Menu

Mendamba Dosen Berintegritas

M. Nafiul Haris

Meski kini banyak slogan bertebaran dalam buku-buku maupun dunia maya bahwa "menulis itu mudah", kenyataannya tidak sedikit para dosen yang mengajar di Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia memperoleh kesulitan kenaikan pangkat karena prasyarat dalam tri dharma tidak terpenuhi.

Satu syarat dalam tri dharma yang berkaitan disini adalah dunia menulis,  karya ilmiah hasil dari penelitian. Akibatnya, plagiat menjadi alternatif pilihan bagi para dosen yang hanya mengejar pangkat belaka. Membaca Tribunnews.com (15/8/16) sebagaimana keterangan Direktur Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Ali Gufron Mukti dari 4.512 yang mengikuti proses sertifikasi dosen terdapat 1.580 dosen tak lulus sertifikasi salah satu penyebabnya karena plagiarisme.

Pada 2011 lalu juga terjadi hal yang sama seorang guru besar di Universitas Riau yang juga bekas dekan FKIP justru melakukan tindakan yang tak terpuji itu. Buku yang ditulisnya, berjudul Sejarah Maritim ternyata, merupakan  hasil copy-paste dari buku budaya bahari yang ditulis Mayjen Purn. Joko Pramono. Fenomena ini, secara tidak langsung adalah wujud di mana budaya jujur para dosen kita  sudah mulai luntur. Serta, kreativitas dan kredibilitas seorang dosen patut dipertanyakan. Dosen yang seharusnya mentradisikan menulis untuk para siswanya justru malah sebaliknya.

 Padahal, jika ditelaah seorang dosen mempunyai banyak gagasan, pengetahuan yang luas sehingga cukup untuk dituliskan. Ironisnya, plagiarisme masih menjadi hal menarik untuk dilakukan para dosen kita. Memang mudah meniru itu, tak usah bersusah-payah meriset, membaca buku dan sebagainya untuk menghasilkan sebuah karya, tinggal copy sana-sini jadilah sebuah karya tulis. Namun, semua itu akan berakibat buruk terhadap citra sivitas akademika juga integritas dosen itu sendiri.

Bencana Akademis

 Akibatnya, buat pendidikan terutama sekolah (kampus) perilaku plagiat tadi bisa dianggap sebagai bencana akademis. Belum lagi, dengan kasus-kasus lain seperti penganugerahan gelar doktor kehormatan (honoris causa) yang seringkali menuai pro dan kontra sehingga diprotes banyak kalangan.

Fenomena-fenomena itu semakin menyudutkan  kampus di mana etika instansi dipertanyakan. Institusi kampus, di mana banyak orang berharap adanya kejujuran namun masih kecolongan juga. Pada saat ini,  bagi seorang dosen selain aktivitasnya mengajar sebagai wujud pengabdian masyarakat adalah mentradisikan menulis. Hal inilah, yang menjadi titik lemah dan sulit untuk dilakukan bagi kebanyakan dosen.

Masalahnya, seberapa banyak laporan penelitian dan karya ilmiah yang dapat ditulis dan dipublikasikan seorang dosen dalam kurun waktu tertentu. Seiring dengan itu, rendahnya standar kompetensi dan profesionalisme mengajar dosen juga dilematis. Dengan demikian, mengakibatkan banyaknya dosen yang melakukan plagiarisme demi menaikkan pangkat (sertifikasi) seperti yang dilakukan oleh ribuan dosen tersebut. Kasus diatas, bisa menjadi bukti sahih, betapa para dosen kita ini masih belum bisa mentradisikan menulis.

Kita tentu tidak ingin kasus diatas terjadi di universitas lain. Karena satu dosen memplagiat semua pengajar kena getahnya. Untuk itu, pada masa mendatang, verifikasi insan kampus atas karya yang dihasilan sivitas akademikanya mesti lebih diperketat, apalagi yang berkenaan dengan buku, jurnal dan sebagainya. Sebab, tanpa verifikasi yang ketat, sebuah karya akan meluncur begitu saja tanpa seleksi. Komite etik tiap kampus mesti semakin awas dalam mengawasi setiap bentuk karya yang dihasilkan para dosen.

Namun, kita juga mesti bijak melihatnya, bahwa yang terjadi ini hanyalah oknum. Tidak serta merta semua pelaku pendidikan punya kans melakukan praktek haram semacam itu. Yang punya integritas masih banyak, yang jujur dalam menulis juga demikian. Ini hanya sampel kasus yang tak bisa digeneralisasi. Yang mesti diperketat tentu saja dalam proses sertifikasi dosen.

Lihat semua karya yang mereka lampirkan dalam proses itu, apakah ada bibit plagiat atau tidak. Tentunya bahan bacaan penilai harus banyak karena tanpa itu, pisau pengawasan akan tumpul. Termasuk juga membaca jurnal berbahasa Inggris karena bisa terjadi menjiplak dari sana. Semua pintu yang berpeluang menciptakan plagiarisme harus ditutup. Dengan seleksi yang ketat, kredibilitas kampus juga terjadi.

