Menu

PEREMPUAN BEKERJA DAN KDRT

Oleh Mochamad Widjanarko
Staf Pengajar di Fakultas Psikologi
Universitas Muria Kudus
Pengampu Mata Kuliah Psikologi Gender

Seorang tamu pada pukul 11:00, datang ke sebuah rumah yang asri di ujung gang, pohonnya banyak. Tamu itu kemudian bertanya pada seorang anak laki-laki usia sekitar 6 tahun yang membukakan pintu rumah tersebut.Ayah atau ibu ada?, kata tamu itu. Ayah dan ibu tidak ada, ayah pergi bekerja, ibu juga, jawabnya. Secara spontan, tamu tersebut berkomentar. jadi keduanya pergi bekerja, guman tamu tersebut sambil mengangguk-anggukan kepala.

Pada masa kini, perempuan tidak lagi berperan sebagai ibu rumah tangga (istri) di rumah, tetapi sudah lebih banyak berperan dalam berbagai bidang kehidupan, baik sosial, ekonomi maupun politik. Perempuan sekarang, juga memiliki kesempatan yang lebih besar untuk bekerja dalam berbagai bidang pekerjaan, yang dahulu hanya dikuasai oleh pria, seperti manajer, mekanik, supir bus, dan polisi.

Kesempatan yang lebih besar ini disebabkan semakin besarnya kesempatan bagi perempuan Indonesia generasi sekarang untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi. Perempuan berpendidikan tinggi akan merasa sia-sia apabila gelar yang telah dicapainya tidak digunakan, sehingga banyak perempuan yang memutuskan bekerja dan menjadi perempuan karier walau sudah menikah

 

Seiring perkembangan zaman, pilihan pekerjaan pun semakin berkembang. Namun masih ada pemisahan pekerjaan berdasar pada jenis kelamin. Proporsi antara pekerja perempuan dan pria masih kurang seimbang, terutama pada posisi pekerjaan yang lebih tinggi ataupun pekerjaan yang dianggap membutuhkan kondisi fisik yang kuat (Nurtjahjanti & Regiana, 2007).

 

Tulisan ini mendasarkan pada fakta semakin banyak pasangan suami istri yang bekerja mencari nafkah sebagai bentuk pergeseran pola kehidupan keluarga. Apakah fenomena ibu (isri) bekerja merupakan salah satu alat untuk meminimalkan tindak kekerasan yang akan dialami ibu (istri) atau sekedar alasan ekonomi karena terpuruknya perekonomian di negara kita.

 

Gender Awareness

Undang-Undang (UU) Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah tangga No 23 Tahun 2004 bertujuan menciptakan dunia yang adil tanpa kekerasan di dalam keluarga (KDRT). Tetapi dalam implementasi, KDRT masih sering terjadi dan semakin meningkat, bahkan kekerasan tersebut mengakibatkan korban sampai meninggal.

Padahal kampanye, sosialisasi gerakan, kesetaraan, dan analisis gender yang melibatkan laki-laki, semakin marak dilakukan. Sepertinya ada sesuatu yang terputus misalnya ada terminologi kesetaraan gender yang disalahartikan dengan mengambil alih pekerjaan dan tanggung jawab laki-laki. Persepsi ini menjadikan laki-laki merasa tersaingi dan kemudian memunculkan sesat pikir yang menyebabkan timbulnya KDRT.

Kesetaraan gender bukan berarti memindahkan semua pekerjaan laki-laki ke pundak perempuan, bukan pula mengambil alih tugas dan kewajiban seorang suami oleh isterinya. Kesetaraan gender adalah menganggap semua orang pada kedudukan yang sama dan sejajar (equality).

Harus ada pihak-pihak yang mencoba mensosialisasikan, menyebarkan informasi untuk menguraikan pemahaman dasar mengenai arti seks, gender, dan kodrat dengan penjelasan yang lugas dan tidak menggurui. Kemudian mengulas dengan seksama dalam diskusi kelompok-diskusi kelompok di tiap desa-kota. Bagaimana gender atau bias gender berlaku di masyarakat dan diskusi diakhiri dengan strategi tindak lanjut memfasilitasi kelompok-kelompok perempuan, berserta kata kuncinya: gender awareness.

 

Perempuan Bekerja

Selama ini, figur ibu bekerja lebih dipandang sebagai sumber tambahan penghasilan keluarga. Perempuan bekerja didorong oleh faktor ekonomi. Ada kekuatan tarik-menarik antara nilai-nilai keluarga tradisional yang menuntut pembagian peran dan tanggungjawab rumah tangga secara dikotomis antara suami (di luar rumah) dan istri (sebagai ibu rumah tangga), serta tuntutan ekonomi yang mengharuskan suami-istri bekerja untuk memenuhi ekonomi keluarga.

