Menu

Peran Perempuan dalam Keluarga dan Negara

Dr. Mamik Indaryani M.Si.

“Kesetaraan perempuan dan laki-kaki untuk mewujudkan Indonesia bebas dari kekerasan, perdagangan orang dan kesenjangan akses ekonomi terhadap perempuan”, menjadi tema menarik peringatan Hari Ibu ke-88 Tahun 2016 ini.

Sepintas, tema itu masih berkutat pada permasalahan di ranah domestik dan  berdampak pada aktivitas manusia, terkait relasi gender dalam berbagai  aspek kehidupan  di era global ini, yang diwarnai semakin  pentingnya jati diri baik sebagai diri maupun bangsa. Akan tiba pada masanya, penghuni dunia dihadapkan standar-standar yang mendorong  produk, aktivitas dan ekspresi tidak lagi memiliki ciri khas karena bersifat homogen.

Persoalan di ranah domestik belum selesai, persoalan di ranah publik sudah banyak bergeser. Jika kita tidak lagi saling peduli, mengingat dan saling mengingatkan, maka yang terjadi adalah bahwa manusia kehilangan eksistensinya sebagai makhluk yang paling mulia dan memiliki tugas sebagai pengelola bumi dan isinya, bagi generasi berikutnya dan digantikan oleh peran teknologi yang membutakan manusia.

Teknologi sejatinya adalah alat, bukan tuhan, sehingga harus tetap dalam kendali manusia. Ia sekadar hasil karya manusia yang diizinkan Tuhan bagi “kesejahteraan “ manusia, yang harus berdampak pada kesejahteraan keluarga dan seluruh anggotanya.

Keluarga sebagai unit masyarakat terkecil, apakah sebagai keluarga “nuclear” atau “batih”, pada dasarnya menjadi akar dari seluruh peristiwa gagal dan berhasilnya anggota, yang terdiri dari bapak-ibu-anak dan keluarga lainnya, untuk beradaptasi dalam hidup yang terus mengalami perubahan sangat cepat.

Sejatinya, pada keluarga lah inti kehidupan mendasar dibangun dalam bentuk dan nilai –nilai yang ditransformasikan dari generasi ke generasi, dengan suatu perubahan ekspresinya yang mengikuti perubahan tuntutan zaman. Ingat, hanya ekspresinya. Namun esensi nilai –nilai luhur kehidupan, tetap adanya, takni untuk membangun karakter individu anggota keluarga yang siap menghadapi perubahan zaman.

Peran Ibu dan Perubahan Zaman.

Sekalipun zaman berubah sedemikian rupa, tidak ada yang dapat menggantikan peran ibu dalam keluarga. Menjadi ibu juga tidak ada sekolahnya. Jadi Ibu adalah profesi yang tidak tergantikan, tidak ternilai dan tidak dapat dilakukan hanya karena kursus.

Di sepanjang zaman dan sepanjang abad, profesi ibu tidak ada pemutusan hubungan kerja, pemutusan hubungan keluarga dan pemutusan hubungan karena suami tidak bisa “menggaji” dengan layak.

Ibu profesi alami dalam siklus hidup manusia, tetapi tidak mudah untuk melakukannya dengan baik dan benar. Kecenderungan yang dihadapi oleh seorang ibu dalam masa transisi zaman, adalah adanya pergeseran nilai dan norma seperti yang dulu pernah mereka terima dan pelajari dari orang tua mereka, yang luhur dan terus diingat, dipraktekan dalam tugasnya sebagai ibu tetapi menghadapi situasi yang berbeda.

Ibu juga perlu beradaptasi terhadap kondisi yang berubah. Bagaimana caranya? Belajar, dan memperhatikan dengan tidak kehilangan arah, wibawa dan kekuatan sebagai ibu. Ibu bukan makhluk lemah, baik secara mental maupun fisik. Ibu harus tetap kuat.

Sebenarnya peran  yang harus dilakukan sangat berat. Karena ibu harus dapat membangun fondasi yang nantinya akan berdiri bangunan kokoh bagi anggota keluarganya, dengan dukungan suami. Nilai dari ibu dan ayah akan menjadi “patroen” bagi keluarga itu.

Bagaimana gaya, nilai dan ekspresi akan diekspresikan oleh anak-anaknya ketika melangkah keluar rumah. Dari ibu dan ayah yang penuh kasih, lemah lembut akan melahirkan anak-anak yang lembut penuh kasih.

Dari ayah dan ibu yang ekspresif, akan melahirkan anak-anak yang ekspresif. Dari ayah dan ibu yang demokratis, maka akan melahirkan anak-anak yang menghargai perbedaan. Akumulasi yang terus menerus selama menjadi anggota keluarga akan terekpresikan ketika anak-anak harus menghadapi kehidupannya sendiri kelak dalam dunia nyata yang berbeda, keras dan saling menghardik.

Tetapi jika anak-anak selalu merindukan ayah dan ibunya, merindukan pulang ke rumah, pertanda bahwa apa yang diberikan ayah dan ibu menjadi kekuatan mereka. Dan ketika mereka lemah, galau, tidak berdaya maka mereka akan melakukan “ recharging”  dengan kembali kerumah.

