Menu

Sesat Pikir Kelompok Anti-Tembakau

Oleh Zamhuri

Pelbagai pendapat negatif bahkan bernada sinis kelompok anti-tembakau terhadap Industri Hasil Tembakau (IHT), seakan tak ada ujung pangkalnya. Kelompok ini senantiasa berupaya sekuat tenaga IHT tidak sekadar dibatasi, tetapi melenyapkan.

Inilah yang menurut hemat penulis, merupakan pemikiran sesat atas penemuan putra bangsa dan produk asli Indonesia, dengan tidak menghargai, apalagi ikut menjaganya. Dalih yang dikemukakan pun selalu sama: rokok merugikan kesehatan.

Rokok kretek yang ditemukan oleh H. Djamhari, pengusaha asal Kudus, dalam penelitian yang dilakukan oleh sejarawan Edy Supratno (2014), mulanya adalah sebagai obat. Dikisahkan, saat Djamhari menderita sakit asma, dia mengoleskan minyak cengkih didadanya.

Setelah dia mengoleskan minyak cengkis di dadanya, dia merasakan berangsur-angsur penyakit asmanya hilang. Maka Djamhari melakukan ‘’uji coba’’ cengkih dibungkus dengan daun tembakau kering, lalu dibakarnya untuk dikonsumsi.

Saat campuran antara cengkih dan tembakau ini dibakar, didapatilah bunyi kemeretek, sehingga kemudian dikenallah penemuannya dengan ‘’rokok’’ kretek. Dan penemuan Djamhari itu, mengilhami berdirinya perusahaan-perusahaan rokok di tanah air, yang menyerap puluhan juta tenaga kerja.

Ada dua hal penting yang kiranya bisa dikemukakan di sini terkait kretek ini. Pertama; penemuan anak bangsa. Penemuan kretek oleh Djamhari ini, mestinya mendapatkan apresiasi dari pemerintah dan masyarakat nasional sampai kapan pun, apalagi melihat fakta kekinian, di  mana industri di sektor ini memberikan sumba-ngan yang tak terperikan bagi masyarakat dan bangsa.

Menarik untuk dikritisi, gerakan kelompok anti-tembakau yang mati-matian mendorong pemerintah untuk mengendalikan IHT. Sebab, pada masa orde baru, saat Menteri Dalam Negeri (Mendagri) dijabat Soepardjo Roestam, sang menteri memberikan apresiasi positif terhadap kretek.

Hasil penelitian Edy Supratno menyebutkan, ada dua hal penting apresiasi Soepardjo Roestam, yaitu meminta pihak pemerintah kabupaten dan institusi terkait untuk menelusuri jejak sang penemu kretek yang tidak diketahui keberadaannya dan meminta dibuatkan tari kretek yang kini menjadi tarian khas Kabupaten Kudus.

Kedua;perkuat ekonomi kerakyatan. Tidak akan ada yang menyangkal, betapa besar peranan industri sektor IHT ini dalam memperkuat ekonomi kerakyatan. Sekitar 30 juta warga ne-gara ini menggantungkan penghidupan (perekonomiannya) dari IHT.

Untuk itu, sebenarnya tidak ada alasan menolak keberadaan kretek di Indonesia, selain alasan ‘’pesanan’’ dari institusi (lembaga) atau perusahaan yang memiliki kepentingan pertaru-ngan pasar global, melalui kekuatan uang yang digelontorkan untuk membiayai penolakan atas kretek tersebut.

Lebih Bijak  

IHT di Indonesia, sebenarnya sudah ada pada beberapa dekade sebelum bumi pertiwi memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Berdasarkan catatan Van Der Reijden, dari tahun 1929 hingga 1934, diketahui bahwa di Blitar, Tulungagung, Kediri, dan Nganjuk (Jawa Timur), kebanyakan usaha yang dikembangkan saat itu adalah industri kretek (Margana dkk, 2014).

Industri kretek ini menjadi dimensi lain dalam peta perjuangan Indonesia pada masa revolusi, khususnya setelah diterapkannya politik etis oleh pemerintah kolonial. Ini memunculkan peta nasionalisme tersendiri, yaitu kegigihan pengusaha bumiputra berjuang melawan dominasi ekonomi kapitalistik kolonial, untuk me-ngangkat dan menegakkan martabat ekonomi bumiputra.

Ini adalah fakta sejarah mengenai keberadaan kretek (IHT) yang tidak bisa diingkari. Sebuah fakta yang mestinya bisa  membuat masyarakat di negeri ini bijak melihat keberadaan IHT dan turut menjaga keberlangsungannya.

