Nasionalisme Kaum Muda

Mochamad Widjanarko

Nasionalisme menjadi kata baku yang hanya dipahami, ketika individu sudah mengaku berbahasa, berbangsa dan bertanah air satu: Indonesia. Pertanyaannya, milik siapakah nasionalisme itu? Olahragawan yang menuai kemenangan di Olimpiade? Milik ketua partai yang memiliki kader mumpuni dalam berpolitik? Atau milik para birokrat yang merasa sudah bekerja untuk rakyat?

Terlalu sempit kiranya, jika mengotak-kotakkan nasionalisme in group dan out group; ini nasionalisme kami dan itu nasionalisme kamu. Sebab, nasionalisme perlu dioperasionalkan, dijabarkan dalam tindakan nyata dan perilaku keseharian, bahkan dalam hal yang nampaknya remeh, namun memiliki manfaat besar (luas).

Perilaku tidak melakukan korupsi, misalnya, yang kemudian ditiru satu orang, berkembang menjadi puluhan, ratusan, ribuan, dan seterusnya, adalah contoh kecil dari bentuk nyata nasionalisme, namun dampaknya sangat besar. Dengan tidak korupsi, negara akan makmur dan pembangunan tidak terhambat.

Namun tidak sedikit dari kita yang justru gagal fokus dan terjebak (menjebakkan diri?) dalam masalah tidak bermanfaat, seperti mencerca, melakukan muslihat, dan perilaku lain yang tidak beradab.

Bagaimana dengan generasi muda? Pemuda mestinya seperti peluru, yang setelah dilepaskan, pelornya akan menerjang  jarak dan waktu, kemudian berhenti pada titik tembak. Artinya, pemuda harus penuh dengan gelora, semangat, kreatif, berdikari, dan tidak takut gagal dalam menjalankan aktivitas.

Meminjam bahasanya Nugroho (2016), nasionalisme kaum muda itu bisa mewujud dalam beragam aktivitas; menyeruak mendirikan komunitas independen sesuai hobi, membangun gerakan solidaritas, menata kota agar nyaman dan ramah lingkungan, berwirausaha, hingga mendorong sistem politik yang responsif dan terbuka, agar pemerintah bekerja optimal, benar dan akuntabel.

Beragam aktivitas itu sangat mungkin dilakukan, mengingat energi kaum muda itu murni tanpa dosa politik generasi terdahulu, tidak menyalahkan masa lalu, dan mau belajar untuk mengetahui sejarah bangsa.       

Tetapi harus diingat, untuk ‘menjadi peluru’, tidak sekadar dibentuk oleh ilmu atau pengetahuan yang didapat di bangku pendidikan formal. Melainkan ditempa dengan landasan budi pekerti positif dari lingkungan terdekat, ya-itu orang tua dan lingkungan sekitar.

Lingkungan terdekat itulah yang mengajar kaum muda menghargai keragaman sosial, budaya dan kehidupan, sehingga mereka menjalani kehidupan dengan berproses, belajar, dan kerja keras.

Ya, menjadi muda yang nasionalis, tentu akan lebih memiliki arti karena secara tidak langsung, akan memunculkan kesadaran personal bahwa masa depan bangsa dan Negara, ada di tangannya.

Sehingga, sikap masa bodoh, pesimistis dan apatis akan isu-isu yang berkembang di negeri ini, merupakan hal yang harus dikikis habis dalam kehidupan kaum muda: kaum muda harus melek permasalahan pendidikan, sosial, ekonomi, sandang, pangan, ekologi, politik, lingkungan dan apa saja yang ada.

Kini saatnya kaum muda menjadi generasi bangsa yang tangguh, kritis dan berani bertanggung jawab akan perilakunya, sebagai pewaris masa depan negeri ini. (*) 

 

Mochamad Widjanarko,

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus.