Memopulerkan Psikologi Jawa

Saya mengenal pertama kali nama Ki Ageng Soerjomentaram dari Ki Said, ketua Taman Siswa Jakarta, sekitar tahun 1970-an, yang ketika itu menceritakan bagaimana “local indegenius” Jawa sudah menyusun strategi kultural minimalis untuk mengatasi zaman malaise yang terjadi di masa ontran-ontran penjajahan Jepang dengan “6 Sa”-nya, yakni: “Sabutuhe, Saperlune, Sacukupe, Sapenake, Samesthine, Sabenere”.

Demikian tulis budayawan Darmanto Jatman dalam pidato saat dikukuhkan sebagai Guru Besar Psikologi di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang pada awal 2008. Menjelang akhir 2012, wacana mengenai Psikologi berkenaan dengan kebudayaan Jawa, digulirkan kembali. Adalah Afthonul Afif, melalui bukunya ‘’Ilmu Bahagia Menurut Ki Ageng Suryomentaram’’, yang mengusung kembali Psikologi Jawa ke publik.

Bagi pengkaji Psikologi Jawa, buku tersebut mungkin biasa. Tetapi paling tidak, buku itu  mengingatkan, bahwa lebih dari 50 tahun lalu, ketika Soemantri Hardjoprakoso di Rijk Universiteit Leiden menuliskan disertasi “Candra Jiwa Sunarto” dari Kitab Sasongko Jati Pangestu menjadi psikologi yang sejajar dengan ilmu jiwa Barat yang modern-positivistik.

Namun tentunya tidak cukup berhenti di situ. Kampanye psikologi Jawa agar bisa lebih membumi, harus terus digalakkan. Harapannya, ia bisa menjadi genre baru dan alat terapi kejiwaan yang bermanfaat bagi kemanusiaan. Post Kolonial-lah, umumnya kaum akademisi menyebut pendekatan yang dipakainya itu. Diakuinya, kajian tentang ke-Jawa-an tidak pernah membosankan, karena terdapat segi-segi memikat.

Tercatat Simuh yang me-ngenalkan Sufisme Jawa, Frans Magnis Soeseno dengan Filsafat dan Etika Jawa-nya, Koentjaraningrat dengan Kebudayaan Jawa, dan ada juga Kawruh Jiwa Jawa yang dibesut Darmanto Jatman menjadi Psikologi Jawa.

Bukan Ilmu Udik

Ilmu Jiwa Gambar Kramadangsa adalah salah satu bahan, yang menjadi kajian Afthonul Afif dalam bukunya, hampir tidak ada bedanya dengan Darmanto. Yang jelas, ilmu itu mengenai jiwa orang; dan jiwa adalah rasa.

Rasa itu yang membuat orang berbuat apa saja. Orang mencari air minum karena terdorong rasa haus, mencari bantal untuk tidur karena terdorong rasa kantuk; demikian seterusnya. Dengan demikian, rasa itu menandai hidup sese-orang. Kalau hanya ada badan tanpa rasa, itu disebut bangkai (maneki).

Mempelajari tentang rasa adalah mempelajari tentang orang. Begitulah kurang lebihnya. Sementara itu, kita sen-diri adalah orang. Jadi, mempelajari tentang orang, pada dasarnya adalah mempelajari tentang diri sendiri atau me-ngetahui diri sendiri (pangawikan pribadi).

Diri sendiri manakah yang dipelajari? Ialah diri sendiri yang diberi dan memiliki nama khusus. Kalau namanya Mudjahirin, merasa aku si Mudjahirin; kalau namanya Krama, merasa aku si Krama. Rasa yang bergandengan dengan namanya itu kemudian disebut Kramadangsa.

Kramadangsa itu yang menyahut bila nama dipanggil orang dan menjawab saat di-tanya. Kramadangsa menyatukan diri dengan segala rasa yang timbul dalam diri. Secara panjang lebar, struktur jiwa kramadangsa berisi tentang “rasa”, “aku” (kramadangsa), dan “mawas diri” serta bagaimana keterkaitannya. Itulah inti kajian psikologi Jawa. Agar tidak selalu dianggap ngelmu (kawruh) atau ilmu udik yang tanpa pernah naik kelas, menjadi ilmu jiwa yang sejajar dengan psikologi Barat.