Ibu juga dituntut untuk beradaptasi dengan kekinian. Kekinian bukan hanya ditandai oleh simbol yang kelihatan tetapi juga gaya hidup lingkungan yang sama kuatnya memberi inspirasi kepada anggota keluarga. Ketika ibu kuat maka menjadi modal dasar untuk membawa keluarganya berjalan dalam track yang benar sekalipun dunia bergoncang. Tetapi kalau seorang ibu hanyut akan perubahan zaman, maka runtuhlah seluruh sendi-sendi keluarga itu.

Maka saatnya suami, ayah akan menguatkan kembali posisi ibu dan bukan diceraikan dan ganti ibu baru. Sepanjang sejarah, pergantian ibu antarwaktu karena sebab ayah dan ibu menyalahi peran sosial dan menjalani kodratnya tidak benar, hanya akan membawa korban  yang  tersistem dan berdampak sistemik antar generasi. Ibu dan Ayah tidak boleh kehilangan wibawa dan otoritas hanya karena “gadget”.

Banyak cara untuk beradaptasi dan belajar banyak cara dari berbagai sumber, pengalaman ibu yang lain atau membuka diri terhadap pengetahuan sekitar. Seorang ibu juga memiliki kepekaan untuk memilah dan memilih cara, informasi dan nilai yang cocok untuk keluarga khususnya anak-anak.

Jangan selalu membandingkan kondisi saat ini dengan apa yang dialami di masa lalu. Terima, syukuri dan lakukan sesuatu untuk membahagiakan keluarga, dan menyiapkan anak-anak menjadi generasi yang menang terhadap kondisi yang mengatasnamakan “modernisasi” dan kemajuan.  

Fondasi Keluarga, Tiang Negara.

Keluarga yang berhasil, bukan karena kekayaan dan materi yang berlimpah, sehingga dapat memberi fasilitas kepada keluarga dengan kenyamanan. Kenyamanan harus tercipta bukan hanya bersumber dari fasilitas. Tetapi dari suasana yang diciptakan atas dasar saling mengasihi, saling menghormati saling mendukung dan saling memiliki.

Jika perasaan tersebut terbagi dengan rata dan tecermin dalam aktivitas keseharian, maka itulah yang disebut kesetaraan dan keadilan. Jangan membedakan peran, hak dan kewajiban setiap anggota keluarga  karena jenis kelaminnya, niscaya akan terbangun relasi yang sehat dan memperkaya pengalaman anggota keluarga, ketika harus berhubungan dengan orang lain di luar keluarganya.

Jika standar nilai yang digunakan bukan ekslusif, tetapi nilai yang universal maka anggota keluarga akan dapat menyesuaikan dan tidak anti terhadap perbedaan. Misalnya bagaimana mempraktekan kasih sayang, saling menghormati, jujur, disiplin, etika dan sopan santun, peduli, tanggap, cekatan, peka, tahu berterima kasih  dalam kehidupan sehari-hari  maka tidak ada alasan kuatir untuk melepas anak-anak untuk meninggalkan keluarga karena berbagai alasan.

Peribahasa mengatakan, “wanita adalah tiang agama”, dan “wanita adalah tiang negara”. Untuk untuk itu, sesungguhnya harus dimulai ketika seorang wanita dan ibu menjadi peletak dasar, membangun  fondasi yang membentuk karakter bagi anak-anaknya dan anggota keluarga lainnya. Peran yang dimainkan perempuan sejak menjadi ibu, sangat penting, krusial, dan strategis.

Setiap perempuan adalah produk dari generasi sebelumnya dan akan melakukan fungsi reproduksi generasi berikutnya. Seiring dengan kemajuan zaman, maka produk yang tercipta berikutnya yang dapat mengikuti zaman dan laku “dijual” sesuai dengan kondisi dan zamannya.

Jika produk yang tercipta, generasi yang tidak “up to date”, hanya akan menjadi beban baik keluarga dan masyarakat bahkan negara. Sama dengan produk ciptaan manusia yang maju pesat, maka manusia yang menciptakan pasti lebih dari ciptaannya. Sehingga baik kualitas, tampilan dan packagingnya harus sesuai. Jangan hanya bungkusnya, tetapi juga isi baik kualitas dan kegunaannya.

Bagaimana membangun fondasi yang menghasilkan generasi “pemenang”? Sangat tergantung peran keluarga, orang tua dan khususnya ibu. Karena ada masa di mana anak-anak sangat bergantung pada ibu dan tidak dapat digantikan oleh siapapun.

Pohon akan dikenal dari “buahnya”. Tidak ada satu pohonpun diberi nama yang tidak sesuai dengan buahnya. Jadi buah itu menunjukkan pohonnya. Hanya lagu dimana buah semangka berdaun sirih. Tanaman semangka karena menghasilkan buah semangka, dst.

