Urgensi Sikap ‘Kepo’ Guru Abad XXI

Mutohhar S.Pd. M.Pd.

Pergantian dari satu masa ke masa, menjadi keniscayaan (sunnatullah) dalam kehidupan. Abad XIX berganti abad XX dan kini kita berada di abad XXI, yang dalam pandangan banyak kalangan, merupakan abad yang menentukan untuk kelangsungan di abad-abad berikutnya.

‘Asumsi’ abad XXI sebagai abad yang akan menentukan pada periode selanjutnya, bisa jadi tidak berlebihan. Karena faktanya, di abad ini, banyak sekali terjadi perubahan-perubahan dalam segala lini kehidupan masyarakat, tak terkecuali dunia pendidikan.

Perubahan-perubahan dalam dunia pendidikan ini, tentunya juga menuntut adanya pemahaman dan pemaknaan yang berbeda pula. Khususnya, bagaimana peran dan tugas guru dalam menjalankan tugas dan kewajibannya, yang merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan sebuah proses pembelajaran.

Dalam hal kemudahan mendapatkan akses informasi, misalnya, yang bisa diperoleh oleh siapa saja, perlu mendapatkan respons dan pensikapan secara bijak. Pada masa dulu, guru bisa mengangap dirinya sebagai pusat pengetahuan dan informasi, namun kini, bisa jadi sekadar pembanding saja. Lantaran penentu benar tidaknya informasi, bisa didapatkan peserta didik sendiri melalui kemudahan akses informasi yang ada.

Sebuah pengetahuan dan informasi yang didapatkan peserta didik, barangkali pula lebih dulu didapat sebelum seorang guru menyampaikan dalam proses pembelajaran di kelas. Jika ini yang terjadi, maka tidak salah jika kemudian murid yang lebih mempercayai media informasi ketimbang guru yang menyampaikan materi di kelas.

Maka, selayaknya guru saat ini bersikap kepo, yang dalam bahasa ‘anak gaul’ abad ini dimaknai dengan rasa keingintahuan yang berlebihan terhadap sesuatu. Kendati kelihatannya negatif, namun guru bisa mengubahnya sebagai energi positif yang bisa berdampak baik dalam proses pembelajaran di sekolah.

Sikap kepo ini menjadi penting, karena pengetahuan dan ilmu pengetahuan di dunia ini, mengalami perkembangan yang begitu cepat, sehingga memungkinkan adanya banyak temuan-temuan atau teori–teori baru.

Banyaknya temuan atau teori–teori baru, ini tentu tidak diperoleh begitu saja tanpa adanya sebuah sikap keingintahuan (kepo), di samping sikap terbuka terhadap segala bentuk perubahan-perubahan yang bersifat kekinian.

Dengan begitu, sikap kepo sangat penting dimiliki oleh guru, untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Sebab, pada dasarnya peserta didik cenderung tertarik mengikuti proses belajar manakala seorang guru, mampu mengaitkan pembelajaran dengan fenomena  yang terjadi di masyarakat.

Namun untuk itu, konsekuensinya guru harus kaya akan informasi dan pengalaman-pengalaman baru, yang bisa dibaca dari berbagai media massa, termasuk media sosial, ‘berbekal’ sikap kepo yang dimiliki.

Memiliki pemahaman dan pengetahuan akan hal-hal baru dengan sikap keponya itulah, maka seorang guru pada akhirnya akan mampu menyampaikan materi pelajaran kepada para siswanya dengan perspektif kekinian. Wallahu a’lam. (*)

 

Mutohhar S.Pd. M.Pd.,

Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (Prodi PBI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muria Kudus (UMK).