Dosen Harapan

Solusi mengatasi masalah plagiat sebenarnya sederhana, maukah para dosen kita menuliskan sumber sebenarnya bahan-bahan yang diperoleh. Kemudian, ide-ide orisinalitas yang dimiliki tetap harus dimunculkan. Bukankah menulis itu adalah kemahiran dan seni mengelola kemampuan yang dimiliki (Birnbaum:1992).

Ini memang soal kemauan dan integritas, ketika kita memutuskan dan memilih profesi menjadi dosen. Karena itu, ke depan, perguruan tinggi tidak bisa lagi seperti menara gading yang indah dipandang dari jauh, tetapi tidak memiliki cukup kontribusi bagi penyelesaian permasalahan kebangsaan dan kemanusiaan universal. Perguruan tinggi semacam itu lama-kelamaan akan ditinggal stakeholder mereka sendiri.

Kita memimpikan perguruan tinggi yang secara konsisten dapat menampilkan dosen-dosen yang tidak saja solutif bagi masalah-masalah kekinian, tetapi juga berintegritas tinggi dan menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran. Seorang dosen pasti memiliki sisi keunikannya. Ini bisa dilihat dari gaya, mood dalam menulis, kekuatan ekspresi asli dalam pengungkapan kata demi kata, kemudian muncul dalam karakter dari masing-masing tulisan yang dihasilkan.

Bakat setiap orang pasti berbeda, antara yang satu dengan lainnya. Komposisi semua hal tersebut, akan menciptakan sebuah tulisan otentik yang akan menambah kaya khasanah ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, seorang dosen tidak usah takut untuk menulis, karena orang pasti tahu apakah itu tulisan kita yang sebenarnya atau bukan.

Yakinlah, golongan kepegawaian tidak usah dikejar, apalagi dengan cara-cara yang tidak benar. Apabila kultur menulis telah terbentuk dengan baik, dengan sendirinya struktur akan menghampiri kita. Menulis itu tidak sulit, yang sulit bila kita tidak mau memulai. Namun semua itu tentu harus dibarengi dengan kejujuran. (*)

 

M. Nafiul Haris,

Staf redaksi website dan Tabloid INFO MURIA Universitas Muria Kudus. Artikel ini dimuat di Koran Wawasan, Selasa 20 September 2016

Info Kopertis Wilayah VI

Info RISTEKDIKTI

Tajug

Informasi, Inspirasi dan Penumbuh Harapan

Oleh Dr. Suparnyo SH. MS.

9 Februari, diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN). Untuk itu, secara pribadi maupun institusi, Saya mengucapkan Selamat Hari Pers Nasional, semoga pers kita akan semakin baik secara kualitas, sehingga benar-benar bisa mengambil peran maksimal sebagai pilar keempat demokrasi.


Kepedulian Sosial Pasca Ramadhan

Oleh H. Suparnyo

Tak terasa, Ramadhan 1437 H / 2016 M akan segera berlalu dan Idul Fitri sudah di depan mata. Selama Ramadhan, umat Islam berlomba-lomba memperbanyak amal ibadahnya, salah satunya ditandainya dengan tumbuhnya rasa kepedulian sosial atau kedermawanan.


Ramadhan dan Etos Keilmuan Santri

Oleh H. Suparnyo

Mengawali tulisan ini, atas nama pimpinan Universitas Muria Kudus (UMK), saya ucapkan selamat menunaikan puasa Rama-dhan 1347 H. / 2016 M. kepada segenap sivitas akademika UMK secara khusus dan umat Islam sedunia umumnya.


Read More

Pengunjung

06805722
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Total
212
248
2046
6800280
5442
15138
6805722

IP: 192.168.1.34
Jam Server: 2019-12-14 04:55:15

Kami memiliki 20 tamu online

UMK DI GOOGLE MAP

Polling

Menurut Anda tampilan apa saja yang perlu dibenahi dari Website UMK ?

Desain - 43.1%
Warna - 16.5%
Menu - 11.8%
Tata Letak - 23.3%
Tidak Ada - 5.3%

Total votes: 399

Fakultas

Ekonomi
Hukum
FKIP
Pertanian
Teknik
Psikologi

Pascasarjana

Ilmu Hukum

Manajemen

Pendidikan Dasar

Fasilitas

Webmail
Portal Akademik
Repository UMK
Perpustakaan
E-learning
Jurnal
Jurnal Internasional
Portal Ketrampilan Wajib
Pengabdian Masyarakat

Pusat Studi

Pusat Studi Kawasan Muria
Pusat Studi Kretek Indonesia

Pusat Studi Wanita/Gender
Pusat Studi Lingkungan
Pusat Studi Pemerintah Daerah
Pusat Studi Saint,Teknologi dan HAKI

Kemahasiswaan

Pena Kampus
KSR PMI
Menwa Gondho Wingit

Scan this QR Code!
Go to top