Dalam hal ini, menguatkan apa arti keberhasilan bagi keluarga atau lebih tepatnya orang tua didalam masyarakat sekalipun? Indikatornya, bagaimana anak-anak sebagai buah cinta akan dilihat dan ‘’dimanfaatkan’’ oleh masyarakatnya. Hidup yang berharga, bermanfaat, demikian juga hasil produksi keluarga hanya akan bermanfaat ketika masyarakat dapat memanfaatkannya bagi orang banyak.

Tentu kualitas secara umum, diukur dari bagaimana menghadapi kondisi di luar rumah, persoalan dalam hidup dan kehidupan, menjadi sosok yang dirindukan dan bukan dihindari orang lain. Untuk itu, kualitas harus dibangun atas fondasi yang menggunakan material yang baik. Bukan hanya secara kuantitas tetapi juga performance dalam relasi dengan sesama manusia lain, dan lingkungannya.

Keterampilan hidup tidak boleh hanya diserahkan pada sekolah, karena tidak akan dapat diselesaikan dengan mempertimbangkan sesuai karakteristik dan kekahasan yang dimiliki oleh setiap anak didik.

Sistem di sekolah hanya menyelesaikan bagian yang sangat kecil dari upaya membangun sumber daya manusia menjadi modal manusia sebagai faktor utama pembangunan bangsa. Proses yang berlangsung lama, intensif dan tertanam kuat dalam diri anak hanya efektif dalam proses yang intensif dilakukan selama dan dalam keluarga. Baik bersifat soft skill dan hard skill.

Ketika soft dan hard skill terbangun dalam kelenturan  dan  suatu kerangka keluarga yang berbasis nilai budaya yang bersumber dari suatu  kebiasaan, keyakinan dan agama dengan interpretasi yang hakiki dan mengembangkan nilai kesetaraan dan keadilan bertumpu dari relasi dengan sesama berbasis nilai ke-bhineka-an yang tunggal ika, dengan mengekspresikan universalitas.

Maka sebagai orang tua dan ibu akan lega dan yakin, tidak kuatir melepas anak-anak mengabdikan diri dan seluruh eksistensinya sebagai bangsa Indonesia, di tengah percaturan dan persaingan global yang tanpa ampun.

Ibu sudah berhasil memainkan perannya sebagai peletak dasar membangun fondasi karakter  mulia, dari dalam keluarga dan akan menjadi tiang yang kokoh bagi bangsa Indonesia tercinta. Selamat hari Ibu.

Dr. Mamik Indaryani M.Si.,

Penulis adalah dosen Fakultas Ekonomi dan kepala Lembaga Penelitian (Lemlit) Universitas Muria Kudus.

Info Kopertis Wilayah VI

Info RISTEKDIKTI

Tajug

Informasi, Inspirasi dan Penumbuh Harapan

Oleh Dr. Suparnyo SH. MS.

9 Februari, diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN). Untuk itu, secara pribadi maupun institusi, Saya mengucapkan Selamat Hari Pers Nasional, semoga pers kita akan semakin baik secara kualitas, sehingga benar-benar bisa mengambil peran maksimal sebagai pilar keempat demokrasi.


Kepedulian Sosial Pasca Ramadhan

Oleh H. Suparnyo

Tak terasa, Ramadhan 1437 H / 2016 M akan segera berlalu dan Idul Fitri sudah di depan mata. Selama Ramadhan, umat Islam berlomba-lomba memperbanyak amal ibadahnya, salah satunya ditandainya dengan tumbuhnya rasa kepedulian sosial atau kedermawanan.


Ramadhan dan Etos Keilmuan Santri

Oleh H. Suparnyo

Mengawali tulisan ini, atas nama pimpinan Universitas Muria Kudus (UMK), saya ucapkan selamat menunaikan puasa Rama-dhan 1347 H. / 2016 M. kepada segenap sivitas akademika UMK secara khusus dan umat Islam sedunia umumnya.


Read More

Pengunjung

06750500
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Total
646
472
1463
6747333
4686
7075
6750500

IP: 192.168.1.34
Jam Server: 2019-06-18 15:04:44

Kami memiliki 20 tamu online

UMK DI GOOGLE MAP

Polling

Menurut Anda tampilan apa saja yang perlu dibenahi dari Website UMK ?

Desain - 43.1%
Warna - 16.5%
Menu - 11.8%
Tata Letak - 23.3%
Tidak Ada - 5.3%

Total votes: 399

Fakultas

Ekonomi
Hukum
FKIP
Pertanian
Teknik
Psikologi

Pascasarjana

Ilmu Hukum

Manajemen

Pendidikan Dasar

Fasilitas

Webmail
Portal Akademik
Repository UMK
Perpustakaan
E-learning
Jurnal
Jurnal Internasional
Portal Ketrampilan Wajib
Pengabdian Masyarakat

Pusat Studi

Pusat Studi Kawasan Muria
Pusat Studi Kretek Indonesia

Pusat Studi Wanita/Gender
Pusat Studi Lingkungan
Pusat Studi Pemerintah Daerah
Pusat Studi Saint,Teknologi dan HAKI

Kemahasiswaan

Pena Kampus
KSR PMI
Menwa Gondho Wingit

Scan this QR Code!
Go to top