali digelar Masjid ini, sehingga tinggal memaksimalkannya untuk aktivitas-aktivitas intelektual lain. Di Pantura timur Jateng yang di antaranya meliputi Kudus, Pati, dan Rembang, terdapat banyak persoalan sosial ataupun lingkungan. UMK bisa memberikan kontribusi pemikiran terkait berbagai persoalan yang muncul di masyarakat.
Kedua, peningkatan kualitas SDM. Dengan banyaknya aktivitas intelektual, tentu akan berdampak positif bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di UMK, baik dosen maupun mahasiswa. Grup-grup diskusi akan bermunculan, yang pada gilirannya akan menghasilkan berbagai pemikiran yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar.
Tetapi untuk itu, memang tidak bisa sekadar mendorong dosen dan mahasiswa supaya memanfaatkan ruang di Masjid Darul Ilmi itu sebagai ruang berdialektika dan melakukan kajian-kajian intelektual. Setting ruang menjadi penting untuk diperhatikan sehingga dosen dan mahasiswa kerasan dan merasa nyaman. Selain itu, perlu kiranya masjid dilengkapi perpustakaan, agar referensi bisa mudah didapat saat mereka membutuhkannya, tanpa harus ke perpustakaan fakultas atau universitas.  
Membuat perpustakaan masjid, tentu membutuhkan anggaran yang cukup besar. Tetapi mengapa tidak mencoba mendorong gerakan wakaf buku untuk mendirikan perpustakaan di Masjid Darul Ilmi sebagaimana pernah dilakukan oleh dinasti ke-khalifah-an pada masa-masa awal Islam?
Di tengah-tengah masih banyaknya problem kebangsaan yang multidimensi, peranan masjid, khususnya masjid-masjid kampus seperti Masjid Darul Ilmi sangat diperlukan. Yaitu dalam rangka ikut mencarikan solusi atas berbagai persoalan yang ada. Masjid Darul Ilmi di UMK, bisa menjadi pionir untuk melahirkan ”peradaban baru” bagi dunia intelektual sekaligus memberikan kontribusi positif dalam membangun bangsa, khususnya di wilayah Pantura Timur Jateng. Hal sama perlu dilakukan oleh masjid-masjid lain secara umum, yang sudah semestinya ikut mengambil peran dalam pembangunan bangsa dan Islam. (24)

Rosidi, wartawan Suara Merdeka Biro Muria.

 

Info Kopertis Wilayah VI

Info RISTEKDIKTI

Tajug

Informasi, Inspirasi dan Penumbuh Harapan

Oleh Dr. Suparnyo SH. MS.

9 Februari, diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN). Untuk itu, secara pribadi maupun institusi, Saya mengucapkan Selamat Hari Pers Nasional, semoga pers kita akan semakin baik secara kualitas, sehingga benar-benar bisa mengambil peran maksimal sebagai pilar keempat demokrasi.


Kepedulian Sosial Pasca Ramadhan

Oleh H. Suparnyo

Tak terasa, Ramadhan 1437 H / 2016 M akan segera berlalu dan Idul Fitri sudah di depan mata. Selama Ramadhan, umat Islam berlomba-lomba memperbanyak amal ibadahnya, salah satunya ditandainya dengan tumbuhnya rasa kepedulian sosial atau kedermawanan.


Ramadhan dan Etos Keilmuan Santri

Oleh H. Suparnyo

Mengawali tulisan ini, atas nama pimpinan Universitas Muria Kudus (UMK), saya ucapkan selamat menunaikan puasa Rama-dhan 1347 H. / 2016 M. kepada segenap sivitas akademika UMK secara khusus dan umat Islam sedunia umumnya.


Read More

Pengunjung

06984052
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Total
271
958
4308
6966130
5234
36605
6984052

IP: 192.168.1.45
Jam Server: 2020-08-06 07:32:17

Kami memiliki 10 tamu online

UMK DI GOOGLE MAP

Polling

Menurut Anda tampilan apa saja yang perlu dibenahi dari Website UMK ?

Desain - 43.1%
Warna - 16.5%
Menu - 11.8%
Tata Letak - 23.3%
Tidak Ada - 5.3%

Total votes: 399

Fakultas

Ekonomi
Hukum
FKIP
Pertanian
Teknik
Psikologi

Pascasarjana

Ilmu Hukum

Manajemen

Pendidikan Dasar

Fasilitas

Webmail
Portal Akademik
Repository UMK
Perpustakaan
E-learning
Jurnal
Jurnal Internasional
Portal Ketrampilan Wajib
Pengabdian Masyarakat

Pusat Studi

Pusat Studi Kawasan Muria
Pusat Studi Kretek Indonesia

Pusat Studi Wanita/Gender
Pusat Studi Lingkungan
Pusat Studi Pemerintah Daerah
Pusat Studi Saint,Teknologi dan HAKI

Kemahasiswaan

Pena Kampus
KSR PMI
Menwa Gondho Wingit

Scan this QR Code!
Go to top