Pada akhirnya, kajian tentang psikologi Jawa berikut ragam (mazhab)-nya, memang banyak, utamanya dalam psikologi umum, termasuk landasan falsafahnya. Namun, pengetahuan tentang jiwa sebagian hanya berhenti pada tataran gagasan dan konsep yang spekulatif atau ideologis.

Karenanya, diperlukan usa-ha untuk mengeksplisitkan dan mensistematisasikan masing-masing wejangan itu, untuk kemudian dibangunkan suatu ilmu pengetahuan yang padu, integral, meliputi segenap elemen, proses dan struktur kejiwaan manusia untuk menjadi psikologi Jawa umum.

Tentu, mewujudkan hal itu tidak mudah, karena kawruh-kawruh jiwa itu berasal dari berbagai babon yang sudah terlebih dahulu didirikan sebagai gagasan ideologi keyakinan. ‘Candra Jiwa Soenarto’ atau ‘Candra Jiwa Indonesia’, misalnya, yang telah ‘diakui’ ilmiah, namun sampai hari ini tidak banyak –untuk tidak mengatakan tidak ada- yang mencangkoknya.

Sebaliknya, dibalik Candra Jiwa yang ilmiah itu berdiri basis aliran kepercayaan Paguyuban Ngesti Tunggal (Pangestu), dan hingga kini masih dimasukan dalam ka-tegori ‘Kebatinan Jawa’ atau ‘Aliran Kepercayaan’ yang sedikit banyak telah me-ngalami ‘stigma’ sebagai komunitas eksklusif.

Akhirnya, psikologi Jawa bukan yang paling unggul di antara berbagai indigenous psychology atau etnopsikologi di Indonesia, hanya saja sejak mula telah ditumbuhkembangkan dalam budaya Jawa, sehingga menjadi penting mengenal budaya Jawa dengan jalan menghayati dan merasakanya.

Ki Ageng Suryomentaram tentu juga menciptakan teori psikologi Jawa bukan hanya dikarenakan dirinya orang Jawa. Tapi pastinya ia mempunyai harapan kelak ajarannya bisa jadi relevan, dan tidak ha-nya terbatas bagi orang Jawa saja. Sebagaimana diketahui, bahwa teori psikologi sebenar-nya tidak terbatas dengan kewarganegaraan dan letak geografis, apalagi etnisitas.

Apresiasi

Ini sekaligus untuk ‘me-ngundang’ yang lain agar mewacanakan psikologi etniknya serta menerapkanya dalam ‘sharing’ kawruh yang lebih terbuka, saling beri-dapat. Dengan begitu, diharapkan lahir satu wacana psikologi Indonesia yang lebih fungsional menuju cultural-spiritual humanistic. Satu proses penyempurnaan ilmu pengetahuan sebagaimana pernah diutarakan Peter L. Berger dalam ‘The Sociology of Knowledge’-nya.

Itu bukan hal mustahil untuk terwujud, meski kenyataanya tidak mudah mengembangkan ajaran Ki Ageng Suryomentaram menjadi teori psikologi, terutama agar bisa diajarkan di perguruan tinggi. Namun, usaha untuk terus mengembangkan psikologi lokal ini selayaknya diapresiasi.

Pasalnya, sebagian besar teori psikologi yang diajarkan sekarang, lebih berkiblat pada teori psikologi Barat, yang kebanyakan dikembangkan oleh tokoh-tokoh psikologi dari Bangsa Yahudi. Sehingga, jelas tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia, yang tentu sangat berbeda dengan budaya Yahudi.

Oleh sebab itu, menjadi begitu mendesak harapan bahwa psikologi ‘ala Ki Ageng Surya Mentaraman ini di kemudian hari bisa dijadikan teori psikologi khas Indonesia, untuk segera diwujudkan. Atau malah ke depan, bisa menjadi mazhab psikologi Nusantara.

Sebab, bukan tidak mungkin impian, psikologi yang diajarkan pada periode-periode selanjutnya di perguruan-perguruan tinggi negeri ini, tidak lagi bersumber dari Barat, melainkan bersumber dari khazanah (budaya) Indonesia sendiri. Semoga. (*)

 

M. Nafiul Haris,

Penulis dan kolumnis, mantan peneliti el-Wahid Center Semarang.