Rahima (2006) mengulas tentang interpretasi pandangan Islam tentang perempuan bekerja: dalam pandangan banyak ulama fikih, suami juga tidak berhak sama sekali untuk melarang isteri bekerja mencari nafkah, apabila nyata-nyata dia tidak bisa bekerja mencari nafkah, baik karena sakit, miskin atau karena yang lain (lihat fatwa Ibn Hajar, juz IV, h. 205 dan al-Mughni li Ibn Qudamah, juz VII, h. 573).

Bahkan, menurut Fikih Madzab Hambali, seorang lelaki yang pada awalnya sudah mengetahui dan menerima calon isterinya sebagai pekerja (baca: perempuan karir) yang setelah perkawinan juga akan terus bekerja di luar rumah, suami tidak boleh kemudian melarang isterinya bekerja atas alasan apapun (lihat al-fiqh al-Islami wa adillatuhu, juz VII, h. 795).

Perempuan bekerja lebih didorong karena faktor ekonomi. Namun, dalam lingkungan pekerjaan acap kali mengalami ketidaksetaraan gender. Pilihan perempuan untuk bekerja tetap menjadi pilihan untuk menerobos kekurangan ekonomi (baca: kemiskinan) yang dialami.

Dampak dari ibu bekerja sering disalahkan ketika anak-anaknya kurang berprestasi, bahkan menjadi anak yang bermasalah. Karir perempuan dianggap menghalangi fungsinya sebagai ibu rumah tangga. Tetapi, hasil-hasil penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa tidak terbukti ibu bekerja di luar rumah akan membawa efek negatif terhadap perkembangan psikologis anak-anaknya (Belsky 1988, 1990; Harvey 1999; Hoffman 1989).

Menurut hemat penulis, ibu bekerja bisa membuat anak-anaknya merasa bangga karena sang ibunda bisa mendapatkan penghasilan sendiri yang tentunya sangat bermanfaat bagi kehidupan keluarga.

Walau awalnya karena kebutuhan ekonomi, perempuan yang bekerja di luar domestik merupakan salah satu cara untuk bisa menghindari dari kekerasan dalam rumah tangga. Seringkali korban kekerasan dalam rumah tangga tidak berdaya karena ketergantungan secara ekonomi dengan pelaku kekerasan.

 

Info Kopertis Wilayah VI

Info RISTEKDIKTI

Tajug

Informasi, Inspirasi dan Penumbuh Harapan

Oleh Dr. Suparnyo SH. MS.

9 Februari, diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN). Untuk itu, secara pribadi maupun institusi, Saya mengucapkan Selamat Hari Pers Nasional, semoga pers kita akan semakin baik secara kualitas, sehingga benar-benar bisa mengambil peran maksimal sebagai pilar keempat demokrasi.


Kepedulian Sosial Pasca Ramadhan

Oleh H. Suparnyo

Tak terasa, Ramadhan 1437 H / 2016 M akan segera berlalu dan Idul Fitri sudah di depan mata. Selama Ramadhan, umat Islam berlomba-lomba memperbanyak amal ibadahnya, salah satunya ditandainya dengan tumbuhnya rasa kepedulian sosial atau kedermawanan.


Ramadhan dan Etos Keilmuan Santri

Oleh H. Suparnyo

Mengawali tulisan ini, atas nama pimpinan Universitas Muria Kudus (UMK), saya ucapkan selamat menunaikan puasa Rama-dhan 1347 H. / 2016 M. kepada segenap sivitas akademika UMK secara khusus dan umat Islam sedunia umumnya.


Read More

Pengunjung

06984132
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Total
351
958
4388
6966130
5314
36605
6984132

IP: 192.168.1.45
Jam Server: 2020-08-06 08:40:38

Kami memiliki 20 tamu online

UMK DI GOOGLE MAP

Polling

Menurut Anda tampilan apa saja yang perlu dibenahi dari Website UMK ?

Desain - 43.1%
Warna - 16.5%
Menu - 11.8%
Tata Letak - 23.3%
Tidak Ada - 5.3%

Total votes: 399

Fakultas

Ekonomi
Hukum
FKIP
Pertanian
Teknik
Psikologi

Pascasarjana

Ilmu Hukum

Manajemen

Pendidikan Dasar

Fasilitas

Webmail
Portal Akademik
Repository UMK
Perpustakaan
E-learning
Jurnal
Jurnal Internasional
Portal Ketrampilan Wajib
Pengabdian Masyarakat

Pusat Studi

Pusat Studi Kawasan Muria
Pusat Studi Kretek Indonesia

Pusat Studi Wanita/Gender
Pusat Studi Lingkungan
Pusat Studi Pemerintah Daerah
Pusat Studi Saint,Teknologi dan HAKI

Kemahasiswaan

Pena Kampus
KSR PMI
Menwa Gondho Wingit

Scan this QR Code!
Go to top