Jika di masa-masa awal kehadiran IHT ini menjadi bagian penting yang memunculkan peta nasionalisme pengusaha bumiputra berjuang melawan dominasi ekonomi kapitalistik kolonial, serta mengangkat dan menegakkan martabat ekonomi bumiputra, maka kondisi itu sebenar-nya tak jauh berbeda dalam konteks kekinian.

IHT, dan tentu saja sektor perekonomian lain yang dimiliki negeri ini, harus didorong dan dilindungi dengan regulasi-regulasi, agar keberadaannya bisa maksimal dalam kerangka berperan dalam pembangunan bangsa dan memartabatkan ekonomi nasional.

Untuk itu, ada beberapa hal yang kiranya mesti diperhatikan oleh pemerintah dan masyarakat luas di negeri ini. Pertama; tinjau ulang kebijakan-kebijakan yang menyudutkan keberadaan IHT. Sebab, ia merupakan heritage karya anak bangsa yang memiliki kekhasan, serta ikut berkontribusi dalam perjuangan kemerdekaan.

Kedua;memperhatikan kelangsungannya. IHT merupakan industri padat karya yang mampu bertahan dalam goncangan ekonomi global sedahsyat apapun. Puluhan juta warga negara Indonesia bekerja di sektor IHT, sehingga tsunami pengangguran akan melanda kelangsungan industri ini tidak dijaga sehingga eksistensinya terancam.

Ketiga;dharma bakti pada negeri. Industri kretek di Indonesia, memiliki peran yang sangat besar dalam berbagai sektor, mulai dari pendidikan melalui beasiswa bagi pelajar dan mahasiswa yang disediakan, partisipasinya di bidang pengembangan olah raga, pelestarian lingku-ngan, hingga seni-budaya.

Berbagai hal ini, mestinya bisa menjadi pertimbangan kelompok anti-tembakau dan masyarakat pada umumnya, untuk memahami dan memandang IHT lebih bijak. Bahwa keberadaan IHT ini tidak sekadar soal kelangsungan industri, tetapi juga soal puluhan juta masyarakat yang menggantungkan perekonomiannya dari sektor ini. Semoga. (*)

 

Zamhuri,

Peneliti Pusat Studi Kretek Indonesia (Puskindo) Universitas Muria Kudus (UMK)

Info Kopertis Wilayah VI

Info RISTEKDIKTI

Tajug

Informasi, Inspirasi dan Penumbuh Harapan

Oleh Dr. Suparnyo SH. MS.

9 Februari, diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN). Untuk itu, secara pribadi maupun institusi, Saya mengucapkan Selamat Hari Pers Nasional, semoga pers kita akan semakin baik secara kualitas, sehingga benar-benar bisa mengambil peran maksimal sebagai pilar keempat demokrasi.


Kepedulian Sosial Pasca Ramadhan

Oleh H. Suparnyo

Tak terasa, Ramadhan 1437 H / 2016 M akan segera berlalu dan Idul Fitri sudah di depan mata. Selama Ramadhan, umat Islam berlomba-lomba memperbanyak amal ibadahnya, salah satunya ditandainya dengan tumbuhnya rasa kepedulian sosial atau kedermawanan.


Ramadhan dan Etos Keilmuan Santri

Oleh H. Suparnyo

Mengawali tulisan ini, atas nama pimpinan Universitas Muria Kudus (UMK), saya ucapkan selamat menunaikan puasa Rama-dhan 1347 H. / 2016 M. kepada segenap sivitas akademika UMK secara khusus dan umat Islam sedunia umumnya.


Read More

Pengunjung

06987986
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Total
1097
1589
8242
6966130
9168
36605
6987986

IP: 192.168.1.45
Jam Server: 2020-08-08 19:10:26

Kami memiliki 23 tamu online

UMK DI GOOGLE MAP

Polling

Menurut Anda tampilan apa saja yang perlu dibenahi dari Website UMK ?

Desain - 43.1%
Warna - 16.5%
Menu - 11.8%
Tata Letak - 23.3%
Tidak Ada - 5.3%

Total votes: 399

Fakultas

Ekonomi
Hukum
FKIP
Pertanian
Teknik
Psikologi

Pascasarjana

Ilmu Hukum

Manajemen

Pendidikan Dasar

Fasilitas

Webmail
Portal Akademik
Repository UMK
Perpustakaan
E-learning
Jurnal
Jurnal Internasional
Portal Ketrampilan Wajib
Pengabdian Masyarakat

Pusat Studi

Pusat Studi Kawasan Muria
Pusat Studi Kretek Indonesia

Pusat Studi Wanita/Gender
Pusat Studi Lingkungan
Pusat Studi Pemerintah Daerah
Pusat Studi Saint,Teknologi dan HAKI

Kemahasiswaan

Pena Kampus
KSR PMI
Menwa Gondho Wingit

Scan this QR Code!
Go to top